Gereja Generasi Apostolik

Emotionally Healthy Relationships
Day by Day - (Devotional)
Dalam kehidupan jemaat, relasi yang sehat bukan hanya soal komunikasi yang baik, tetapi juga cerminan kedewasaan rohani kita di dalam Kristus. Banyak orang beriman yang rajin melayani, berdoa, dan membaca Firman, tetapi masih bergumul dengan luka, konflik, atau pola hubungan yang tidak sehat. Emotionally Healthy Relationships hadir untuk menolong kita mengalami pemulihan yang nyata—belajar mendengar dengan empati, berbicara dengan jujur tanpa melukai, dan membangun kedekatan yang lahir dari kasih Tuhan yang memerdekakan.
Sebagai gereja Generasi Apostolik, kita dipanggil bukan hanya untuk berakar dalam kebenaran Firman, tetapi juga untuk mewujudkannya dalam hubungan sehari-hari. Dengan mempraktikkan keterampilan rohani dan emosional yang diajarkan dalam Emotionally Healthy Relationships, setiap jemaat diperlengkapi untuk membangun keluarga, komunitas, dan pelayanan yang kokoh. Inilah jalan menuju pertumbuhan yang utuh—di mana kedewasaan rohani berjalan seiring dengan kedewasaan emosional, sehingga Kristus nyata melalui cara kita mengasihi satu sama lain.
Minggu 1
Mengukur Temperatur Komunitas Anda
Salah satu tindakan kasih yang paling nyata dan memuliakan Allah di dalam hubungan-hubungan kita adalah berbicara dengan cara yang sehat dan mengasihi. Faktanya, sebagian dari mengapa Allah memberi kita karunia berkata-kata adalah untuk mengekspresikan diri kita dan untuk memelihara hubungan-hubungan yang memberi kehidupan. Namun demikian, hubungan-hubungan kita seringkali stagnasi atau menderita karena kita tidak yakin bagaimana cara memelihara hubungan dengan benar.
Ketika kita memakai keahlian untuk Melakukan Pengukuran Komunitas Anda, kita dengan sengaja memakai kata-kata untuk mengekspresikan diri kita dan memelihara hubungan-hubungan dengan cara yang praktis, seperti menyampaikan apresiasi, membagi harapan dan impian, dan menyatakan keluhan secara dewasa. Inilah caranya bagaimana kita mengambil langkah-langkah pertama dalam mempersatukan/integrasi kasih yang bertumbuh bagi Allah dengan kasih yang semakin bertumbuh kepada sesama dan diri kita sendiri.
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Yohanes 15:4-5, 8-9, 12
4 Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. 5 Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. 8 Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku. 9 Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. 12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.
Renungan
Mengasihi dengan baik adalah inti (esensi) dari kerohanian sejati. Hal ini membutuhkan pengalaman berhubungan dengan Allah, dengan sesama, dan dengan diri sendiri. Namun, hal ini dimulai dengan tanggapan kita terhadap undangan Allah untuk mempraktikkan hidup dalam hadirat-Nya dalam kehidupan sehari-hari kita. Kemudian, Allah mengundang kita untuk “mempraktikkan hadiratnya sesama” di dalam kesadaran akan hadirat-Nya. Tetapi belajar untuk mempraktikkan hadirat-Nya bukanlah tugas kecil. Mungkin tidak ada guru yang lebih hebat untuk memberi kita pewahyuan tentang cara mempraktikkan hadirat Allah selain Brother Lawrence, seorang biarawan Karmelit dari Paris yang kurang dikenal dari abad ke-16. Ia memutuskan untuk hidup dalam kesadaran terus menerus akan hadirat Allah, untuk tidak pernah melupakan-Nya setiap saat. Bahkan, ia menjelaskan bahwa doa memperkuat kesadaran akan hadirat Allah. Kata-kata ini dari Brother Lawrence telah melayani saya dengan baik selama bertahun-tahun, menolong saya untuk tetap berada di dalam Yesus ketika pikiran saya teralihkan. Waktu kesibukan… tidaklah berbeda dari waktu berdoa; dan dalam kebisingan dan keramaian di dapur, selagi beberapa orang memanggil saya untuk hal-hal yang berbeda pada saat yang sama, saya memiliki Allah di dalam saya sebagai ketenangan yang luar biasa, seolah-olah saya berlutut.… Apa yang saya buat sebagai kesibukan saya hanyalah untuk tetap di dalam hadirat-Nya yang suci… yang saya dapat sebut sebagai hadirat Allah yang sebenarnya; atau, untuk arti yang lebih baik, sebuah percakapan jiwa yang diam, rahasia, dan terbiasa dengan Allah. Yesus mengatakannya dengan sederhana: Jika kita tetap di dalam-Nya, mengizinkan diri kita untuk dipegang dalam pelukan-Nya, hidup Nya akan meluap dari kita kepada sesama. Jika kita memilih untuk tidak berada di dalam-Nya, kita hanya akan memiliki sedikit, jika memang ada, untuk diberikan kepada sesama.
Pertanyaan Refleksi
Kapankah anda dapat memberi waktu yang tidak terganggu setiap hari untuk mulai memperkuat kesadaran akan hadirat Allah?
Doa
Tuhan, mudah sekali bagi saya untuk menghabiskan keseharian saya tanpa mengingat atau berpikir tentang Engkau. Dan lebih mudah untuk saya untuk mengabaikan keindahan-Mu dalam orang-orang di sekitar saya. Ubahlah cara-cara berhubungan saya yang tidak sehat dan yang berakar sangat dalam di dalam saya. Bentuklah saya menjadi orang yang memberikan kelembutan dan kebaikan-Mu kepada mereka yang saya temui hari ini. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Berdiam dan tenang memusatkan pikiran di hadapan Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Roma 7:18b–21, 24–25
Roma 7:18b–21
Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku. Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.
Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita! Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.
Renungan
Jean Vanier adalah pendiri L’Arche, sebuah jaringan internasional yang terdiri dari 147 komunitas di tiga puluh lima negara, bagi orang-orang dengan disabilitas mental dan fisik. Ketika Vanier mengunjungi Prancis pada tahun 1963, ia pertama kali berjumpa dengan para pria yang tinggal di rumah sakit jiwa yang dikelola oleh pemerintah, dan ia segera memahami bahwa mereka adalah “orang-orang yang paling tertindas di planet ini.” Komunitas L’Arche yang pertama dimulai beberapa bulan kemudian ketika ia mengundang dua orang, Raphael Simi dan Philippe Seux, untuk meninggalkan institusi tempat mereka tinggal dan hidup bersamanya di sebuah desa kecil di utara Paris. Pemahamannya tentang panggilan kita serta kesulitan untuk mengasihi dengan benar sangatlah mendalam dan kuat.
Hidup bersama pria dan wanita dengan disabilitas mental telah menolong saya memahami apa artinya hidup dalam persekutuan dengan seseorang. Hidup dalam persekutuan berarti hadir bersama seseorang … menerima orang apa adanya, dengan segala keterbatasan dan luka batin mereka, namun juga dengan karunia dan keindahan yang mereka miliki … melihat keindahan di balik semua rasa sakit. Mengasihi seseorang pada dasarnya bukanlah pertama-tama melakukan banyak hal bagi mereka, melainkan menyingkapkan kepada mereka keindahan dan nilai diri mereka, menyampaikan melalui sikap kita: “Engkau berharga. Engkau penting. Aku percaya kepadamu. Engkau dapat mempercayai dirimu sendiri …”
Persekutuan itu tidak datang dengan mudah bagi saya … Ketika saya mulai hidup bersama orang-orang seperti Raphael dan Philip, saya mulai melihat kekerasan hati saya sendiri … Raphael dan yang lainnya sesungguhnya hanya merindukan persahabatan, namun saya tidak sungguh tahu bagaimana menanggapinya karena adanya kekuatan-kekuatan lain di dalam diri saya, yang menarik saya untuk terus mengejar kedudukan dan keberhasilan … Mereka mengajarkan saya bahwa di balik kebutuhan untuk menang, tersembunyi ketakutan dan kegelisahan saya sendiri: takut diremehkan atau disingkirkan, takut membuka hati dan menjadi rentan, atau merasa tidak berdaya di hadapan penderitaan orang lain; di sanalah ada rasa sakit dan kepatahan hati saya sendiri.Saya menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah saya hadapi, yaitu adanya kekuatan kegelapan dan kebencian yang begitu besar di dalam hati saya sendiri.
Perjalanan Vanier untuk bertumbuh dalam kasih memaksanya menghadapi kejahatan dan kekerasan yang ada di dalam hatinya sendiri. Namun demikian, di tengah kepatahannya, Allah menjumpainya dan mengajarkannya bahwa kasih lebih dari sekadar melakukan sesuatu bagi orang lain; kasih adalah menyingkapkan kepada mereka “keindahan dan nilai diri mereka.” Kiranya Allah menjumpai Anda dan mengajarkan kebenaran yang sama dan penuh kuasa ini ketika Anda berusaha mengasihi sesama pada hari ini.
Pertanyaan Refleksi
Keindahan siapa yang mungkin sedang Anda abaikan karena Anda terlalu sibuk atau terdistraksi?
Doa
Tuhan, ketika aku menyadari bahwa mengasihi berarti menyingkapkan keindahan dan nilai diri orang lain, aku melihat kekerasan hatiku sendiri. Ampuni dan tahirkanlah aku. Tolonglah aku untuk sungguh-sungguh mengasihi orang lain, untuk menyampaikan melalui sikap hidupku: “Engkau berharga. Engkau penting. Aku percaya kepadamu. Engkau dapat mempercayai dirimu sendiri.” Bentuklah aku menjadi serupa dengan-Mu, agar aku dapat mengasihi orang-orang di sekitarku seperti Engkau mengasihi. Dalam nama Yesus, amin
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Lukas 15:20b-32
Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. 21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi.22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba hambanya: Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. 23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. 24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. 25 Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. 26 Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. 27 Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. 28 Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. 29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. 30 Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. 31 Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. 32 Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.”
Renungan
Dalam perumpamaan tentang Anak Terhilang, kita belajar bahwa kapan pun kita menjauh dari kasih Bapa, kita terhilang. Kita dapat melihat ini dalam anak bungsu yang memberontak melawan ayahnya dan melarikan diri dari rumah. Kita juga dapat melihatnya dalam anak sulung yang tetap taat kepada Bapa tetapi sama-sama terhilang. Ia juga telah menjauh dari kasih Bapa. Seperti yang ditulis Henri Nouwen: Keterhilangan dalam anak yang sulung… lebih sulit untuk diketahui. Lagipula, ia melakukan semua hal yang baik. Ia penurut, patuh, taat kepada hukum, dan pekerja keras.… Kelihatannya, anak sulung itu tidak bersalah. Tetapi ketika dihadapi oleh kebahagiaan ayahnya karena adiknya yang kembali, sebuah kekuatan gelap meletus di dalamnya dan meluap ke permukaan.… Ada banyak anak-anak sulung yang terhilang walaupun masih di rumah. Dan keterhilangan ini - dicirikan dengan penghakiman dan penghukuman, kemarahan dan kebencian, kepahitan dan kecemburuan - yang sangat jahat dan merusak hati manusia.… Ada banyak sekali amarah beku di antara orang-orang yang sangat khawatir tentang menghindari “dosa”.… Saya mengenal anak sulung di dalam saya. Seringkali saya menemukan diri saya mengeluh tentang penolakan kecil, ketidaksopanan kecil, pengabaian kecil. Berulang kali saya menemukan bahwa di dalam saya, bersungut, merengek, menggerutu, meratap, dan mencengkeram terus menerus ada, bahkan melawan kehendak saya.
Perumpamaan Yesus tentang Anak Terhilang mengingatkan kita akan betapa cepatnya dan mudahnya kita bisa menjadi anak sulung - pahit, menghakimi, menggerutu, cemburu, dan angkuh. Perumpamaan tersebut juga memberi kita salah satu gambaran paling jelas di dalam Firman akan kasih Allah, kasih yang mengundang kita untuk berbalik kepada-Nya lagi dan lagi, sepanjang hari dan setiap hari.
Pertanyaan Refleksi
Bagian-bagian di dalam hidup anda yang mana saja dimana pengejaran anda untuk “menyelesaikan segala hal” atau “melakukan hal yang baik” lebih penting kepada anda daripada mencari hubungan kasih dengan Allah dan dengan sesama?
Doa
Bapa, sangat mudah bagi saya untuk terhilang di dalam kemarahan, kebencian, atau kecemburuan kepada sesama, dan gagal untuk mendengar suara-Mu yang penuh kasih memanggil saya pulang. Cairkanlah kebencian dan sifat tidak memaafkan saya kepada sesama dengan kasih-Mu. Dan bebaskan saya untuk mengasihi sesama dengan kasih-Mu. Dalam nama Yesus, Amin
Simpulkan dengan Berdiam (2 Menit)
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: 1 Yohanes 4:10, 15-16, 18a
Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.…
15 Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. 16 Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada didalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.…
18a Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan.
Pembacaan Firman
Untuk Rasul Yohanes, belajar untuk hidup dalam kebesaran kasih Allah adalah kekuatan dan sumber agar kita dapat mengasihi sesama. Kasih Allah selalu yang pertama. Søren Kierkegaard, seorang filsuf dan ahli agama dari Denmark (1813-1855), menyimpulkannya dengan baik: Engkau telah mengasihi kami lebih dulu, ya Allah! Kami memberitakannya berdasarkan sejarah seolah-olah Engkau mengasihi kami lebih dulu, tetapi hanya satu kali, daripada Engkau tanpa henti mengasihi kami lebih dulu berkali-kali dan setiap hari dan sepanjang hidup kami. Ketika kami bangun tidur pada pagi hari dan menghadap kan jiwa kami kepada-Mu - Engkau sudah ada lebih dulu - Engkau telah mengasihi kami lebih dulu; jika saya bangun saat fajar dan pada detik yang sama menghadapkan jiwa saya kepada-Mu dalam doa, Engkau ada sebelum saya, Engkau telah mengasihi saya lebih dulu. Ketika saya menarik diri dari gangguan-gangguan hari itu dan menghadapkan jiwa saya kepada-Mu, Engkau ada lebih dulu dan selamanya begitu. Dan kami berbicara tanpa bersyukur seolah-olah Engkau telah mengasihi kami lebih dulu tetapi hanya satu kali.
Kierkegaard menggambarkan kepada kita sekilas dari kasih Allah yang luar biasa. Seringkali kita berpikir bahwa kita menunggu Allah, padahal sebenarnya Ia yang menunggu kita. Allah berbeda dari kita lebih dari yang manusia dapat pahami. Kasih-Nya tidak palsu dan tanpa syarat. Ia secara sederhana mengasihi manusia, dan tidak ada yang kita bisa lakukan, atau tidak lakukan yang dapat merubah kasih tersebut. Kita akan selamanya kagum dan takjub akan kasih-Nya yang melampaui pengetahuan, kasih yang begitu besar sehingga Allah menjadi manusia di dalam Yesus untuk mati bagi dosa-dosa kita.
Pertanyaan Refleksi
Pikirkanlah tentang keseimbangan anda antara kesunyian dan komunitas pada saat ini. Seberapa banyak keseimbangan tersebut memenuhi kondisi agar anda bertumbuh dalam kasih kepada Allah, sesama, dan diri anda sendiri?
Doa
Tuhan, bukalah dan lapangkanlah bejana hati saya untuk menerima betapa dalamnya dan lebarnya kasih-Mu yang melampaui pengetahuan dan mengalir kepada saya setiap saat dalam setiap hari. Dan kiranya kasih-Mu mengalir melalui saya kepada orang-orang disekitar saya hari ini. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Matius 7:1-5
1 “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. 2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.3 Mengapakah engkau melihat selumbar dimata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? 4 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. 5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”
Renungan
Kata dengan arti yang sama dengan menghakimi adalah membenci. Ini terjadi ketika kita mengeraskan hati kita terhadap seseorang. Dalam konteks Matius 7, masalah dengan menghakimi bukanlah membedakan antara yang baik dan jahat, benar atau salah, tetapi penghukuman atas “merendahkan seseorang”.
Antonius Agung (254-356M) mungkin adalah guru yang paling awal dan paling berpengaruh di antara Bapa-Bapa Gurun Kristen. Ia menulis: Kehidupan kita dan kematian kita terjadi dengan sesama. Jika kita memenangkan saudara kita, kita memenangkan Allah. Jika kita membuat saudara kita tersandung, kita berdosa di hadapan Kristus. 12 Ketika Antonius menyebutkan kematian dengan sesama, maksudnya adalah bahwa kita melepaskan hak kita untuk mengucapkan penghakiman atas mereka - sebuah tantangan cukup sulit untuk digambarkan sebagai sebuah kematian.
Teodorus dari Ferme, seorang Bapa Gurun lain yang penting dari abad keempat, secara mendalam mengatakan bahwa kasih yang dewasa dan tidak menghakimi terhadap sesama adalah kebajikan dasar atau kualitas karakter dimana semua sifat-sifat baik yang lain dibangun di atasnya: Tidak ada kebajikan lain selain tidak menghina [membenci siapa pun].
Maksimus Pengaku Iman (580-662 M), seorang ahli agama Kristen, biarawan, dan penasihat dari kaisar Konstantinopel, menangkap kebenaran ini dengan pandangan yang berbeda; Kebebasan batin tidak dimiliki oleh siapapun yang tidak bisa menutup matanya terhadap kesalahan temannya, baik nyata atau semu.
Bapa-Bapa Gurun awal mengerti bahwa mustahil untuk memikirkan tentang kehidupan rohani yang terpisah dari hidup dalam komunitas kasih dengan sesama. Mereka menekankan bahwa kerohanian sejati ditandai dengan kerendahan hati yang berkeinginan untuk menyembunyikan kesalahan-kesalahan sesama daripada mengungkapkan mereka, dan bahwa semakin dekat kita tertarik kepada Allah dalam kasih, semakin dekat kita tertarik dalam kasih kepada sesama kita. Mereka mengerti bahwa ketika kita mengeraskan hati kita kepada orang lain, kita mengeraskan hati kita kepada Kristus.
Pertanyaan Refleksi
Dalam cara-cara apa anda menghakimi atau membenci seseorang secara licik atau bahkan tanpa sadar di dalam hidup anda?
Doa
Bapa, saya takut bahwa kecenderungan saya untuk merendahkan dan menghakimi sesama adalah bagian dari diri saya yang saya jarang sadari. Anugerahkan kepada saya kesadaran, melalui Roh Kudus, akan ketika nada suara, raut-raut muka, kata-kata, atau tindakan-tindakan saya gagal untuk memberitahukan keamanan, penerimaan, atau kelembutan kepada orang-orang di sekitar saya. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Lukas 17:11-19
11 Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. 12 Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh 13 dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” 14 Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. 15 Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, 16 lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. 17 Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? 18 Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” 19 Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”
Renungan
Allah berulang kali mengundang kita untuk memupuk hati bersyukur- tidak hanya dengan berdoa sesekali, tetapi sebagai gaya hidup. Pikirkan lah beberapa dari perintah-perintah dari pemazmur-pemazmur untuk bersyukur: Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! (Mazmur 107:1a) Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi.… Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku. (Mazmur 50:14, 23a) 37 Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur. (Mazmur 95:2a).
Masalahnya adalah bahwa kita dengan sangat mudah menerima tanpa bersyukur. Kadang-kadang, kita bahkan merasa berhak menerima berkat. Kita berharap, dan kadang-kadang bahkan menuntut, bahwa hal-hal dalam hidup berjalan sesuai kehendak kita. Namun Allah mengundang kita untuk bersyukur atas pemberian-pemberian, baik besar maupun kecil, yang datang dalam hidup kita. Mengapa? Kita semua bergantung - dalam setiap keadaan dan setiap saat dalam hidup - kepada-Nya.
Fransiskus dari Assisi mengatakan “Berbahagialah ia yang tidak mengharapkan apa-apa, karena ia akan menikmati segalanya.” Fransiskus mengerti bahwa tidak seorangpun dari kita dapat memperoleh keindahan bintang di langit atau matahari terbenam di cakrawala, bahwa pondasi dasar realita hidup kita bergantung kepada Allah.
Penyair dan penulis dari Irlandia, John O’Donohue, mengatakan ini: “Karena kita sangat sibuk dengan dunia, kita seringkali melupakan betapa rapuh kehidupan kita dan betapa rentannya kita. Hidup dapat berganti hanya dalam beberapa detik dan tidak dapat dipulihkan lagi.” 16 Salah satu keajaiban besar dalam kehidupan adalah, ketika kita membuat bersyukur - mengungkapkan terima kasih - sebagai gaya hidup, Allah tidak hanya mengubah kita, tetapi juga hubungan-hubungan dan komunitas-komunitas yang kita ikut berpartisipasi, termasuk keluarga, teman teman, tetangga-tetangga, rekan-rekan, dan saudara-saudara dalam Kristus.
Pertanyaan Refleksi
Dua sampai tiga hal apa di dalam minggu ini yang anda paling syukuri? (Contohnya, kesehatan atau kesembuhan, orang-orang dalam hidup anda, kepunyaan-kepunyaan, kesempatan-kesempatan, pencobaan-pencobaan, pintu-pintu yang tertutup, berkat-berkat rohani, dan lain-lain.) Ungkapkan rasa syukur anda yang tulus kepada Allah atas pemberian-pemberian ini.
Doa
Bapa, sangat mudah bagi saya untuk berjalan dengan rasa berhak untuk menerima berkat dan melupakan betapa rapuh hidup saya dan bagaimana segalanya adalah berkat. Bahkan ketika saya hidup dalam budaya yang berjuang dan khawatir, ajarlah saya rasa syukur dan kepuasan - dalam segala hal dan untuk segala hal. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Lukas 4:42-44; 5:15-16
42 Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. 43 Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.” 44 Dan Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea.…
15 Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. 16 Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.
Renungan
Pada tanggal 9 April 1945, pendeta dan ahli agama Jerman, Dietrich Bonhoeffer, dieksekusi karena perlawanannya terhadap pemerintahan Nazi Hitler. Dalam tahun-tahun perlawanannya, ia menulis kata kata terkenal di bawah di dalam bukunya yang berjudul Life Together: Siapapun yang tidak bisa sendirian sebaiknya mewaspadai komunitas. Orang-orang seperti itu hanya akan mencelakakan diri mereka sendiri dan komunitas. Sendirian, anda berdiri di hadapan Allah ketika Allah memanggil anda. Sendirian, anda harus menaati suara Allah. Sendirian, anda harus memikul salib anda, harus bergumul dan berdoa, dan sendirian anda akan mati dan memberi laporan kepada Allah. Anda tidak bisa menghindari diri sendiri; karena Allahlah yang telah memilihmu untuk sendiri.…
Tetapi sebaliknya juga benar; Siapapun yang tidak bisa berada di komunitas sebaiknya mewaspadai sendirian. Anda dipanggil ke dalam komunitas iman; panggilan tersebut tidak dimaksudkan untuk anda sendiri.… Anda tidak sendirian, bahkan ketika anda mati.… Jika anda mengabaikan komunitas orang-orang Kristen yang lain, anda menolak panggilan Yesus Kristus, dan dengan demikian kesendirian anda hanya akan mencelakakan anda.
Bonhoeffer memperingati kita bahwa ketika kita tidak mengambil waktu untuk berada sendiri di dalam hadirat Allah, kita menjadi berbahaya dan mencelakakan orang lain. Kita bisa menuntut orang-orang untuk memenuhi kebutuhan kita akan kasih, penerimaan, dan harga diri sebuah beban yang terlalu berat untuk mereka tanggung. Kita bisa mengambil dari sesama dengan cara-cara yang tidak pantas dan menyebabkan kerusakan. Kita membutuhkan orang-orang, tetapi mereka tidak akan pernah dapat memenuhi kita dengan kasih sempurna yang hanya bisa diberikan oleh Allah. Untuk alasan ini, adalah penting untuk kita secara konsisten mempraktikkan berdiam dan tenang bersama Allah.
Pertanyaan Refleksi
Pikirkanlah tentang keseimbangan anda antara kesunyian dan komunitas pada saat ini. Seberapa banyak keseimbangan tersebut memenuhi kondisi agar anda bertumbuh dalam kasih kepada Allah, sesama, dan diri anda sendiri?
Doa
Tuhan, saya mengakui kepada-Mu bahwa saya tidak yakin saya dapat memahami keseimbangan yang tepat antara kesunyian dan komunitas pada saat ini dalam hidup saya. Saya meminta-Mu untuk memimpin saya dalam perjalanan ini. Tolong saya untuk berniat untuk mengejar baik kesunyiaan bersama-Mu dan berpartisipasi dalam komunitas yang sehat dengan sesama. Saya meminta ini dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Lukas 10:38-42
38 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. 39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, 40 sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” 41 Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, 42 tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya.”
Renungan
Kisah terkenal ini tentang Maria dan Marta mengajar kita betapa pentingnya untuk memperlambat tempo untuk duduk di kaki Yesus jika kita ingin mengasihi sesama dengan baik.
Marta sepenuhnya sibuk dengan tugas untuk mempersiapkan makanan untuk tamu-tamu yang sangat terkenal: Yesus dan ke-12 murid Nya. Antara lain, daftar pekerjaannya berisi berbelanja bahan-bahan; menyiapkan meja besar; menyiapkan makanan; meminjam tikar-tikar, meja-meja, dan piring-piring saji tambahan dari tetangga; membersihkan rumah; menyiapkan makanan; dan mungkin yang paling penting, memastikan semuanya berjalan dengan sempurna. Tetapi Marta marah, terutama kepada saudaranya Maria, yang duduk diam menikmati persekutuan dengan Yesus. Marta terlalu terganggu dan jengkel untuk menikmati tamunya atau Yesus. Dalam mencoba untuk menyelesaikan terlalu banyak, ia tidak hanya kehilangan penglihatan akan dirinya, tetapi juga tujuan dari kerja kerasnya - untuk menyambut dan merawat tamu-tamunya, termasuk Kristus.
Pertanyaan Refleksi
Pikirkan kembali beberapa hari terakhir. Dalam cara-cara apa saja daftar pekerjaan anda, keteralihan, atau perfeksionisme anda menjauhkan anda dari mengasihi dan menikmati Yesus atau orang-orang di sekitar anda?
Doa
Tuhan, tolong saya untuk menghargai batasan-batasan dan kekurangan-kekurangan saya dalam melakukan untuk sesama agar saya tidak menjadi marah. Dan ajar saya untuk memperlambat tempo, berhenti, dan duduk di kaki-Mu dalam ketenangan agar saya dapat mengasihi sesama dalam cara-cara yang menggambarkan Engkau.
Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Markus 14:3-6
3 Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, dan sedang duduk makan, datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus. 4 Ada orang yang menjadi gusar dan berkata seorang kepada yang lain: “Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini? 5 Sebab minyak ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin.” Lalu mereka memarahi perempuan itu. 6 Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku.
Renungan
Pedro Arrupe (1907-1991) meninggalkan sekolah kedokteran dan sebuah karir yang penuh harapan untuk bergabung dengan para Yesuit (Serikat Yesus) pada tahun 1927, tetapi pada tahun 1945, pelatihan kedokterannya terpakai ketika ia memimpin tim penyelamatnya yang pertama ke Hiroshima, Jepang, setelah bom atom dijatuhkan di kota tersebut. Ia memberi kita pandangan tentang kekuatan kasih Yesus untuk mengubah segala yang kita lakukan: Tidak ada yang lebih bermanfaat daripada menemukan Allah, daripada jatuh cinta dalam cara yang mutlak dan final. Apa yang anda kasihi, apa yang menangkap imajinasi anda, akan mempengaruhi segalanya.
Hal itu akan menentukan apa yang membuat anda bagun tidur pada pagi hari, apa yang akan anda lakukan pada malam hari, bagaimana anda menghabiskan akhir pekan anda, apa yang anda baca, siapa yang anda kenal, apa yang mematahkan hati anda, dan apa yang membuat anda kagum dengan sukacita dan rasa syukur. Jatuh cintalah, tetaplah mengasihi, dan kasih itu akan menentukan segalanya.
Perempuan yang meminyaki Yesus dengan buli-buli pualam berisi minyak narwastu tidak memenuhi pikirannya dengan apa yang dipikirkan oleh sesamanya. Kasih dan pengampunan Kristus, dalam kata-kata Arrupe, telah “menentukan segalanya”. Hatinya meluap dengan rasa syukur kepada Yesus karena kasih dan pengampunan-Nya. Perempuan itu mengerti bahwa makna dirinya berasal dari hubungannya dengan Yesus, bukan dari penerimaan sesama. Hal ini memberinya kepercayaan diri untuk menjadi dirinya sendiri, tanpa memperhatikan apa yang dipikirkan oleh sesama tentangnya.
Pertanyaan Refleksi
Dalam hidup anda sendiri, bagaimanakah anda mengetahui bahwa jatuh cinta kepada Yesus dan tetap mengasihi Yesus akan menentukan segalanya? Bagaimanakah hal ini dapat mengubah anda dan hubungan-hubungan anda?
Doa
Saya bangkit hari ini melalui kekuatan surga; cahaya matahari, cahaya bulan, kemegahan api, kecepatan kilat, kelancaran angin, kedalaman laut, kekuatan bumi, keteguhan batu. Saya bangkit hari ini melalui kekuatan Allah untuk membimbing saya… Firman Allah untuk berbicara bagi saya, Tangan Allah untuk menjaga saya, Jalan Allah untuk dibentangkan di hadapan saya... Saya memanggil hari ini segala kekuatan di antara saya dan kejahatan, Terhadap setiap kekuatan kejam dan tanpa ampun yang mungkin menen tang tubuh dan jiwa saya.
-Bagian dari Doa Santo Patrisius, 500 M
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Kejadian 4:2-8
2 Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain; dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani. 3 Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada Tuhan sebagai korban persembahan; 4 Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka Tuhan mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, 5 tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram. 6 Firman Tuhan kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? 7 Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” 8 Kata Kain kepada Habel, adiknya: “Marilah kita pergi ke padang.” Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia.
Renungan
Kisah Kain dan Habel menggambarkan kebutuhan kita untuk bertumbuh dalam kasih kepada Allah dan kepada sesama kita pada saat yang sama. Hubungan Kain dengan Allah yang hancur menyebabkan hubungan yang hancur dengan adiknya, Habel. Yesus menyimpulkan seluruh Alkitab dalam satu kebenaran yang sederhana dan kuat: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. (Matius 22:37-40) 500 tahun kemudian, seorang biarawan dan kepala biara bernama Doroteus dari Gaza menunjukkan bahwa, seperti jari-jari roda - yang terpisah tetapi bertemu di tengah roda tersebut - semakin dekat kita tertarik kepada Allah dalam kasih, semakin dekat kita tertarik kepada sesama kita.
Pada abad ke-16, Teresa dari Ávila menulis: Hanya ada 2 kewajiban yang Tuhan ingin kita lakukan: mengasihi Allah, dan mengasihi sesama kita. Dan, menurut saya, tanda paling pasti bahwa kita menemukan kasih kita kepada Allah adalah menemukan kasih kita terhadap sesama kita. Yakinlah bahwa semakin jauh anda membuat kemajuan dalam kasih anda terhadap sesama, semakin jauh anda membuat kemajuan dalam kasih anda terhadap Allah.
Godaan untuk memisahkan kasih kita terhadap Allah dari kasih kita terhadap sesama telah bersama kita dari awal zaman. Tetapi seperti yang Yesus ajari, inti dari kerohanian sejati adalah kasih akan Allah dan sesama.
Pertanyaan Refleksi
Hal apakah yang menjadi tantangan terbesar bagi anda dalam menggabungkan kedua kasih ini pada saat ini dalam hidup anda?
Doa
Bapa, saya menyadari bahwa berada bersama-Mu lebih mudah daripada mengurus ketegangan dan pertentangan dalam hubungan-hubungan saya dengan orang lain. Saya membuka pintu saya bagi-Mu, sepenuhnya dan selebarnya. Penuhilah saya dengan Roh Kudus dan tolong saya untuk bertumbuh hari ini menjadi orang yang dewasa secara emosi dan yang mengasihi dengan baik. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Minggu 2
Berhenti Membaca Pikiran dan Klarifikasi Ekspektasi
Berhenti Membaca Pikiran dan Klarifikasi Ekspektasi adalah alat-alat, atau kemampuan-kemampuan, yang membantu untuk melenyapkan segala kesalahpahaman dan prasangka-prasangka yang mendatangkan malapetaka dalam hubungan-hubungan. Harapan-harapan yang tidak terpenuhi menyebabkan pernikahan-pernikahan berakhir, gereja-gereja terpisah, pekerja-pekerja berhenti, dan keluarga-keluarga pecah. Jika kita ingin menghargai dan mengasihi sesama seperti yang dilakukan Yesus, adalah penting untuk menahan diri dari menganggap bahwa kita mengetahui apa yang dipikirkan sesama. Lebih lagi, kita harus berhati-hati untuk tidak menyimpan pengharapan-pengharapan yang tidak dibicarakan, tidak disadari, tidak realistis, atau tidak disetujui terhadap sesama. Menghabiskan waktu dengan Allah setiap minggu melalui Ibadah Harian membantu kita untuk menyerahkan kehendak dan rencana-rencana kita kepada-Nya dan menyadari bahwa kita membutuhkan kasih Yesus di dalam diri kita terlebih dahulu agar bisa mengalir dari kita.
Hari 1: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: 1 Tesalonika 5:14-18
14 Kami juga menasihati kamu, saudara-saudara, tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang. 15 Perhatikanlah, supaya jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang. 16 Bersukacitalah senantiasa. 17 Tetaplah berdoa. 18 Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
Renungan
Pada usia 15 tahun, Marie Françoise-Thérèse Martin memperoleh izin spesial untuk memasuki komunitas biarawan Karmelit di Lisieux, sebuah kota kecil di bagian barat laut Perancis. Kita mengenalnya hari ini sebagai Thérèse dari Lisieux. Walaupun ia meninggal pada usia 24 tahun, ahli-ahli teologi telah menghabiskan satu abad membicarakan tentang kedalaman dan keaslian pandangan-pandangan rohaninya.
Fokus Thérèse dalam mengasihi dan melayani Allah dalam keadaan-keadaan yang biasa dalam hidup dikenal sebagai “Cara Kecil”. Cara ini berdasarkan oleh perintah Yesus: “Biarkan anak-anak itu datang kepada Ku. Jangan larang mereka karena Kerajaan Allah dimiliki oleh orang yang seperti anak-anak itu” (Matius 19:14). Thérèse yakin bahwa Yesus ingin kita menjalani kehidupan-kehidupan yang penuh kasih yang datang dari kepercayaan seperti yang dimiliki anak kecil kepada Allah. Ia melakukan ini dengan mempersembahkan tindakan-tindakan kasih kecil sehari-hari kepada Allah: berusaha keras untuk berteman dengan biarawati yang mudah marah di biara; menolak untuk mengeluh ketika dituduh melakukan kesalahan yang sebenarnya tidak ia lakukan; memilih untuk dengan riang dan diam bersabar terhadap kamar yang dingin, sebuah penghinaan, atau kecenderungan biarawati lain untuk memercikkan air kotor kepadanya ketika mereka mengurus cucian bersama.
Tetapi saya ingin mencari… cara kecil yang sangat jujur, sangat sederhana, sebuah cara kecil yang benar-benar baru.… Kematian - kematian saya [mematikan kedagingannya] terdiri dari merusak kehendak saya, yang selalu siap untuk menunjukkan dirinya; dari menahan kata-kata saya daripada membantah; dari melakukan hal-hal kecil bagi sesama tanpa mengharapkan apa-apa sebagai imbalan. Inilah cara saya menghabiskan hidup.… menabur bunga, tanpa mengizinkan satu pengorbanan pun melarikan diri, tidak satu tatapan pun, satu kata pun, mendapat untung dari hal-hal kecil dan melakukannya melalui kasih.
Thérèse dari Lisieux mempersembahkan kelalaian dan penderitaannya sebagai bunga-bunga kepada Bapa surgawi, memandang mereka sebagai kesempatan-kesempatan untuk menyatakan kasihnya kepada Allah.
Pertanyaan Refleksi
Bagaimanakah anda dapat mengikuti “cara kecil” kasih hari ini dalam keadaan dimana anda biasanya mengucapkan kejengkelan, ketidaksabaran, atau kekecewaan?
Doa
Bapa, hal ini sulit, sangat sulit. Memandang orang-orang sebagai gangguan, penyela, atau bahkan sebagai musuh adalah bagian besar dari kehidupan saya sehari-hari. Saya meminta Engkau untuk menyembuhkan dan membebaskan saya agar saya dapat melihat orang orang sulit sebagai kasih karunia yang Engkau dapat pakai untuk merusak kehendak saya sendiri dan mengubah saya menjadi orang yang kembut, baik, dan penuh kasih. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 1: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Amsal 14:8, 15; 19:2,11; 22:3 14:8
14:8 Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik, tetapi orang bebal ditipu oleh kebodohannya.
14:15 Orang yang tak berpengalaman percaya kepada setiap perkataan, tetapi orang yang bijak memperhatikan langkahnya.
19:2 Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah.
19:11 Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.
22:3 Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka.
Renungan
Kitab Amsal seringkali membandingkan 2 tipe orang: mereka yang bodoh (atau tak berpengalaman) dan mereka yang bijak (atau cerdik). Orang-orang bodoh memiliki sifat naif dan mudah dipengaruhi. Mereka tidak ingin bekerja keras memikirkan hal-hal dengan teliti dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sulit. Mereka membuat asumsi-asumsi daripada memeriksa faktanya. Keputusan-keputusan mereka seringkali terburu-buru, menuruti kata hati, dan fokus kepada solusi-solusi yang cepat dan bersifat jangka pendek. Sebaliknya, orang-orang bijak berpikir kedepan dan membuat keputusan yang benar. Mereka tidak terpengaruhi oleh kehendak hati atau emosi. Orang-orang cerdik memiliki sifat waspada dan berhati-hati dalam mempertimbangkan semua faktor-faktor yang ada.
Pertanyaan Refleksi
Keadaan-keadaan apa saja yang paling membuat anda kesulitan untuk berhenti sejenak dan memikirkan jalan-jalan anda?
Doa
Tuhan, anugerahkan saya dengan hati yang memperhatikan agar saya dapat segera membedakan kebijakan dan kebodohan. Saya meminta kasih karunia untuk menolak langsung mengambil kesimpulan-kesimpulan dan terburu-buru membuat asumsi-asumsi tentang sesama. Tolong saya untuk bersabar dalam mempertimbangkan tindakan-tindakan dan kata-kata saya. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 2: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Markus 1:35-39
35 Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. 36 Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; 37 waktu menemukan Dia mereka berkata: “Semua orang mencari Engkau.” 38 Jawab-Nya: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” 39 Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.
Renungan
Setelah satu hari penuh melakukan penyembuhan, mengusir keluar setan-setan, mengajar dengan penuh kuasa, dan melayani orang-orang di Kapernaum, Yesus pergi ke “tempat yang sunyi” untuk berdiam dan tenang dalam hadirat Allah. Sebagai hasilnya, Ia mampu melakukan hal yang benar, pada saat yang tepat, dan dengan hati yang benar. Ia menolak tekanan-tekanan dari harapan-harapan orang lain dan pergi ke kota lain. Untuk kita, pilihan ini - untuk berpaling dari kebisingan internal dan eksternal untuk berada bersama Allah - adalah pekerjaan, pekerjaan yang sulit. Secara eksternal, kita menghadapi tekanan yang terus menerus dari budaya kita. Secara internal, pikiran-pikiran kita berada dalam pergerakan yang konstan dan penuh hiruk pikuk. Namun saat kita mempelajari untuk hidup dari mata air kediaman dan ketenangan, kita mulai mengalami kelimpahan yang tidak terbayangkan.
Dalam bukunya berjudul Silence: A User’s Guide, penulis Maggie Ross menyelidiki banyaknya manfaat dari berdiam. Berikut adalah ringkasan saya dari beberapa di antaranya:
-
Kita beralih dari kepalsuan budaya di sekitar kita dan berpaling kepada keindahan Allah.
-
Kita bertumbuh dalam kemampuan kita untuk menanti dan melihat apa yang terungkap, lebih mempercayai kasih Allah.
-
Kita menyadari betapa bodohnya ide-ide kita tentang bagaimana dunia bekerja atau seharusnya bekerja, lebih mudah melepaskan penghakiman-penghakiman, amarah, dan keserakahan.
-
Kita lebih dipenuhi oleh kasih.
-
Kita mempengaruhi orang lain menjadi lebih baik dari perubahan-perubahan yang Allah buat di dalam dan melalui kita.
Pengaruh dari mempraktikkan berdiam dan tenang dengan Bapa kita dapat menjadi dramatis seiring berjalannya waktu, mengubah kita secara rohani, secara emosi, dan bahkan secara fisik, dalam cara-cara yang tidak dapat kita perkirakan.
Pertanyaan Refleksi
Hari ini, bagaimanakah anda dapat menerima undangan Bapa untuk berdiam, “untuk pergi ke tempat yang sunyi” seperti yang Yesus lakukan?
Doa
Tuhan, tolong saya untuk mengingat bahwa Engkau yang duduk di takhta, bukan saya. Tolong saya untuk mempercayai Engkau dengan banyaknya hal dalam daftar pekerjaan saya yang tidak dapat saya selesaikan. Bebaskan saya dari angin puyuh di sekitar saya dan di dalam saya agar damai dan hikmat yang muncul dari ketenangan dan kediaman dapat memenuhi saya dan meluap dalam kasih kepada sesama. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 3: Pagi/Siang
Berdiam. tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Yesaya 30:15-16, 18
15 Sebab beginilah firman Tuhan Allah, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”Tetapi kamu enggan, 16 kamu berkata: “Bukan, kami mau naik kuda dan lari cepat,”maka kamu akan lari dan lenyap. Katamu pula: “Kami mau mengendarai kuda tangkas, ”maka para pengejarmu akan lebih tangkas lagi.
18 Sebab itu Tuhan menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab Tuhan adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!
Renungan
Allah menawarkan janji ini - untuk bermurah hati kepada bangsa-Nya, Israel - ketika mereka menemukan diri mereka sendiri terancam oleh penyerbuan dari pasukan penjajah Asyur, pasukan yang telah menindas bangsa-bangsa di sekitar mereka. Daripada percaya kepada Allah untuk keselamatan dan kekuatan untuk menghadapi orang-orang Asyur, orang orang Israel menjadi tidak sabar dan bergantung kepada kuda-kuda dan kereta-kereta tempur mereka (senjata-senjata yang paling mempesona pada masa itu). Mereka memilih kelegaan jangka pendek dan sebuah solusi cepat. Sebagai akibatnya, mereka melarikan diri, membuat rangkaian keputusan-keputusan yang buruk dengan akibat-akibat jangka panjang yang merusak. Hal ini adalah godaan yang seringkali membuat kita menyerah saat ini ketika kita merasa takut. Daripada menunggu Allah bertindak, kita mengurus masalah-masalah dengan tangan kita sendiri. Kita membuat keputusan-keputusan tanpa berunding dengan Allah (atau sesama), dan kita membuat asumsi-asumsi tentang-Nya tanpa memeriksa mereka lagi.
Namun, Allah mengundang kita untuk menantikan-Nya dan untuk beristirahat dalam kasih-Nya, mengizinkan-Nya untuk memimpin kita dalam keputusan-keputusan kita setiap hari.
Pertanyaan Refleksi
Apa yang pertama kali muncul di pikiran anda sebagai tanggapan terhadap kata-kata ini dari Allah untuk anda hari ini: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu ?
Doa
Tuhan, sangat mudah bagi saya untuk mengurus masalah-masalah dengan tangan saya sendiri, terutama ketika dihadapkan dengan cobaan-cobaan dan tekanan-tekanan. Saya ingin untuk berdiam dan percaya kepada-Mu. Tunjukkan kepada saya apa artinya untuk menantikan-Mu saat hal-hal tampaknya memburuk. Saya ingin kehendak-Mu, bukan kehendak saya, untuk terjadi dalam kehidupan saya. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 4: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Kejadian 28:10-17
10 Maka Yakub berangkat dari Bersyeba dan pergi ke Haran. 11 Ia sampai di suatu tempat, dan bermalam di situ, karena matahari telah terbenam. Ia mengambil sebuah batu yang terletak di tempat itu dan dipakainya sebagai alas kepala, lalu membaringkan dirinya di tempat itu. 12 Maka bermimpilah ia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu. 13 Berdirilah Tuhan di sampingnya dan berfirman: “Akulah Tuhan, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu. 14 Keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah banyaknya, dan engkau akan mengembang ke sebelah timur, barat, utara dan selatan, dan olehmu serta keturunanmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat. 15 Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke mana pun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu.” 16 Ketika Yakub bangun dari tidurnya, berkatalah ia: “Sesungguhnya Tuhan ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya.” 17 Ia takut dan berkata: “Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang sorga.”
Renungan
Yakub melarikan diri dari amarah saudaranya, Esau. Ia telah mengambil hak kesulungan Esau dan melarikan diri, berharap bahwa beberapa hari menjauh dari Esau akan mengurangi kebenciannya. Malam itu, Yakub tidur di tempat yang biasa dan mengalami sesuatu yang luar biasa akan Allah. Ia menemui Allah di dalam mimpi, melihat malaikat-malaikat naik dan turun dari surga ke Bumi. Yakub bangun dan berseru: “Sesungguhnya Tuhan ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya” (Kejadian 28:16).
Seperti yang ditulis oleh penyair, Elizabeth Barrett Browning, “Bumi dipenuhi oleh surga”. Thomas Merton juga mengatakannya dengan baik: Setiap saat dari setiap kejadian dari setiap kehidupan manusia di Bumi menanam sesuatu di jiwa mereka. Seperti angin membawa beribu-ribu biji-biji bersayap, setiap saat membawa dengannya biji-biji kekuatan rohani yang mendarat tanpa disadari dalam pikiran-pikiran dan hati-hati manusia. Sebagian besar dari biji-biji yang tidak terhitung ini binasa dan hilang karena manusia tidak siap untuk menerima mereka.
Allah mengundang kita kepada kesadaran yang sama seperti Yakub, untuk bangun dan melihat bahwa Ia selalu aktif dalam setiap bagian hidup kita - termasuk kegagalan, kekecewaan, pengkhianatan, kesalahpahaman, mimpi yang hancur, pernikahan atau kelajangan, amarah, dan kekhawatiran. Kita hidup dalam dunia yang dibanjiri Allah; surat-surat cinta-Nya kepada kita berada dimana-mana. Tetapi mata rohani kita seringkali ditutupi oleh ketakutan dan stres. Jadi kita melewati-Nya
Pertanyaan Refleksi
Biji-biji apa dari Allah yang dapat mendarat di pikiran dan hati anda hari ini, terutama melalui kesulitan dalam hubungan yang anda sedang alami?
Doa
PELINDUNG OLEH SANTO PATRISIUS
Kristus bersama saya, Kristus di hadapan saya, Kristus di belakang saya, Kristus di dalam saya, Kristus di bawah saya, Kristus di atas saya, Kristus di sebelah kanan saya, Kristus di sebelah kiri saya, Kristus ketika saya berbaring, Kristus ketika saya duduk, Kristus ketika saya bangkit, Kristus di dalam hati setiap orang yang memikirkan saya, Kristus di mulut setiap orang yang berbicara tentang saya, Kristus di setiap mata yang melihat saya, Kristus di setiap telinga yang mendengar saya. Saya bangkit hari ini, melalui kekuatan yang luar biasa, doa kepada Trinitas, melalui kepercayaan pada Tritunggal, melalui pengakuan akan Keesaan Penciptaan.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 5: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: 2 Samuel 7:1-5, 12-13, 18a
1 Ketika raja telah menetap di rumahnya dan Tuhan telah mengaruniakan keamanan kepadanya terhadap semua musuhnya di sekeliling, 2 berkatalah raja kepada nabi Natan: “Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut Allah diam di bawah tenda.” 3 Lalu berkatalah Natan kepada raja: “Baik, lakukanlah segala sesuatu yang dikandung hatimu, sebab Tuhan menyertai engkau.” 4 Tetapi pada malam itu juga datanglah firman Tuhan kepada Natan demikian: 5 “Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman Tuhan: Masakan engkau yang mendirikan rumah bagi-Ku untuk Kudiami?
12 Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. 13 Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya”.…
18a Lalu masuklah raja Daud ke dalam, kemudian duduklah ia di hadapan Tuhan.
Renungan
Kebanyakan dari kita memiliki harapan-harapan kepada Allah yang tidak terpenuhi. Raja Daud juga begitu. Segalanya berlangsung dengan benar bagi Daud. Ia telah memperkuat kuasanya. Bangsanya dipersatukan, dan Yerusalem ditentukan sebagai ibukota. Daud menjadi sangat terkenal dan ia menulis mazmur-mazmur yang begitu indah. Ia ingin melakukan sesuatu yang besar bagi Allah dan membangun untuk-Nya sebuah bait yang agung. Rencananya terlihat menjanjikan. Tetapi, Allah berkata, tidak. Tanggapan Daud - kerelaannya untuk seketika mengesampingkan rencana-rencananya dan duduk di dalam hadirat Allah - memberi contoh kepada kita ketika harapan-harapan kita kepada Allah ditolak.
Penulis dan pendeta, Eugene Peterson, menulis: Daud duduk. Tindakan ini mungkin adalah satu tindakan yang paling penting yang Daud pernah lakukan, tindakan yang membuatnya tidak melakukan apa-apa - lebih penting daripada membunuh Goliat.
Daud duduk. Suatu perbuatan yang luar biasa ketika kita mulai mengerti keadaan di mana ia melakukannya - ia sangat penuh dengan gairah akan Allah, sangat meluap dengan rencana-rencana bagi Allah. Menghentikan Daud dalam keadaan seperti itu seperti mencoba mengekang sekelompok kuda-kuda yang lepas. Tetapi Natan menghentikannya. Lebih tepatnya, Daud mengizinkan dirinya dihentikan oleh Allah.
Dalam cara yang sama, sesuatu dirusak secara mendalam di dalam kita ketika kita mengizinkan diri kita dihentikan Allah. Mungkin adalah keinginan kita untuk selalu memegang kendali, untuk memanipulasi orang-orang dan keadaan-keadaan untuk keuntungan kita sendiri, atau untuk memenuhi kehendak diri kita. Seperti Daud, ketika kita mengizinkan diri kita dihentikan Allah, kita secara perlahan mempelajari bahwa kita dapat melepaskan hal-hal tersebut dan mempercayai-Nya.
Pertanyaan Refleksi
Temukan satu situasi dalam hidup anda di mana Allah tampaknya mengatakan tidak atau gagal memenuhi harapan-harapan anda. Bagaimanakah tanggapan anda dibandingkan dengan Daud?
Doa
Doa Selamat Datang
Mary Mrozowski
Selamat datang, selamat datang, selamat datang. Saya menyambut semua yang datang kepada saya saat ini karena saya tahu semuanya itu untuk penyembuhan saya. Saya menyambut semua pikiran, perasaan, emosi, orang lain, situasi, dan keadaan. Saya melepaskan keinginan saya untuk keamanan. Saya melepaskan keinginan saya untuk penerimaan. Saya melepaskan keinginan saya untuk mengendalikan. Saya melepaskan keinginan saya untuk mengubah situasi, kondisi, orang lain, atau diri saya sendiri. Saya terbuka untuk kasih dan hadirat Allah dan tindakan penyembuhan dan rahmat di dalam-Nya
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 2: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Kisah Para Rasul 5:1-11
1 Ada seorang lain yang bernama Ananias. Ia beserta isterinya Safira menjual sebidang tanah. 2 Dengan setahu isterinya ia menahan sebagian dari hasil penjualan itu dan sebagian lain dibawa dan diletakkannya di depan kaki rasul-rasul. 3 Tetapi Petrus berkata: “Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu? 4 Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.” 5 Ketika mendengar perkataan itu rebahlah Ananias dan putuslah nyawanya. Maka sangatlah ketakutan semua orang yang mendengar hal itu. 6 Lalu datanglah beberapa orang muda; mereka mengapani mayat itu, mengusungnya ke luar dan pergi menguburnya. 7 Kira-kira tiga jam kemudian masuklah isteri Ananias, tetapi ia tidak tahu apa yang telah terjadi. 8 Kata Petrus kepadanya: “Katakanlah kepadaku, dengan harga sekiankah tanah itu kamu jual?” Jawab perempuan itu: “Betul sekian.” 9 Kata Petrus: “Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan? Lihatlah, orang-orang yang baru mengubur suamimu berdiri di depan pintu dan mereka akan mengusung engkau juga ke luar.” 10 Lalu rebahlah perempuan itu seketika itu juga di depan kaki Petrus dan putuslah nyawanya. Ketika orang-orang muda itu masuk, mereka mendapati dia sudah mati, lalu mereka mengusungnya ke luar dan menguburnya di samping suaminya. 11 Maka sangat ketakutanlah seluruh jemaat dan semua orang yang mendengar hal itu.
Renungan
Sikap berbohong dan berpura-pura tertanam sangat dalam di budaya kita sampai kita jarang menyadari mereka. Setiap budaya dan keluarga memiliki cara unik mereka sendiri untuk mengungkapkan setengah kebenaran, menahan fakta-fakta, dan menghindari saat-saat yang canggung. Kita berbohong dengan kata-kata kita, senyum kita, tubuh kita, bahkan ketika kita diam. Penipuan seperti itu - terhadap Roh Kudus, sesama, dan bahkan diri kita sendiri - membuatnya mustahil untuk benar-benar mengasihi sesama. Mengapa? Karena Allah adalah kebenaran mutlak, kita tidak sengaja meniadakan-Nya kapanpun kita gagal untuk hidup dalam kebenaran mutlak, kita tidak sengaja meniadakan-Nya kapanpun kita gagal untuk hidup dalam kebenaran. Allah memanggil kita untuk berjalan dalam kebenaran dan mengikuti Yesus, yang adalah Sang kebenaran. Nyatanya, seberapa banyak kita hidup dalam kebenaran adalah seberapa banyak kita bebas untuk memiliki hubungan-hubungan otentik yang menggambarkan surga itu sendiri. Perjalanan kita bersama Allah menjadi hidup dan lapisan-lapisan palsu kita ditanggalkan ketika “manusia sejati kita” dalam Kristus di dalam kita dibangkitkan.
Hanya jika kita menghentikan kepura-puraan kita yang dangkal dan “kebaikan” kita yang menggambarkan sebagian besar budaya orang orang Kristen sekarang, kita akan mengalami komunitas yang sejati. Tanpa apapun untuk disembunyikan, kadar stres dan kecemasan kecemasan kita berkurang dan harga diri kita berakar lebih dalam. Mengapa? Karena integritas kita tidak rusak. Damai dengan Allah, dengan sesama, dan dengan diri sendiri dapat meresap dalam hidup kita.
Pertanyaan Refleksi
Pikirkan kembali beberapa hari yang lalu. Dalam cara-cara apa yang tidak kentara atau yang tidak begitu kentara anda menyimpangkan kebenaran untuk membuat anda terlihat lebih baik atau menghindari ketidaksetujuan seseorang? Bagaimanakah integritas anda ternodai sebagai akibatnya?
Doa
Tuhan, anugerahkan saya keberanian untuk melihat secara jujur bagian-bagian hidup saya dimana saya tidak hidup dalam kebenaran. Tolong saya untuk menyadari ketika saya berkata ya walaupun saya ingin berkata tidak, atau ketika saya berkata tidak walaupun saya ingin berkata ya. Yesus, Engkaulah kebenaran. Kiranya saya juga memiliki keberanian untuk memeluk kebenaran dalam setiap keadaan dan hubungan hari ini. Terima kasih untuk jaring keselamatan kasih Mu. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 3: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Kisah Para Rasul 10:9, 11-15, 19-20, 28
9 Keesokan harinya ketika ketiga orang itu berada dalam perjalanan dan sudah dekat kota Yope, kira-kira pukul dua belas tengah hari, naiklah Petrus ke atas rumah untuk berdoa.…
11 Tampak olehnya langit terbuka dan turunlah suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya, yang diturunkan ke tanah. 12 Di dalamnya terdapat pelbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menjalar dan burung. 13 Kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata: “Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!” 14 Tetapi Petrus menjawab: “Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir.” 15 Kedengaran pula untuk kedua kalinya suara yang berkata kepadanya: “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.”…
19 Dan ketika Petrus sedang berpikir tentang penglihatan itu, berkatalah Roh: “Ada tiga orang mencari engkau. 20 Bangunlah, turunlah ke bawah dan berangkatlah bersama-sama dengan mereka, jangan bimbang, sebab Aku yang menyuruh mereka ke mari.”…
28 Ia [Petrus] berkata kepada mereka: “Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir.”
Renungan
Kita berdosa karena pemikiran yang salah ketika kita mempercayai sesuatu sebagai kebenaran tetapi nyatanya adalah kebohongan - baik tentang Allah, sesama, ataupun diri kita sendiri. Cepat atau lambat, pemikiran yang salah menyebabkan perasaan-perasaan ketidakberdayaan dan banyak sekali rasa sakit yang tidak diperlukan. Lebih lagi, hal ini mengakibatkan hubungan-hubungan yang hancur.
3 rupa umum (dan mematikan) dari pemikiran yang salah adalah:
-
Segalanya atau tidak sama sekali. Pemikiran ini membuat hal-hal menjadi lebih besar atau lebih hitam dan putih dari yang sebenarnya.
-
Saya tersinggung. Hal ini mengacu kepada merasa tersinggung sebelum memiliki semua fakta-faktanya.
-
Hal-hal tidak akan pernah berubah. Masa depan sudah ditentukan, jadi perubahan itu mustahil.
Rasul Petrus percaya bahwa hal-hal tidak akan pernah berubah. Sebagai orang Yahudi, ia tidak pernah memasuki rumah orang yang bukan Yahudi. Ia berpikir bahwa orang-orang Yahudi dan orang-orang bukan Yahudi harus tetap terpisah selamanya, bahkan seiring gereja-gereja abad pertama mulai bertumbuh. Namun, Allah menunjukkan kepada Petrus bahwa pemikirannya salah, membenarkan asumsi-asumsinya yang salah, dan membebaskan baik Petrus dan semua orang di sekitarnya untuk pencurahan Roh Kudus yang lebih kuat di antara mereka.
Pertanyaan Refleksi
Rupa yang mana dari ketiga rupa pemikiran yang salah paling mempengaruhi anda? Bagaimakah pemikiran tersebut berakibat dalam rasa sakit yang tidak diperlukan atau hubungan-hubungan yang hancur dalam hidup anda?
Doa
Bapa, tunjukkan kepada saya dimana saya terlibat dalam pemikiran yang salah, atau membuat asumsi-asumsi yang tidak benar tentang suatu keadaan atau seseorang. Penuhilah saya dengan Roh Kudus agar saya tidak dengan mudah disesatkan. Anugerahkan saya dengan kesabaran dan kelembutan ketika saya dipengaruhi pemikiran yang salah. Tolong saya untuk bertumbuh dan hanya melihat apa yang benar. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 4: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Yakobus 3:5-10
5 Demikian juga lidah, walaupun merupakan suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. 6 Lidah pun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka. 7 Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, 8 tetapi tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan. 9 Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, 10 dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.
Renungan
Perintah Allah yang kesembilan berbunyi: “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu” (Keluaran 20:16). Setiap kali saya membuat asumsi tentang seseorang tanpa memastikannya terlebih dahulu, saya berisiko mempercayai kebohongan tentang orang itu. Asumsi saya hanya berjarak satu nafas dari salah mengartikan kenyataan. Karena saya tidak memeriksa asumsi saya dengan orang itu, sangat mungkin bahwa saya mempercayai sesuatu yang tidak benar dan dengan efektif mengucapkan saksi dusta tentang sesama saya. Saya paling rentan kepada godaan ini ketika orang itu telah menyakiti atau mengecewakan saya. Hal ini juga membuatnya lebih memungkinan bagi saya untuk meneruskan asumsi salah saya kepada orang lain.
Ketika kita menukar kenyataan dengan gambaran di pikiran (sebuah asumsi yang tersembunyi), kita memasuki dunia yang palsu. Pada saat itu, kita mengeluarkan Allah dari hidup kita karena Allah tidak ada di luar kenyataan dan kebenaran. Kita juga merusak hubungan-hubungan dengan menciptakan kebingungan dan perselisihan yang tidak diperlukan.
Pertanyaan Refleksi
Dalam hubungan apakah anda membuat asumsi yang mungkin tidak benar? Langkah kecil apa yang anda dapat ambil hari ini untuk memperjelas kebenaran dengan orang itu?
Doa
Tuhan, saya setuju bahwa lidah saya memiliki kekuatan untuk berbuat baik atau jahat dalam hidup orang-orang. Ampunilah saya karena mengizinkan kata-kata saya untuk merusak orang-orang. Sentuhlah bibir saya dan murnikan hati saya. Saya ingin kata-kata yang saya ucapkan untuk memberi hidup kepada mereka yang saya temui hari ini. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 5: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Keluaran 32:1-4, 21-24
1 Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: “Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir – kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia.” 2 Lalu berkatalah Harun kepada mereka: “Tanggalkanlah anting-anting emas yang ada pada telinga isterimu, anakmu laki-laki dan perempuan, dan bawalah semuanya kepadaku.” 3 Lalu seluruh bangsa itu menanggalkan anting-anting emas yang ada pada telinga mereka dan membawanya kepada Harun. 4 Diterimanyalah itu dari tangan mereka, dibentuknya dengan pahat, dan dibuatnyalah dari padanya anak lembu tuangan. Kemudian berkatalah mereka: ”Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!”
21 Lalu berkatalah Musa kepada Harun: “Apakah yang dilakukan bangsa ini kepadamu, sehingga engkau mendatangkan dosa yang sebesar itu kepada mereka?” 22 Tetapi jawab Harun: “Janganlah bangkit amarah tuanku; engkau sendiri tahu, bahwa bangsa ini jahat semata-mata. 23 Mereka berkata kepadaku: Buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir – kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia. 24 Lalu aku berkata kepada mereka: Siapa yang empunya emas haruslah menanggalkannya. Mereka memberikannya kepadaku dan aku melemparkannya ke dalam api, dan keluarlah anak lembu ini.
Renungan
Orang-orang Israel kecewa dengan ketidakhadiran Musa ketika ia menghabiskan 40 hari dan 40 malam di atas gunung bersama Allah.
Jadi mereka mendesak Harun untuk mendirikan bagi mereka sebuah berhala yang dapat mereka lihat. Ia menyerah dan membuat bagi mereka sebuah berhala dalam bentuk anak lembu emas. Tetapi, ketika Musa kembali dan menghadapi Harun, Harun menolak untuk bertanggung jawab. Malahan, ia melempar tanggung jawab, seolah-olah hanya rakyat bangsa Israellah yang harus disalahkan atas dosa anak lembu emas tersebut.
Dalam cara yang sama, ketika hal-hal tidak berjalan sesuai keinginan kita, tanggapan pertama kita seringkali adalah menghindari tanggung jawab. Kita mungkin menyalahkan orangtua, pasangan, anak-anak, pemerintah, atasan, atau rekan kerja kita. Kita mungkin bahkan mengalahkan kekuatan jahat atau Allah sendiri ketika hal-hal menjadi sangat buruk.
Menyalahkan dapat memberi kita kenyamanan, setidaknya untuk sementara waktu, dengan ilusi bahwa kita memegang kendali. Tetapi, sebenarnya hal ini mengakibatkan yang sebaliknya, melucuti kita dari kekuatan pribadi yang diberi Allah dan membuat kita terjebak dalam ketidakdewasaan. Kita salah mempercayai bahwa kita tidak memiliki pilihan.
Sebagai manusia yang diciptakan segambar dengan Allah, kita lahir dengan hak dan tanggung jawab tertentu yang memampukan kita untuk berjalan dalam kebebasan pribadi yang diberikan Allah. Allah memberi kita kebebasan untuk membuat pilihan, menetapkan batasan-batasan, berpikir untuk diri kita sendiri, dan merasakan. Tetapi, kita harus mengambil tanggung jawab atas apa yang telah diberikan kepada kita. Kita menyadari bahwa kita tidak dapat merubah orang lain, tetapi kita dapat mengubah diri kita sendiri dalam dan melalui kasih karunia Allah.
Pertanyaan Refleksi
Siapakah yang anda cenderung salahkan atas keadaan yang tidak menyenangkan atau sulit dalam hidup anda? Bagaimanakah anda dapat menggunakan kebebasan yang Allah berikan untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar atas salah satu pilihan anda hari ini?
Doa
Tuhan, ampunilah saya karena mengalihkan pandangan saya dari-Mu dengan menyalahkan sesama. Tolong saya untuk mengambil kembali kebebasan pribadi yang Engkau beri kepada saya untuk membuat pilihan. Dan anugerahkan agar kiranya saya dapat beristirahat di sungai kasih-Mu dengan mengambil tanggung jawab yang sehat untuk hidup saya. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Minggu 3
Buatlah Genogram Keluarga Anda
Allah menciptakan kita sedemikian rupa sehingga kita dibentuk dan dibangun dalam hubungan-hubungan, dan hubungan-hubungan yang paling membentuk kita adalah hubungan-hubungan dalam keluarga asal kita. Karena dosa atau kerusakan, beberapa dari pembentukan yang kita alami seiring bertumbuh mengandung kesalahan atau rasa sakit, seperti bagaimana anggota-anggota keluarga anda berbicara kepada satu sama lain, terlibat dalam perselisihan, mengungkapkan amarah, atau berurusan dengan emosi-emosi tertentu. Sebagai akibat pemberontakan yang salah ini, kita harus mempelajari kembali apa artinya untuk menjadi anggota dan dibentuk oleh keluarga Yesus.
Sebuah genogram adalah alat yang kuat untuk membantu kita menyadari bagaimana pola-pola dosa atau kerusakan dalam keluarga asal kita - kembali ke tiga atau empat generasi sebelumnya - dapat menghalangi pertumbuhan rohani dan emosi kita dalam Kristus. Kesadaran ini menguatkan kita untuk menanggalkan “manusia lama” dan mengenakan “manusia baru” dalam Kristus. Kita mati bagi cara-cara lama dan mempelajari cara-cara baru untuk hidup di dunia. Hal ini memang sulit dan membutuhkan keberanian dan kekuatan, tetapi kekuatan itu bukan berasal dari kita, tetapi dari persatuan dengan Yesus, yang menetapkan kita dalam kasih Bapa dan menguatkan kita dengan Roh Kudus.
Hari 1: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Yesaya 45:1-3
1 Beginilah firman Tuhan: “Inilah firman-Ku kepada orang yang Kuurapi, kepada Koresh yang tangan kanannya Kupegang supaya Aku menundukkan bangsa bangsa di depannya dan melucuti raja-raja;supaya Aku membuka pintu-pintu di depannya dan supaya pintu-pintu gerbang tidak tinggal tertutup: 2 Aku sendiri hendak berjalan di depanmu dan hendak meratakan gunung-gunung, hendak memecahkan pintu-pintu tembagadan hendak mematahkan palang-palang besi. 3 Aku akan memberikan kepadamu harta benda yang terpendamdan harta kekayaan yang tersembunyi,supaya engkau tahu, bahwa Akulah Tuhan, Allah Israel, yang memanggil engkau dengan namamu.”
Renungan
Apakah anda tahu bahwa Allah terkadang memberi kita “harta benda yang terpendam” dan mengungkapkan “harta kekayaan yang tersembunyi”? Bukankah ini adalah janji yang menarik? Dan hal ini mungkin benar terutama ketika kita memilih untuk memasuki tempat-tempat gelap dari masa lalu.
Kehidupan Abraham Lincoln memberi gambaran yang indah tentang hal ini. Lincoln berjuang melawan depresi berat dari umur yang sangat muda. Pada usia 20an, tetangga-tetangganya terkadang mengajaknya ke rumah mereka selama satu atau dua minggu untuk mengawasinya untuk mencegahnya melakukan bunuh diri. Pada usia 20an dan 30an, ia mengalami gangguan mental sebanyak tiga kali. Sebagai pengacara negara yang hanya memiliki pengalaman satu tahun di sekolah formal, Lincoln memiliki sejarah kegagalan saat menjadi calon untuk jabatan publik. Ketika ia akhirnya terpilih menjadi presiden, ia dianggap sebagai orang udik desa dan seorang aib. Dalam tahun-tahun pertamanya sebagai presiden, kegagalan-kegagalan dan kemunduran-kemunduran Lincoln menjadi sumber ejekan masyarakat yang kejam.
Dalam buku berjudul Lincoln's Melancholy, penulis Joshua Wolf Shenk menggambarkan bagaimana Lincoln mampu memadukan kesedihan dan kegagalan-kegagalannya menjadi tujuan yang lebih besar. Shenk berpendapat bahwa, sebenarnya, penderitaan dan kelemahan-kelemahan Lincoln yang memicu kehebatannya dan mendorong perubahan pribadinya. Apapun yang Lincoln pendam, terlihat jelas bahwa kerelaannya untuk mengakui dan memadukan seluruh dirinya adalah hal yang memampukannya untuk melayani dan memimpin sebuah bangsa yang dalam bahaya besar keruntuhan. Sebagai hasilnya, ia dikenal oleh banyak orang sebagai presiden Amerika terhebat.
Anda dan saya mungkin tidak seperti Abraham Lincoln atau dipaksa untuk menghadapi tantangan-tantangan yang ia alami, tetapi kita tetap bisa mengikuti jejak-jejaknya dengan memilih untuk menerima diri kita secara keseluruhan. Kita dapat mencari harta benda di bagian-bagian masa lalu kita yang gelap. Jika kita rela untuk mempercayai-Nya, Allah bahkan dapat memakai kelemahan-kelemahan dan kesulitan-kesulitan kita untuk menyatakan diri-Nya kepada kita.
Pertanyaan Refleksi
Kegelapan apa - kemunduran, kegagalan, kekecewaan, penderitaan, kesalahan - yang pertama kali datang ke pikiran anda ketika anda memikirkan masa lalu anda?
Bagaimanakah Allah mungkin ingin untuk menyatakan diri-Nya kepada anda saat anda menyerahkan rasa sakit masa lalu anda kepada-Nya?
Doa
Bapa, saya mempersembahkan masa lalu saya kepada-Mu, menempatkan kepercayaan saya dalam kebenaran bahwa Engkau adalah Tuhan sejarah, termasuk sejarah saya. Saya tidak bisa melihat semua yang Engkau lihat, tetapi saya meminta Engkau untuk menolong saya beristirahat dalam kasih dan kuasa-Mu, mempercayai bahwa Engkau sedang mengerjakan rencana baik di dalam dan melalui saya - demi saya dan demi dunia. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam dan tenang (2 menit)
Hari 1: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Ayub 42:1-6, 12-13, 16
1 Maka jawab Ayub kepada Tuhan: 2 “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. 3 Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui. 4 Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku. 5 Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. 6 Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.”
12 Tuhan memberkati Ayub dalam hidupnya yang selanjutnya lebih dari pada dalam hidupnya yang dahulu; ia mendapat empat belas ribu ekor kambing domba, dan enam ribu unta, seribu pasang lembu, dan seribu ekor keledai betina. 13 Ia juga mendapat tujuh orang anak laki laki dan tiga orang anak perempuan;…
16 Sesudah itu Ayub masih hidup seratus empat puluh tahun lamanya; ia melihat anak-anaknya dan cucu-cucunya sampai keturunan yang keempat.
Renungan
Ayub adalah orang yang memiliki iman dan karakter yang besar, dan ia adalah salah satu orang yang paling saleh dan dihormati dalam komunitasnya. Namun, ia sangat menderita dalam segala cara - secara fisik, sosial, rohani, dan emosi. Segala kekuatan-kekuatan jahat menghampirinya. Musuh-musuh menyerbu. Petir menyambar. Angin topan melepaskan amarahnya. Hal yang tidak terpikirkan terjadi - salah satu orang yang paling kaya tiba-tiba dikurangi menjadi orang miskin. Kemudian, anaknya terbunuh dalam bencana alam yang dahsyat. Akhirnya, ia menjadi sangat sakit sehingga ia hampir tidak dapat dikenali. Dalam malam kegelapan jiwa ini - sebuah musim dimana Allah terasa tidak hadir - Ayub bergumul. Ia ragu. Ia bertanya-tanya. Ia marah. Ia ingin mati. Tetapi ia tetap berhubungan dengan Allah, percaya kepada kebaikan Allah, bahkan saat ia mencoba untuk mengerti penderitaannya. Pada akhirnya, ia dirubah secara rohani dan dibawa ke tempat yang baru oleh Tuhan, yang “memberkati Ayub dalam hidupnya yang selanjutnya lebih dari pada dalam hidupnya yang dahulu” (Ayub 42:12).
Kisah Ayub bermaksud untuk mendorong kita untuk mempercayai Allah yang hidup dengan banyaknya “kematian-kematian” yang kita alami dalam hidup kita. Mengapa? Karena ada banyak sekali buah-buah berlimpah yang akan mekar dalam hidup kita sebagai hasil dari rasa sakit dan kehilangan-kehilangan di masa lalu kita. Kita dapat mempercayai Yesus, yang menunjukkan kita bahwa kebangkitan dan perubahan selalu mengikuti penderitaan dan kematian.
Pertanyaan Refleksi
Bagaimanakah Allah merubah anda melalui rasa sakit dan kehilangan kehilangan di masa lalu anda?
Doa
Tuhan Yesus, ketika saya berpikir tentang kehilangan-kehilangan di masa lalu saya, saya mengakui bahwa saya tidak mengerti mengapa Engkau mengizinkan rasa sakit tersebut. Melihat Ayub memang membantu, tetapi saya masih kesulitan untuk percaya bahwa hal baik dapat datang dari penderitaan. Anugerahkan saya dengan keberanian untuk merasakan, untuk memperhatikan, dan untuk menanti-Mu. Kiranya doa Ayub menjadi doa saya juga: “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau”. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 2: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: 2 Korintus 12:7-10
7 Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. 8 Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. 9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 10 Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.
Renungan
Kekecewaan-kekecewaan yang menyakitkan di masa lalu kita dan kesulitan-kesulitan yang kita hadapi pada saat ini seringkali tempat-tempat terakhir dimana kita mencari Allah. Mereka tampaknya menahan dan membatasi masa depan kita. Tetapi, jika kita gagal untuk mencari Allah dalam batasan-batasan dan penderitaan-penderitaan ini, kita seringkali melewati-Nya.
Ketika kita mencari Allah dalam keterbatasan-keterbatasan kita - daripada mengerahkan seluruh kekuatan kita kepada mencoba untuk menghilangkan atau menghindari mereka - kita mulai melihat bahwa keterbatasan-keterbatasan kita memiliki peluang untuk menjadi sumber kekuatan kita yang paling besar. Apakah anda ingat kata-kata Rasul Paulus? Kuasa Allah menjadi sempurna dalam kelemahan kita, bukan dalam kekuatan kita (2 Korintus 12:9).
Pikirkanlah contoh-contoh berikut dari Alkitab:
-
Musa terbatas oleh fakta bahwa ia lambat dalam berbicara dan masa lalunya dipenuhi kegagalan. Allah membuatnya jelas bahwa Ia hadir dalam dan melalui keterbatasan-keterbatasan Musa: “Siapakah yang membuat lidah manusia? … bukankah Aku, yakni Tuhan? Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan” (Keluaran 4:11-12). Lalu, Musa memimpin dua sampai tiga juta orang selama 40 tahun kemudian dalam kuasa Allah.
-
Nabi Yeremia terbatas oleh sifatnya yang selalu murung dan penolakan berulang-ulang. Ia mengutuk hari ketika ia dilahirkan dan ingin mati (Yeremia 20:14-18). Namun, Allah hadir dalam dan melalui keterbatasan-keterbatasan watak dan keadaan hidupnya, memberinya pandangan tentang hati Allah yang tetap menyentuh dan mengajar pengikut-pengikut-Nya sampai hari ini.
-
Abraham terbatas oleh kemandulan Sarah dan beberapa puluh tahun bertanya-tanya apakah ia akan pernah memiliki ahli waris yang sah. Ia menderita berdasarkan kenyataan, namun ia bertemu Allah dalam cara-cara yang luar biasa melalui perjalanan imannya. Ketika berumur 90 tahun, Sarah mengandung Ishak, Allah memenuhi janji-Nya untuk membuat Abraham menjadi bapa banyak bangsa, termasuk kita semua (Kejadian 17:4, Roma 4:17). Kisah Abraham memberi kita pengungkapan tentang siapa Allah - di mana semuanya keluar dari kesulitan-kesulitan dan keterbatasan keterbatasan Abraham.
Batasan-batasan dan luka-luka yang kita bawa seringkali adalah tempat di mana Allah mempertunjukkan kuasa-Nya dan memberi kita karunia-karunia-Nya yang terselubung. Hal ini adalah salah satu kebenaran yang paling berlawanan dengan intuisi dan paling sulit dalam Alkitab untuk diterima karena hal ini berada di hadapan kecenderungan alami kita untuk selalu ingin memegang kendali dan mengelola dunia. Dan lagi, tepat di dalam tempat-tempat sulit inilah Allah rindu untuk mengajar kita, menyediakan bagi kita, dan mengungkapkan diri-Nya kepada kita.
Pertanyaan Refleksi
Bagaimanakah keterbatasan saat ini atau kegagalan masa lalu dapat menjadi karunia kasih Allah untuk anda, dan karunia yang anda dapat beri kepada dunia?
Doa
Tuhan, Engkau tahu bahwa saya menahan keterbatasan-keterbatasan dan melihat kepada kekecewaan-kekecewaan yang menyakitkan. Mereka adalah tempat terakhir dimana saya ingin mencari Engkau. Tolong saya untuk melihat bahwa bagian-bagian menyakitkan dari masa lalu saya atau saat ini dapat menjadi kesempatan-kesempatan bagi saya untuk melihat Engkau dengan jelas dan mengerti bagaimana Engkau mungkin ingin memakai saya di masa depan. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 3: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Kejadian 12:1-4
1 Berfirmanlah Tuhan kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; 2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. 3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” 4 Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.
Renungan
Ketika Alkitab menggunakan kata keluarga, ini tidak hanya menunjuk kepada orangtua dan anak-anak, tetapi kepada seluruh keluarga besar dalam tiga atau empat generasi. Berarti, keluarga anda, dalam pengertian Alkitab, termasuk saudara-saudara laki-laki dan perempuan, paman paman, bibi-bibi, kakek-nenek, kakek-nenek buyut, dan paman dan bibi buyut, dan orang-orang penting lain sampai pertengahan 1800 an. Berkat-berkat dan dosa-dosa dari keluarga besar ini dalam beberapa generasi secara mendalam mendampaki siapa kita sekarang. Untuk alasan inilah, kita berkata, “Yesus mungkin ada dalam hati anda, tetapi nenek moyang ada di tulang anda,” maksud dari pepatah ini adalah nenek moyang membayangi generasi-generasi dalam keluarga manapun.
Untuk menanggapi undangan Allah dan menerima janji Allah, Abraham harus meninggalkan keluarganya. Seperti yang harus kita lakukan sekarang, ia harus menanggalkan pola-pola yang berdosa dan tidak sehat dari keluarga asalnya dan belajar untuk hidup menurut cara Allah dalam keluarga Allah.
Kaethe Weingarten, seorang profesor di Sekolah Kedokteran Harvard, telah melakukan penelitian yang luas tentang bagaimana pengalaman - pengalaman traumatis dalam satu generasi diwariskan kepada generasi selanjutnya. Ia mempelajari, sebagai contoh, penyintas Holokaus dan keluarga-keluarga mereka, penyintas dari serangan-serangan teroris, dan anak-anak dari orangtua yang menderita gangguan stres pascatrau ma (PTSD). Ia menulis: Apa yang diwariskan bukanlah trauma itu sendiri, tetapi dampaknya. … Berdiam adalah mekanisme inti bagaimana trauma dari satu generasi disampaikan kepada generasi berikutnya. Kita sudah terbiasa untuk berpikir bahwa berdiam berarti tidak ada suara, tetapi berdiam bekerja dalam keluarga-keluarga dalam cara-cara yang lebih kompleks dan membingungkan. Berdiam dapat menyampaikan segudang makna.
Hal ini adalah petanya sendiri:
Jangan pergi ke sana;
jangan mengatakan itu;
jangan sentuh;
terlalu banyak;
terlalu sedikit;
ini menyakitkan;
ini tidak.…
Berdiam…
terjadi bersamaan dengan banyak peristiwa-peristiwa yang lain. Rasa malu, suatu pengaruh yang menyakitkan dimana seseorang merasa rentan seperti “kekurangan suatu unsur dasar dalam beberapa cara penting sebagai manusia” adalah salah satu dari peristiwa-peristiwa tersebut.
Alkitab mengajar bahwa kita dapat meninggalkan pola-pola negatif yang diwariskan kepada kita dari generasi ke generasi. Dan melalui kasih karunia dan kuasa Allah, kita dapat mempelajari cara-cara yang lebih sehat untuk hidup dalam keluarga baru Yesus. Perubahan dan kebebasan dapat tercapai melalui kebenaran yang membebaskan kita.
Pertanyaan Refleksi
Hal apa yang pertama kali muncul di pikiran anda ketika anda berpikir tentang pesan tidak sehat yang disampaikan melalui berdiam dalam keluarga asal anda? Bagaimanakah anda dapat merasakan bahwa Yesus sedang mengundang anda untuk menanggalkan pesan tersebut untuk hidup dengan cara-cara yang lebih sehat dalam keluarga Allah?
Doa
DOA BERSERAH
Charles de Foucauld
Bapaku, Aku menyerahkan diriku kepada-Mu, Jadikan aku seperti apa yang Engkau kehendaki. Apa pun yang Engkau jadikanku, Aku berterima kasih. Aku siap untuk semuanya. Aku menerima semuanya. Asalkan kehendak-Mu jadi di dalam aku, Di semua makhluk-Mu, Aku tidak menginginkan yang lain, Tuhan. Kuserahkan jiwaku di tangan-Mu, Aku memberikannya kepada-Mu, Tuhan, Dengan semua kasih di hatiku, Karena aku mencintai-Mu, Dan karena bagiku itu adalah kebutuhan akan kasih Untuk memberi diriku sendiri, Untuk menempatkan diriku di tangan-Mu tanpa syarat, Dengan kepercayaan yang tidak terbatas, Karena Engkau adalah Bapaku.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 4: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Lukas 4:1-12
1 Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. 2 Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis. Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar. 3 Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.” 4 Jawab Yesus kepadanya: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja.” 5 Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia. 6 Kata Iblis kepada-Nya: “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. 7 Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu.” 8 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” 9 Kemudian ia membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah, 10 sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau, 11 dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” 12 Yesus menjawabnya, kata-Nya: “Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!
Renungan
Kehidupan dipenuhi oleh pengalaman-pengalaman padang gurun, saat saat ketika kita menemukan diri kita berada dalam tempat-tempat yang tampaknya tandus dan rentan terhadap godaan oleh Sang Jahat. Pengalaman-pengalaman ini menyakitkan, sulit, dan menyimpangkan. Hal ini mungkin tidak lebih jelas dimanapun selain ketika kita melihat lebih dekat sejarah-sejarah keluarga kita dan menyelidiki dampak mereka kepada kita. Kita tiba-tiba menemukan diri kita dalam padang gurun, bertanya tanya bagaimana menyatukan pengalaman-pengalaman masa lalu yang sulit dengan masa depan yang menjanjikan. Namun, Yesus mencontohkan bagi kita betapa pentingnya mengizinkan Roh Kudus untuk memimpin kita di dalam dan melalui tempat tempat ini agar Allah dapat melakukan pekerjaan yang besar di dalam kita.
Setiap perjalanan rohani membawa kita ke dalam kenyataan kenyataan tersulit dalam hidup kita. Kita diundang oleh Allah untuk berserah kepada proses ini dan bertemu dengan kegelapan yang kita pendam. Jika kita menolak untuk melakukan hal tersebut, kita pasti akan menyebarkan kegelapan tersebut keluar, menjadikan sesama sebagai musuh kita. Pengalaman-pengalaman padang gurun dapat melakukan pekerjaan yang besar di dalam kita - tetapi hanya seizin kita. Perhatikan bahwa Yesus pergi ke padang gurun “penuh dengan Roh Kudus” (Lukas 4:1), lalu kembali dari padang gurun “dalam kuasa Roh” (Lukas 4:14). Padang gurun memperdalam dan menguatkan-Nya, membuat-Nya siap untuk memulai pelayanan-Nya secara aktif. Allah memakai saat-saat yang sulit, penderitaan - penderitaan, dan pencobaan-pencobaan untuk menghasilkan kedewasaan dan kebesaran di dalam kita (Yakobus 1:2-4). Kuncinya adalah jika kita secara sabar tetap berada bersama Yesus, mempercayai Allah untuk mengungkapkan suatu pola yang lembut dan indah sepanjang hidup kita, yang terlihat hanya jika kita melihat ke masa lalu.
Pertanyaan Refleksi
Apakah satu bagian tertentu dalam hidup anda yang Allah sedang mengundang anda untuk dengan sabar percaya kepada-Nya hari ini?
Doa
Tuhan, beri saya keberanian untuk mengikuti Engkau dalam perjalanan unik yang Engkau miliki untuk saya, bahkan ketika perjalanan tersebut memimpin saya kepada padang gurun. Tolong saya untuk menyerahkan kebutuhan dan keinginan saya untuk selalu mengendalikan orang-orang dan keadaan-keadaan. Anugerahkan saya kekuatan hari ini untuk hanya beristirahat dalam tangan kasih-Mu. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 5: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Yesaya 55:6-9
6 Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! 7 Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada Tuhan, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. 8 Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu,dan jalanmu bukanlah jalan-Ku,demikianlah firman Tuhan. 9 Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.
Renungan
Ketika kita menderita, salah satu alat paling kuat yang kita miliki adalah kemampuan untuk menemukan arti dan memeluk harapan di tengah tengah penderitaan tersebut. Hal ini adalah baik pandangan dan pengalaman yang dihidupi oleh Viktor Frankl, seorang psikiater dan penyintas dari empat kamp konsentrasi Nazi. Hanya satu dari 28 orang yang memasuki kamp-kamp tersebut dan kembali hidup-hidup. Frankl menyaksikan bahwa mereka yang mengetahui bahwa ada tugas yang menanti mereka untuk dipenuhi paling mungkin bertahan hidup: Tahanan yang kehilangan harapan dengan masa depan - masa depannya - ditujukan untuk mati. Karena tahanan itu kehilangan kepercayaannya dengan masa depan, ia juga kehilangan pegangan rohaninya; ia membiarkan dirinya menurun dan menjadi sasaran kerusakan mental dan fisik.… Kapanpun ada kesempatan untuk hal ini, seseorang harus memberi tahanan-tahanan tersebut sebuah alasan - sebuah tujuan - dalam hidup mereka, untuk menguatkan mereka dalam menanggung keadaan mengerikan dalam hidup mereka. Duka cita kepada ia yang tidak lagi memiliki arti dalam hidupnya, tidak memiliki tujuan, tidak memiliki maksud, dan karena itu, berpikir bahwa tidak ada gunanya melanjutkan hidup. Orang itu segera kehilangan nyawanya.…
Tidak terlalu penting apa yang kita harapkan dari kehidupan, melainkan apa yang diharapkan kehidupan dari kita.… Kehidupan pada akhirnya berarti… untuk memenuhi tugas-tugas yang diberikannya kepada setiap orang. Seseorang yang menyadari tanggung jawab yang ia tanggung terhadap manusia yang dengan penuh kasih menantinya, atau terhadap pekerjaan yang belum selesai, tidak akan pernah dapat membuang hidupnya. Ia mengetahui “alasan” dari kehidupannya, dan akan mampu menanggung “keadaan” apapun.… Mereka membentuk tujuan orang tersebut, yang berbeda dan unik untuk setiap orang.… Maka, perhatian utama manusia bukanlah untuk mendapatkan kesenangan atau untuk menghindari rasa sakit, melainkan untuk melihat arti dalam hidupnya.
Ketika dihadapi dengan kejahatan dan penderitaan yang dahsyat, seperti Holokaus, hanya alami jika bertanya, Mengapa? Jawabannya tetap diselubungi misteri. Tetapi, apa yang kita ketahui adalah bahwa pikiran pikiran Allah bukanlah pikiran-pikiran kita, jalan-jalan-Nya juga bukan jalan-jalan kita. Dan kita mengetahui bahwa dari kejahatan terbesar yang pernah terjadi di Bumi - penyaliban Yesus - telah datang kebaikan terbesar dalam seluruh sejarah. Jadi Allah mengundang kita untuk mempercayai-Nya, menempatkan harapan kita di dalam kebaikan-Nya, dan yakin bahwa karena Ia sangat besar dan berdaulat, Ia pada akhirnya akan mengubah semua kejahatan menjadi kebaikan.
Pertanyaan Refleksi
Bagaimanakah Allah sedang mengundang anda untuk mempercayai-Nya hari ini?
Doa
Tuhan, cara-cara-Mu sangat jauh lebih tinggi daripada cara-cara saya, dan pikiran - pikiran-Mu sangat jauh lebih besar dari pikiran pikiran saya. Walaupun saya mungkin tidak selalu melihat akhirnya dari awal, saya mempercayai Engkau hari ini dengan masa depan saya. Dan saya mempersembahkan hidup saya kepada-Mu atas segala pekerjaan yang Engkau telah berikan kepada saya. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 2: Siang/Malam
Berdiam,tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Markus 15:33-39
33 Pada jam dua belas, kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga. 34 Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? 35 Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: “Lihat, Ia memanggil Elia.” 36 Maka datanglah seorang dengan bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam lalu mencocokkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum serta berkata: “Baiklah kita tunggu dan melihat apakah Elia datang untuk menurunkan Dia.” 37 Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya. 38 Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah. 39 Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!”
Renungan
Ketika kita dengan berani menghadapi luka-luka dan kegagalan kegagalan dari masa lalu kita dan keluarga asal kita, hal ini dapat memenuhi kita dengan ketakutan atau kengerian. “Dimanakah Allah?” kita bertanya. “Mengapakah Ia mengizinkan hal-hal ini terjadi?” Hal ini dapat menjadi pengalaman yang menyakitkan dan membingungkan. Ketika Yesus berseru kepada Allah di salib, Bapa tidak menjawab. Namun, Allah hadir dengan penuh kuasa dalam kesunyiaan. Yesus tetap berada bersama Bapa-Nya walaupun Ia tidak “merasakan-Nya” - dan dalam prosesnya, Ia mengajar kita apa itu iman sejati. Iman sejati memampukan kita untuk memanggil Allah bahkan ketika kita tidak merasakan hadirat-Nya. Dalam perjalanan rohani ini, kita dapat menjadi sangat tergantung kepada perasaan-perasaan ketika kita tidak “merasakan Allah” dalam cara yang seharusnya dalam pikiran kita, kita menyerah atau mengambil alih masalah tersebut. Tetapi bertumbuh secara rohani membutuhkan kita untuk meninggalkan ketergantungan kita kepada perasaan-perasaan tentang Allah untuk mengasihi Allah apa adanya - bahkan ketika Ia tampaknya diam dan jauh. Untuk alasan ini, Alkitab mengajar kita bahwa kesunyiaan Allah, seringkali, sebenarnya ada lah karunia dan ungkapan kasih-Nya kepada kita. Faktanya, kita menemukan bahwa ketika Allah tampaknya paling tidak hadir, Ia lebih dekat kepada kita dan lebih berkuasa dalam pekerjaan-Nya.
Pertanyaan Refleksi
Bagaimanakah anda dapat berpegang kepada Allah walaupun Ia diam dan anda tidak “merasakan hadirat-Nya”?
Doa
Bapa, sangatlah mudah bagi saya untuk membiarkan perasaan perasaan saya atau keadaan-keadaan saya menjadi indikator atas apakah Engkau hadir atau tidak hadir dalam hidup saya. Tolong saya untuk melihat bahwa walaupun saya mungkin tidak merasakan Engkau dalam cara-cara yang saya inginkan, Engkau masih bekerja dengan sangat berkuasa di dalam hidup saya. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 3: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Lukas 2:41-43, 49-52
41 Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. 42 Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. 43 Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya.
49 Jawab-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” 50 Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. 51 Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya. 52 Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.
Renungan
Yesus menghabiskan hampir 30 tahun dengan tujuan yang tampaknya terlambat sebelum ia memulai pelayanan publik-Nya. Kita belajar tentang-Nya pada usia 12 dalam bagian Firman ini, tetapi tidak mendengar hanya sedikit dari-Nya sampai Ia memulai pelayanan-Nya sebagai orang dewasa. Kita hanya mengetahui bahwa Ia “bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia” (Lukas 2:52), menerima pekerjaan Allah yang tersembunyi dan lambat di dalam-Nya selama bertahun-tahun yang tidak terlihat tersebut.
Penulis Alicia Britt Chole menulis dengan menarik tentang tahun-tahun ini yang tidak diketahui dalam kehidupan Yesus: Hanya tiga tahun, kurang dari 10 persen, dari kehidupan Yesus dapat terlihat dalam Firman-Firman Alkitab. Lebih dari 90 persen dari kehidupan duniawi-Nya ditenggelamkan menjadi tidak terlihat.… Pembaca-pembaca Alkitab hanya melihat puncak gunung es dari siapa Yesus sebenarnya, dan mereka tidak pernah dapat membayangkan kebesaran yang tidak dapat dihancurkan tumbuh tepat di bawah permukaan kehidupan Yesus yang tidak dipertunjukkan.… “Apakah yang akan Yesus lakukan?” kita bertanya dengan sungguh sungguh.… Baik, sebagai permulaan, Ia memeluk kehidupan yang tersembunyi.… Dengan hidup-Nya (dan dengan hidup kita), adalah penting bahwa kita tidak salah memahami bahwa tidak terlihat sama dengan tidak penting.…
Dari pandangan Allah, musim-musim yang tidak diketahui adalah tempat-tempat suci. Musim-musim tersebut benar-benar membentuk; untuk beristirahat di dalam mereka, tidak terburu-buru - dan pastinya tidak akan disesali.… Tahun-tahun yang tersembunyi adalah tempat kelahiran yang mengejutkan bagi kebesaran rohani yang sejati.
Pola hidup Yesus dimaksudkan untuk menjadi contoh bagi kita. Kita juga harus memuridkan, memikul salib kita, dan menerima kuasa kebangkitan. Musim-musim kita yang tidak diketahui dan tidak terlihat bersifat suci dan tidak boleh terburu-buru. Seperti yang Ia lakukan dalam Yesus, Allah sedang melahirkan kebesaran rohani yang sejati dalam kita selama waktu-waktu dan tempat-tempat kita yang tersembunyi.
Pertanyaan Refleksi
Bagaimanakah Allah mungkin sedang melakukan pekerjaan yang penting tapi tidak terlihat di dalam, melalui, dan meskipun tersembunyi yang anda sedang alami sekarang?
Doa
Bapa, terkadang saya bertindak seolah-olah saya bertanggung jawab mengelola dunia. Ampunilah saya. Ajarlah saya untuk bersabar dan untuk tetap tersembunyi dalam waktu yang tepat. Kiranya saya tidak membuat terburu-buru pekerjaan-Mu yang lambat dan suci saat membentuk Kristus di dalam saya - bahkan ketika saya tidak mengerti apa yang Engkau kerjakan. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 4: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Kejadian 37:17b-20; 50:19-21
17b Maka Yusuf menyusul saudara-saudaranya itu dan didapatinyalah mereka di Dotan. 18 Dari jauh ia telah kelihatan kepada mereka. Tetapi sebelum ia dekat pada mereka, mereka telah bermufakat mencari daya upaya untuk membunuhnya. 19 Kata mereka seorang kepada yang lain: “Lihat, tukang mimpi kita itu datang! 20 Sekarang, marilah kita bunuh dia dan kita lemparkan ke dalam salah satu sumur ini, lalu kita katakan: seekor binatang buas telah menerkamnya. Dan kita akan lihat nanti, bagaimana jadinya mimpinya itu!” …
19 Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: “Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? 20 Memang kamu telah merekarekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah merekarekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. 21 Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga.” Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya.
Renungan
Salah satu keajaiban besar dari kedaulatan atau “kebesaran” Allah adalah cara Ia bergerak dengan tidak terlihat dalam dan melalui perkara-perkara manusia. Kita dapat mengamati ini dengan jelas dalam kehidupan Yusuf saat ia menderita sejumlah pengalaman-pengalaman yang traumatis dalam tangan keluarganya dan berakhir hidup diasingkan di Mesir selama beberapa puluh tahun. Bahkan ketika penderitaan dari satu kemunduran ke yang lainnya, Yusuf mempercayai bahwa Allah bagaimanapun caranya sedang memimpinnya kepada tujuan yang lebih besar.
Pakar Alkitab Walter Brueggemann menulis: Tema dari kisah Yusuf menyangkut kuasa Allah yang tersembunyi dan mutlak yang bekerja dalam dan melalui, tetapi juga melawan ben tuk - bentuk kekuatan manusia.… Temanya adalah Allah sedang memenuhi tujuan-Nya melalui dan melawan Mesir, melalui dan melawan Yusuf dan saudara-saudaranya.… Rencana - rencana jahat orang banyak tidak mampu mengalahkan tujuan Allah. Sebaliknya, mereka tanpa sadar menjadi cara-cara yang mendorong rencana Allah lebih jauh.
Phillips Brooks, seorang pengkhotbah Amerika dari abad ke-17, meringkas pekerjaan penebusan Allah dengan cara ini:
Anda harus mengizinkan Allah mengajar anda sebagai satu-satunya cara untuk menyingkirkan masa lalu dan membuat masa depan darinya. Allah tidak akan menyia-nyiakan apapun. Allah tidak pernah membuang apa-apa dari masa lalu kita ketika kita menyerahkan diri kita kepada-Nya. Ia adalah Tuhan Allah Mahakuasa! Ia memakai setiap kesalahan, dosa, dan penyimpangan yang kita lakukan dalam perjalanan hidup menjadi masa depan penuh berkat. Sebagian besar dari bagaimana Allah memenuhi masa depan tersebut masih sebuah misteri. Kita hanya diundang untuk mempercayai kebaikan dan kasih-Nya.
Pertanyaan Refleksi
Harapan-harapan dan mimpi-mimpi apa yang terlintas di pikiran anda ketika anda memikirkan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan apapun?
Doa
Bapa, saya percaya kepada kebaikan dan kasih-Mu hari ini. Engkau menempatkan saya dalam keluarga tertentu, dalam tempat dan saat tertentu dalam sejarah manusia. Semua yang saya miliki, saya menerimanya dari Engkau (1 Korintus 4:7). Ketika saya tidak dapat melihat apa yang Engkau lihat, saya beristirahat dalam kasih-Mu dan mempercayai kuasa-Mu hari ini. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 5: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Mazmur 130:1-2, 5-7
1 Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan! 2 Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku.
5 Aku menanti-nantikan Tuhan, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya. 6 Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih daripada pengawal mengharapkan pagi, lebih daripada pengawal mengharapkan pagi. 7 Berharaplah kepada Tuhan, hai Israel! Sebab pada Tuhan ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan.
Renungan
Mazmur ini menangkap kenyataan bahwa “menanti Tuhan” adalah prinsip dasar dari kehidupan rohani. Faktanya, ketika kita menanti, kita sedang melakukan salah satu tanggung jawab rohani yang paling penting; kita mengizinkan Allah untuk bekerja dan melapangkan jiwa kita. Ini adalah cara penulis dan pendeta Eugene Peterson menggambarkan tujuan dan makna dari menanti Allah: Penjelasan panjang dan pendeknya adalah bahwa ada lebih banyak yang terjadi dalam perjalanan rohani selain mencapai suatu tujuan. Dan ada lebih banyak yang terjadi dalam perjalanan itu selain apa yang kita lakukan. Ada juga hal-hal yang Allah lakukan. Oleh karena itu, kita “menanti Tuhan”. Kita berhenti, baik dengan pilihan sendiri atau melalui keadaan, agar kita bisa mengingat dan memperhatikan dan menerima apa yang Allah kerjakan di dalam dan untuk kita, di dalam dan untuk sesama, dalam perjalanan rohani.
Kita menanti jiwa kita untuk menyusul tubuh kita. Menanti Tuhan adalah bagian terbesar dari apa yang kita lakukan dalam perjalanan karena bagian terbesar dari apa yang terjadi dalam perjalanan adalah apa yang Allah kerjakan, apa yang Allah katakan.… Menanti bukanlah “menunggu” dengan malas. Kita menanti “pagi hari”, yang berarti kita menanti dalam harapan. Kita menanti Allah untuk melakukan apa yang kita tidak bisa lakukan untuk diri kita sendiri “di dalam kedalaman”. Ketika Ia selesai melakukannya, kita melanjutkan perjalanan kita.
Kebutuhan untuk penantian akan Tuhan tidak lebih penting dimanapun juga selain ketika kita mempertimbangkan sejarah dan keluarga asal kita. Dimanakah Allah? Mengapa Ia mengizinkan peristiwa-peristiwa tertentu untuk terjadi? Mengapa Ia mengizinkan saya untuk dilahirkan dalam keluarga yang tertentu dan pada saat yang tertentu? Dan untuk tujuan apa? Allah mengatakan bahwa kita hanya dapat melihat dan mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti kita akan mengenal dengan sempurna, seperti kita sendiri dikenal sepenuhnya (lihat 1 Korintus 13:12). Sementara itu, Allah mengundang kita untuk menanti-Nya, mempercayai kebajikan dan kasih-Nya yang melampaui pengetahuan manusia.
Pertanyaan Refleksi
Sebutkan satu bagian dari hidup anda dimana anda penasaran tentang apa yang Allah mungkin sedang lakukan - terutama yang berhubungan dengan sejarah keluarga asal anda. Bagaimanakah Ia sedang mengundang anda untuk menanti dengan sabar untuk-Nya?
Doa
Jangan biarkan hal yang mengganggu Anda. Jangan biarkan hal yang membuat Anda takut. Semua hal berlalu. Allah tidak akan berubah. Kesabaran mendapatkan segalanya. Ia yang berpegang teguh kepada Allah tidak akan menginginkan apapun. Allah sudah mencukupi. -Teresa dari Ávila
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Minggu 4
Eksplorasi Gunung Es
Untuk “mengeksplorasi gunung es” adalah untuk melihat ke bagian bawah permukaan hidup kita, mengenali kuasa-kuasa yang tersembunyi tetapi yang kuat untuk membentuk cara kita memberi keputusan-keputusan dan menjalani hubungan hubungan. Dengan mengakui dan menyebutkan kenyataan-kenyataan ini, kita membangkitkan kesadaran emosi, yang pada gilirannya akan memampukan kita untuk mengolah emosi-emosi kita dalam cara yang sehat, dan untuk mengintegrasikan mereka dengan pemahaman kita tentang kehendak Allah.
Dalam kitab Mazmur, Raja Daud memberi kita contoh yang kuat tentang hal ini ketika ia mencurahkan isi hatinya kepada Allah (lihat Mazmur 62:8). Pada saat kita memulai perjalanan yang serupa, kita mengalami kasih karunia baru yang semakin mudah didekati, baik, dan lembut - tidak hanya dengan Allah, tetapi juga dengan mereka di sekitar kita.
Hari 1: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Matius 26:36-44
36 Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa.” 37 Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, 38 lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.” 39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” 40 Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? 41 Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” 42 Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” 43 Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat. 44 Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga.
Renungan
Dalam beberapa kelompok orang-orang Kristen, menekan atau menyangkal emosi asli dipandang sebagai kebajikan atau mungkin bahkan sebuah karunia Roh Kudus. Menyangkal amarah, mengabaikan rasa sakit, melewatkan depresi, melarikan diri dari kesepian, dan menghindari keraguan tidak hanya dianggap sebagai hal yang normal tetapi sebenarnya merupakan cara-cara yang saleh dalam menjalani kehidupan rohani seseorang.
Tetapi ini bukan merupakan contoh yang kita temukan di dalam Yesus yang secara bebas mengekspresikan emosi-Nya tanpa malu atau jengah:
• Ia mencucurkan air mata (Lukas 19:41)
• Ia dipenuhi sukacita (Lukas 10:21)
• Ia merasa sangat berduka (Markus 14:34)
• Ia marah dan berduka cita (Markus 3:5)
• Ia sedih dan gentar (Matius 26:37)
• Hatinya tergerak oleh belas kasihan (Lukas 7:13)
• Ia heran (Markus 6:6, Lukas 7:9
Yesus sama sekali bukan Mesias yang beku emosi. Di Taman Getsemani, kita melihat Yesus sebagai manusia seutuhnya - takut, sedih, dan menderita secara rohani. Ia didorong kepada tingkat tertinggi dari batas-batas kemanusiaan-Nya: “Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah” (Lukas 22:44). Jadi, kita harus bertanya kepada diri kita sendiri: Dari manakah kita mendapat ide bahwa mengakui dan mengekspresikan emosi asli, bagaimanapun juga, tidak begitu rohaniah? Dan mengapa kita mempercayai bahwa kita bisa - atau bagaimanapun bisa - bertumbuh dalam kedewasaan rohani tanpa pada saat yang sama bertumbuh dalam kedewasaan emosi?
Pertanyaan Refleksi
Dengan pengertian tentang kemampuan Yesus untuk mengekspresikan perasaan-perasaan-Nya kepada teman-teman dekat-Nya, bagaimanakah anda dapat menggambarkan kemampuan anda untuk melakukan hal tersebut? Apakah anda melakukannya dengan mudah, dengan canggung, dengan kesulitan, atau tidak pernah mencobanya?
Doa
Tuhan, tolong saya untuk memperlambat tempo saya sehingga saya dapat merasakan dan mengakui apa yang terjadi di dalam saya. Anugerahkan saya dengan keberanian untuk memasuki hubungan yang jujur dan otentik - dengan Engkau, dengan sesama, dan dengan diri saya sendiri - mempercayai bahwa Engkau akan menopang saya. Tolong saya untuk beristirahat dan rileks di dalam Engkau saat saya mengambil risiko untuk menjadi lebih transparan dan rentan dengan emosi-emosi saya. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 1: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Ayub 3:1-5a; 6:1-4
1 Sesudah itu Ayub membuka mulutnya dan mengutuki hari kelahirannya. 2 Maka berbicaralah Ayub: 3 “Biarlah hilang lenyap hari kelahiranku dan malam yang mengatakan: Seorang anak laki-laki telah ada dalam kandungan. 4 Biarlah hari itu menjadi kegelapan, janganlah kiranya Allah yang di atas menghiraukannya, dan janganlah cahaya terang menyinarinya. 5a Biarlah kegelapan dan kekelaman menuntut hari itu, awan-gemawan menudunginya.…
6:1 Lalu Ayub menjawab: 2 “Ah, hendaklah kiranya kekesalan hatiku ditimbang, dan kemalanganku ditaruh bersama-sama di atas neraca! 3 Maka beratnya akan melebihi pasir di laut; oleh sebab itu tergesa-gesalah perkataanku. 4 Karena anak panah dari Yang Mahakuasa tertancap pada tubuhku, dan racunnya diisap oleh jiwaku; kedahsyatan Allah seperti pasukan melawan aku.
Renungan
Ayub adalah salah satu orang terkaya pada masanya. Dalam istilah-istilah masa kini, kekayaannya termasuk armada mobil-mobil Rolls-Royce, pesawat-pesawat pribadi, kapal-kapal pesiar, perusahaan-perusahaan global yang berkembang pesat, dan kepemilikan perumahan yang besar. “Ia adalah orang yang terkaya dari semua orang di sebelah timur” (Ayub 1:3). Tetapi, setelah sebuah rangkaian bencana alam, sesuatu yang tidak terpikirkan terjadi - Ayub menjadi miskin dan ke-10 anak-anaknya mati dalam bencana alam yang dahsyat. Ketika ia mencoba berdiri, ia terjangkit “bisul-bisul menyakitkan” dari telapak kakinya sampai puncak kepalanya. Secara fisik, tampaknya ia dapat mati kapan saja. Nasihat belas kasih apa yang ia terima dari istrinya? “Kutukilah Allahmu dan matilah” (Ayub 2:9). Ayub menemukan dirinya kesepian, terkurung, dan tinggal di luar tembok-tembok kota di dalam tempat pembuangan sampah.
Seperti yang dikatakan Firman, Ayub sangat marah. Tetapi ada pelajaran untuk kita bahkan dalam amarah Ayub. Inilah cara penulis Philip Yancey menggambarkannya: Satu pesan tegas di dalam kitab Ayub adalah bahwa anda dapat mengatakan apapun kepada Allah. Lemparlah kepada-Nya duka cita anda, amarah anda, keraguan anda, kepahitan anda, pengkhianatan anda, kekecewaan anda - Ia mampu menyerap semuanya. Sesering tidak, orang-orang paling rohani di Alkitab ditunjukkan bersaing dengan Allah. Mereka memilih untuk pergi memincang, seperti Yakub, daripada menjauhi Allah. Dalam hal ini, Alkitab menggambarkan prinsip psikologi masa kini: anda tidak dapat benar-benar menyangkal perasaan-perasaan anda atau membuat mereka menghilang, jadi anda bisa mengekspresikan mereka saja. Allah mampu menangani setiap tanggapan manusia kecuali satu. Ia tidak mampu menahan jika saya jatuh kembali secara naluriah kepada tanggapan ini: sebuah percobaan untuk mengabaikan-Nya atau menganggap seolah-olah Ia tidak ada. Tanggapan itu tidak pernah muncul di Ayub sekalipun.
Dalam cara yang sama, Allah mengundang kita untuk merasakan emosi emosi kita, mengalami mereka tanpa penuduhan diri, dan menjelajahi mereka dalam hadirat-Nya yang penuh kasih.
Pertanyaan Refleksi
Dalam cara-cara apakah anda cenderung menekan atau menyangkal emosi-emosi sulit - amarah, kesedihan, ketakutan - daripada mengakui mereka kepada diri anda sendiri dan Allah?
Doa
Bapa, ide menjadi terbuka secara emosi kepada Engkau - terutama jika emosi-emosi saya tidak terproses - sangatlah sulit. Faktanya, tampak nya hampir tidak sopan. Terima kasih, Tuhan, bahwa Engkau mengasihi saya sepenuhnya - yang baik, yang jahat, dan yang buruk - dan bahwa kasih-Mu tidak bersyarat. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 2: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Ibrani 5:7-8
7 Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. 8 Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya.
Renungan
Cara kita mengekspresikan dan menanggapi emosi-emosi tertentu berhubungan langsung dengan bagaimana emosi-emosi ini ditangani dalam keluarga asal kita. Jika orangtua atau pengasuh anda membatasi jangkauan emosi yang dapat diterima, anda secara alami akan melakukan hal yang sama. Anak-anak yang tidak diperbolehkan untuk mengekspresikan perasaan-perasaan tertentu cenderung menyimpulkan ini: “Jika emosi emosi ini tidak bisa diterima, maka tidak ada alasan untuk merasakan mereka pada awalnya”. Mereka juga mulai mengerti peraturan-peraturan tidak tertulis dalam keluarga, seperti “orang baik banyak tersenyum”, dan “orang yang mengasihi tidak marah”.
Ketika anak-anak membawa peraturan - peraturan tidak tertulis ini ke dalam masa dewasa mereka, mereka membuat hambatan-hambatan dalam hubungan yang menahan keaslian dan hubungan yang berarti. Sayangnya, beberapa komunitas-komunitas Kristen masih mendukung pendekatan yang melumpuhkan emosi ini, mengabadikan sebuah budaya dimana orang-orang secara rutin menangani perasaan-perasaan yang menyusahkan dalam cara-cara yang kacau dan tidak berbeda. Akibatnya adalah bahwa banyak orang-orang Kristen merasa tidak rohani karena mencoba untuk mengatur atau mengekspresikan perasaan-perasaan mereka. Kita cenderung menegaskan sukacita, melewati rintangan, dan menjadi kuat di dalam Kristus. Kita diberitahu untuk bergembira bahkan ketika kita sedih atau marah. Dan kita pastinya tidak membagikan ketakutan ketakutan kita karena Alkitab dipenuhi perintah untuk tidak takut. Kita bahkan dapat berpikir bahwa emosi-emosi ini sama artinya dengan berbuat dosa. Kita berharap bahwa dengan menekan dan mengabaikan mereka, mereka dengan cara apapun juga akan menghilang. Dengan melakukan hal tersebut, kita sangat jauh dari contoh yang diberikan Yesus, yang mempersembahkan “doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada [Bapa-Nya]” (Ibrani 5:7-8).
Pengertian yang dangkal dan tidak sempurna ini terhadap Firman sangat menghambat pertumbuhan rohani kita dan kemampuan kita untuk mengasihi dengan baik. Hal ini juga menanggalkan kemungkinan untuk mengembangkan komunitas Kristen yang sejati. Kita membangun dinding-dinding pemisah dan tidak dapat benar-benar melihat satu sama lain. Kita takut akan kerentanan dan berbohong tentang apa yang sedang terjadi di dalam kita. Jadi, daripada mengundang orang-orang untuk menjadi lebih hidup, kita secara tidak sengaja membuat kebudayaan kecil keagamaan yang membatasi dan menghilangkan pengalaman penuh akan ke manusiaan kita yang Allah berikan.
Pertanyaan Refleksi
Dalam masa pertumbuhan anda, pesan-pesan apa yang anda tangkap dari keluarga anda tentang amarah, kesedihan, dan ketakutan? Bagaimanakah pesan-pesan tersebut mempengaruhi anda sebagai orang dewasa?
Doa
Bapa, saya mengakui bahwa saya lebih memilih untuk mengabaikan rasa sakit saya dan menepis ketakutan-ketakutan saya, dan bahwa saya seringkali malu untuk secara terbuka membagi dengan Engkau apa yang terjadi di dalam saya - seolah-olah Engkau juga tidak mengetahuinya. Ubahlah saya, Tuhan, agar saya dapat menjadi rentan dan jujur - dengan Engkau, dengan diri saya sendiri, dan dengan sesama. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 3: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Mazmur 22:2-3, 8-9, 12-14
2 Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. 3 Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang.
8 Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya: 9 “Ia menyerah kepada Tuhan; biarlah Dia yang meluputkanya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?”
12 Janganlah jauh dari padaku, sebab kesusahan telah dekat, dan tidak ada yang menolong. 13 Banyak lembu jantan mengerumuni aku; banteng-banteng dari Basan mengepung aku; 14 mereka mengangakan mulutnya terhadap aku seperti singa yang menerkam dan mengaum.
Renungan
Daud, pria yang berkenan dengan Allah, dengan indah mencontohkan penggabungan lembut antara emosi-emosinya dan rasa laparnya akan Allah. Dalam Mazmur, kita melihat bahwa ia tidak menahan apa-apa, ia dengan bebas mencurahkan ketakutannya, keputusasaannya, amarahnya, dan rasa malunya. Faktanya, berbagai macam pasang surut secara emosi miliknya terkadang mengejutkan bagi apa yang kita anggap sebagai masuk akal sekarang. Apakah yang Daud pahami tentang penggabungan emosi-emosi dan iman yang kita tidak pahami?
Dalam bukunya berjudul The Cry of the Soul, para penulis Dan Allender dan Tremper Longman III membagikan sebagian dari jawabannya: Mungkin penjelasan lebih baik untuk mengapa sangat sulit untuk merasakan perasaan-perasaan kita adalah bahwa semua emosi, positif ataupun negatif, membuka pintu kepada sifat kenyataan. Setiap dari kita lebih memilih untuk menghindari rasa sakit - bahkan lebih lagi, ingin melarikan diri dari kenyataan. Bahkan ketika kehidupan menyenangkan, sukacita berlalu dengan cepat dan kemunculannya yang singkat hanya membuka keinginan kita untuk lebih banyak.
Kenikmatan memegang ketidaklengkapan yang menyedihkan, bahkan pada saat yang terbaik, ini adalah gambaran buruk akan apa yang kita seharusnya nikmati. Sebagai akibat, kita tidak pernah merasa benar-benar puas dengan kehidupan kita sekarang, tidak peduli seberapa baik segala hal berjalan. Penantian pasti membawa kekecewaan dan kerinduan.
Emosi mendorong kita kepada pengakuan sedih bahwa kita tidak berada di rumah.… Ada saat-saat ketika kekurangan emosi hanyalah hasil dari kekerasan dan kesombongan. Firman menyatakan bahwa ketidakhadiran perasaan ini seringkali sebuah penolakan untuk menghadapi duka cita kehidupan dan rasa lapar akan surga. Daud sangat dikenal karena ia berkenan di hati Allah. Hal yang hanya sedikit orang sadari adalah betapa dekatnya ia terikat kepada kesadaran emosinya (keterbukaannya tentang kehilangan-kehilangan dan kekecewaan-kekecewaannya) dan hatinya yang penuh semangat kepada Allah (kerinduannya untuk melihat-Nya secara tatap muka).
Pertanyaan Refleksi
Bagaimanakah kehidupan doa anda dapat berubah jika, seperti Daud, anda dapat membawa kepada Allah apa yang sebenarnya di dalam anda dan bukan apa yang anda pikirkan seharusnya berada di dalam anda?
Doa
Tuhan, hari ini saya membawa kepada Engkau semua emosi-emosi saya: amarah saya (sebutkan apa yang membuat anda marah), kesedihan saya (sebutkan apa yang membuat anda sedih), dan ketakutan saya (sebutkan apa yang membuat anda takut). Tolong saya hari ini untuk menerima segala macam emosi-emosi saya, seperti yang dilakukan Daud. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 4: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Mazmur 95:1-3, 7b-8
1 Marilah kita bersorak-sorai untuk Tuhan, bersorak-sorak bagi gunung batu keselamatan kita. 2 Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur, bersorak-sorak bagi-Nya dengan nyanyian mazmur. 3 Sebab Tuhan adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah.
7b Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! 8 Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun,
Renungan
Dari Kejadian sampai Wahyu, penulis-penulis Alkitab membagikan panggilan berulang kali untuk bersyukur, memanggil untuk “menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur”. Pemberian syukur kepada Allah yang hidup, yang adalah sumber dari segala kebaikan dalam kehidupan kita, menyediakan penangkal untuk kecenderungan kita untuk mengeraskan hati kita. Hal ini terutama benar ketika kita menemukan diri kita dalam pengalaman padang gurun yang dipenuhi kekecewaan, penderitaan, atau kehilangan.
Seperti yang ditulis Dietrich Bonhoeffer: Hanya ia yang mengucapkan syukur untuk hal-hal kecil akan menerima hal-hal besar. Kita mencegah Allah dari memberi kita karunia karunia rohani besar yang Ia sediakan untuk kita, karena kita tidak bersyukur atas karunia-karunia sehari-hari.… Kita berdoa untuk hal hal besar dan lupa untuk bersyukur atas karunia-karunia yang biasa dan kecil (namun tidak terlalu kecil). Bagaimanakah Allah dapat mempercayai hal-hal besar kepada seseorang yang tidak akan menerima hal-hal kecil dengan rasa syukur dari-Nya?
Albert Borgmann, seorang filsuf Kristen, menembus ke inti gaya hidup bersyukur di tengah-tengah saat-saat yang sulit dengan membaginya menjadi empat penguatan. Setiap darinya berperan sebagai penangkal untuk kegelisahan dan ketidakpuasan yang sangat umum dalam keseharian kita: Tidak ada tempat yang saya lebih sukai. Tidak ada yang lebih suka saya lakukan. Tidak ada orang yang lebih saya sukai. Hal ini akan saya ingat dengan baik. Tugas dalam budaya yang penuh dengan keinginan akan hak dan keluhan, bukanlah yang kecil untuk “Menghadap wajah Tuhan dengan nyanyian syukur”. Tetapi jika kita berkomitmen kepada praktik pembentukan rohani, kita menemukan bahwa hal ini memiliki kekuatan untuk memimpin kita ke tempat yang baru, bahkan ke Tanah Perjanjian yang penuh sukacita.
Pertanyaan Refleksi
Ambillah sesaat untuk berpikir kembali kepada 24 jam terakhir. “Karunia karunia biasa dan kecil” apakah yang Allah percayakan kepada anda agar anda dapat memberi syukur?
Doa
Bapa, saya menyadari bahwa segala hal dalam hidup saya adalah karunia dari tangan-Mu, bahwa saya sepenuhnya bergantung kepada Mu. Terima kasih untuk Bumi, langit, nafas saya, dan pekerjaan yang banyak orang lain telah lakukan untuk memampukan saya untuk menikmati karunia kehidupan hari ini. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 5: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Efesus 4:25-27
25 Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota. 26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu 27 dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.
Renungan
Ketika kita meninggalkan kebohongan bahwa orang-orang Kristen yang “baik” tidak marah, kita berjalan melalui pintu yang mengubah hidup kita. Amarah adalah masalah pemuridan yang utama bagi setiap orang Kristen. Hal ini adalah tanda yang memperingatkan kita kepada banyaknya pesan pesan tersembunyi dari Allah - sebuah lampu indikator peringatan di dasbor kehidupan, mengundang kita untuk berhenti dan memperhatikan apa yang mungkin Allah katakan. Melalui amarah, Allah dapat membantu kita memperjelas nilai-nilai kita, yaitu apa yang, benar-benar kita inginkan. Ketika nilai-nilai atau kepercayaan - kepercayaan kita dilanggar, terkadang kita merasakan amarah di tubuh kita. Contohnya, perut kita melilit, leher kita menegang, kita berkeringat, kita mengepalkan tangan, bahu kita kaku, kita tidak bisa tidur, dan lain-lain.
Dalam hal ini, amarah memimpin kita untuk bertindak. Amarah juga dapat memimpin kita kepada emosi-emosi yang lebih dalam, seperti sakit hati, kesedihan, ketakutan, kekecewaan, dan rasa malu. Ketika kita marah, adalah penting untuk bertanya, “Apakah yang saya takutkan? Apakah saya terluka? Sedih? Kecewa? Apa yang sebenarnya terjadi dibalik amarah tersebut?” Amarah juga dapat menjadi petunjuk harapan-harapan yang tidak terpenuhi, dalam hubungan dengan keluarga, rekan kerja, teman-teman, atau orang percaya lainnya. Kemudian kita perlu mengerti apakah kita benar-benar berhak atas harapan - harapan tersebut atau jika kita hanya membuat asumsi-asumsi.
Terakhir, amarah juga bisa menjadi dosa, mengungkapkan kepicikan, kesombongan, kebencian, atau kecemburuan kita. Untuk alasan ini, menggabungkan amarah kita dengan kerohanian kita - memperhatikan kepada apa yang Allah mungkin katakan kepada kita melaluinya - adalah langkah besar kepada kedewasaan emosi dan rohani.
Pertanyaan Refleksi
Saat anda berpikir kembali kepada pengalaman-pengalaman saat ini atau baru-baru ini, bagaimanakah anda dapat menggambarkan “lampu indikator peringatan” atau pesan apa yang amarah anda ingin sampaikan kepada anda?
Doa
Tuhan, ajarlah saya untuk mengolah amarah saya dalam cara-cara yang sehat agar saya dapat lebih mengasihi Engkau, sesama, dan diri saya sendiri. Tolong saya untuk belajar “marah kepada orang yang tepat, dengan kadar yang tepat, pada waktu yang tepat, untuk tujuan yang tepat, dan dalam cara yang tepat”. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 2: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Mazmur 32:8-10
8 Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kau tempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu. 9 Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau. 10 Banyak kesakitan diderita orang fasik, tetapi orang percaya kepada Tuhan dikelilingi-Nya dengan kasih setia.
Renungan
Ketika harus menjelajahi emosi-emosi kita, kita mungkin bertanya-tanya seperti ini: Jika saya mengizinkan diri saya untuk merasakan semua emosi-emosi saya pada saat yang sama, bukankah akan menyebabkan tingkah laku yang tidak biasa?
Atau bahkan lebih buruk, memimpin saya ke dalam jalan-jalan yang salah dalam mengikuti Yesus?
Bagaimanakah saya dapat mengerti kehendak Allah dan pimpinan Allah jika perasaan-perasaan saya tidak dapat diandalkan?
Jawaban dari pertanyaan diatas mungkin mengejutkan anda.Lebih dari 450 tahun yang lalu, Ignatius dari Loyola, penemu para Yesuit, mengembangkan rangkaian pedoman yang menghargai peranan penting emosi-emosi kita dalam mengerti kehendak Allah. Ia sepatutnya menegaskan dasar dari komitmen penuh untuk memenuhi kehendak Allah, menaati Firman, dan mencari nasihat bijak. Namun, sebagai tambahan, ia memberi pedoman yang bagus sekali untuk mengerti bagaimana Allah berbicara kepada kita melalui emosi-emosi kita. Ia berpendapat bahwa masalahnya bukan untuk dengan buta mengikuti perasaan-perasaan kita, tetapi untuk mengakui mereka sebagai bagian dari cara Allah berkomunikasi dengan kita.
Penulis Thomas Green menjelaskannya dengan baik: Adalah penting untuk pengertian rohani jika kita berhubungan dengan perasaan-perasaan kita. Tetapi, berapa banyak dari kita benar-benar sangat memperhatikan mereka? Berapa banyak dari kita dapat “menyebutkan, menyatakan, menjinakkan, dan mengendalikan” perasaan perasaan di dalam kita yang adalah bahan mentah dari pengertian? Banyak yang mengatakan bahwa sangatlah sulit untuk mengenal Allah karena kita tidak melihat-Nya, mendengar-Nya, atau menyentuh-Nya seperti yang kita dapat lakukan dengan manusia lain. Memang hal tersebut tentu saja benar, tetapi saya telah diyakinkan bahwa rintangan terbesar dalam pengertian sejati (dan dalam pertumbuhan sejati dalam doa) bukanlah sifatnya yang tidak berwujud, tetapi kekurangan kita akan pengetahuan tentang diri sendiri - bahkan keengganan kita untuk mengenal diri kita sendiri sebagai siapa kita sebenarnya. Hampir semua dari kita memakai topeng, bukan hanya ketika menghadap sesama, tetapi bahkan ketika melihat cermin. Mengambil waktu untuk menanggalkan topeng-topeng tersebut agar kita bisa merasakan secara mendalam tidak menghalangi pengertian kita, tetapi sebenarnya menempatkan kita untuk mendengar suara kasih Allah yang memanggil kita melalui emosi-emosi kita.
Pertanyaan Refleksi
Bagaimanakah Allah sedang mengundang anda untuk berdiam hari ini agar anda dapat lebih menyadari perasaan-perasaan anda dan lebih mendengar suara-Nya?
Doa
Bapa, bahkan jika sulit untuk saya, saya mengundang Engkau untuk berbicara kepada saya melalui emosi-emosi saya - untuk memimpin saya dan membimbing saya dengan menolong saya untuk memperhatikan apa yang saya sebenarnya sedang rasakan. Beri saya kasih karunia untuk “menyebutkan, menyatakan, menjinakkan, dan mengendalikan” perasaan-perasaan saya agar saya dapat lebih mengerti ke hendak-Mu dalam hidup saya. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 3: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Daniel 3:15b-18
15 “Sekarang, jika kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?” 16 Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. 17 Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; 18 tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”
Renungan
Sadrakh, Mesakh, dan Abednego berpindah melalui ketakutan-ketakutan mereka ke tindakan iman yang merubah kehidupan mereka dan kehidupan orang-orang di sekitar mereka. Kita seringkali melebih-lebihkan ukuran bahaya-bahaya yang kita hadapi dan meremehkan kasih dan kuasa Allah untuk mengusir ketakutan-ketakutan kita. Bayangkan apa yang mungkin terjadi jika anda dapat merasakan ketakutan-ketakutan, lalu mengubah mereka kepada arah yang positif. Apakah yang akan terjadi?
Peter Storey dulu adalah seorang menteri Metodis di Johannesburg, Afrika Selatan, dari 1976 sampai 1994, ketika perjuangan untuk kebebasan Afrika Selatan dari apartheid berada pada tingkat tertinggi. Storey mencatat bahwa, pada zaman itu, “sebagian besar dari pendeta pendeta, berkulit hitam dan putih, beberapa takut kepada pihak berwajib, beberapa yang lain takut kepada pertemuan-pertemuan pihak-pihak tersebut, diam”. Dari puluhan tahunnya bergumul dengan ketakutan dan iman, ia menulis: Ketakutan mengunci pintu dan melumpuhkan kita. Ketakutan memenjarakan gereja dalam keadaan yang biasa saja dan tidak berhubungan.… Bersyukurlah kepada Allah bahwa walaupun banyak kunci kunci di semua pintu, Yesus tetap dapat memasuki gereja. Ia menempati tempat-tempat ketakutan kita dan memberi karunia yang hanya dapat diberi oleh-Nya: “Damai sejahtera bagi kamu!”… Yesus memberi kedamaian-Nya - dan ini akan terdengar sangat sederhana - dengan berada di sana.… Inilah mengapa kita menyembah.… Oh, jangan, jangan pernah kehilangan rasa ketergantungan sederhana kepada hadirat Yesus dalam hidup anda karena terkadang hanya itu yang anda miliki.
Kisah ini mengajar kita bahwa keberanian bukanlah ketiadaan ketakutan, tetapi lebih tepatnya kemampuan untuk melewati ketakutan-ketakutan kita melalui iman dalam Yesus.
Pertanyaan Refleksi
Saat anda memikirkan ketakutan-ketakutan anda hari ini, apakah kata kata Yesus, “Jangan takut”, terasa genting atau menenangkan? Mengapa?
Doa
Tuhan, lebih sering daripada tidak, saya tinggal dalam tempat ketakutan daripada tempat kedamaian dan kepercayaan yakin terhadap-Mu. Penuhilah saya dengan kedamaian yang Engkau tawarkan dengan siap di tengah-tengah badai-badai hidup saya. Tolong saya untuk menjadi kehadiran yang tidak khawatir kepada mereka di sekitar saya. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 4: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: 1 Yohanes 4:1-3
1 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. 2 Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, 3 dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu ada lah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia.
Renungan
Ignatius dari Loyola (1491-1556), pendiri komunitas Yesuit, mengembangkan sebuah contoh pengertian klasik yang menjaga keseimbangan antara akal budi (pengetahuan) dan perasaan (hati). Ia menyediakan pedoman yang sangat baik tentang bagaimana Allah berbicara kepada kita melalui perasaan-perasaan dan kerinduan-kerinduan terdalam kita, hal yang ia sebut sebagai “penghiburan-penghiburan” dan “kesedihan kesedihan”.
Penghiburan-penghiburan adalah perasaan-perasaan yang memenuhi kita dengan sukacita, kehidupan, kekuatan, dan kedamaian, menghubungkan kita lebih dalam dengan Allah. Kesedihan-kesedihan adalah pengalaman-pengalaman yang menguras kita dan terasa seperti kematian, memutuskan hubungan kita dengan Allah, diri kita sendiri, dan sesama. Kontribusi uniknya adalah menyediakan sebuah cara terstruktur untuk mengakui perasaan-perasaan sebagai petunjuk-petunjuk penting tentang bagaimana Allah mengungkapkan kehendak-Nya kepada kita dan bagaimana kita dapat “menguji roh-roh” (1 Yohanes 4:1). Dalam kerangka kerja ini, perasaan-perasaan bukanlah akhir di dalam dan dari diri mereka sendiri, tetapi sebuah cara untuk mengenal Allah dan kasih-Nya.
Penulis Alice Fryling mengatakannya dengan baik: Tujuan dari memusatkan perhatian kepada perasaan-perasaan bukanlah untuk berkubang di dalamnya. Hal ini juga bukan hanya untuk memperjelas pemikiran. Tujuannya adalah untuk memperhatikan dan memeluk hadirat Allah dalam pengalaman ini. Ketika ini terjadi, kedamaian yang datang “melampaui segala akal” (Filipi 4:7). Dalam kata lain, kita tidak dapat memikirkan jalan kita menuju kedamaian Allah; hal ini di luar pengetahuan. Alkitab juga mengatakan bahwa kasih Allah “melampaui segala pengetahuan” (Efesus 3:19). Tidak peduli seberapa banyak yang kita ketahui, kasih Allah lebih dalam, jadi terkadang jalan menuju kedamaian di luar pengetahuan ini adalah melalui perasaan kita.
Gagasan ini perlu diulang; tujuannya bukanlah untuk memikirkan jalan kita ke dalam kehendak Allah. Tugas kita adalah untuk “memperhatikan dan memeluk hadirat Allah”. Dan terkadang, perasaan-perasaan kitalah yang memimpin kita kepada kedamaian yang melampaui segala akal.
Pertanyaan Refleksi
Pikirkan kembali secara singkat peristiwa-peristiwa dan interaksi interaksi dalam 24 jam terakhir anda. Kemudian bertanyalah kepada diri anda sendiri: Kapan saya mengalami sukacita, kedamaian, peningkatan kekuatan, atau merasakan hadirat Allah (penghiburan)? Dan kapan saya mengalami kesedihan, kelesuan, kekuatan yang terkuras dari diri saya, atau merasakan ketidakhadiran Allah (kesedihan)?
Doa
Bapa, Engkau mengetahui betapa mudahnya saya melupakan-Mu selama berjam-jam. Saya meminta kasih karunia dan kekuatan-Mu untuk memperhatikan dan mendengarkan Engkau selama saya terjaga. Tolong saya untuk mengenali suara-Mu ketika Engkau berbicara kepada saya melalui penghiburan-penghiburan dan kesedihan-kesedihan saya. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 5: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Matius 27:35-42a
35 Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi. 36 Lalu mereka duduk di situ menjaga Dia. 37 Dan di atas kepala-Nya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum: “Inilah Yesus Raja orang Yahudi.” 38 Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya. 39 Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia dan sambil menggelengkan kepala, 40 mereka berkata: “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!” 41 Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata: 42 “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan!”
Renungan
Penyaliban dan kebangkitan Yesus adalah peristiwa paling penting dalam sejarah manusia. Skandal bagi orang-orang Yahudi dan kebodohan bagi orang-orang Yunani, salib adalah manifestasi tertinggi dari kemuliaan Allah. Cara-cara dunia dihukum. Iblis diturunkan dari takhtanya dan dikalahkan. Dan Allah membuka jalan, melalui darah Yesus, menuju kehidupan persatuan yang penuh kasih dengan-Nya. Tetapi, arena dimana kita menjalani hubungan kita dengan Allah bukanlah lemari doa, tetapi hubungan-hubungan kita satu sama lain.
Penulis Richard Rohr menulis sebuah doa indah yang menunjukkan kepada kita bagaimana hidup kita dengan Allah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita dengan sesama. Mereka benar-benar, seperti yang Yesus ajarkan, adalah dua sisi mata uang yang sama. Saya mengundang anda untuk membaca doa ini secara perlahan, mengizinkan setiap kebenaran untuk memberitahu hidup anda dan hubungan-hubungan anda:
Saya berterima kasih kepada-Mu, Tuhan Yesus, karena telah menjadi manusia sehingga saya tidak perlu berpura-pura atau mencoba menjadi Allah.
Saya berterima kasih kepada-Mu, Tuhan Yesus, karena menjadi terbatas dan terhingga sehingga saya tidak perlu berpura-pura bahwa saya tidak terbatas dan tidak terhingga.
Saya berterima kasih kepada-Mu, Allah yang disalibkan, karena menjadi fana sehingga saya tidak perlu mencoba membuat diri saya abadi.
Saya berterima kasih kepada-Mu Tuhan Yesus, karena telah menjadi lebih rendah sehingga saya tidak perlu berpura-pura bahwa saya lebih tinggi dari siapapun.…
Saya berterima kasih kepada-Mu karena menjadi lemah, sehingga saya tidak harus kuat.
Saya berterima kasih kepada-Mu karena telah bersedia dianggap tidak sempurna dan asing, sehingga saya tidak harus menjadi sempurna dan normal.
Saya berterima kasih kepada-Mu, Tuhan Yesus, karena bersedia di tolak, sehingga saya tidak perlu berusaha keras untuk diterima dan disukai.
Saya berterima kasih kepada-Mu karena dianggap gagal, sehingga saya tidak harus menyerahkan hidup saya untuk berpura-pura sukses.
Saya berterima kasih kepada-Mu karena menjadi salah menurut standar agama dan negara, sehingga saya tidak harus benar di mana pun.
Saya berterima kasih kepada-Mu karena menjadi miskin dalam segala hal, jadi saya tidak harus kaya dalam hal apapun.
Saya berterima kasih kepada-Mu, Tuhan Yesus, karena menjadi semua hal yang dibenci dan ditakuti umat manusia, sehingga saya dapat menerima diri saya dan orang lain di dalam Engkau.
Seperti yang dikatakan Rohr, kita dapat bersyukur atas panggilan Allah bagi kita “untuk mati” kepada cara-cara dunia yang manipulatif dan mengendalikan agar bisa menerima cara Yesus yang disalibkan. Mengapa? Karena itu adalah jalan Yesus menuju kehidupan yang penuh kuasa dan kebangkitan.
Pertanyaan Refleksi
Baris manakah di dalam doa tersebut yang anda paling kenali di dalam diri anda? Mengapa?
Doa
Tuhan, banyak sekali hal-hal di dalam saya menolak mengikuti-Mu kepada salib dan menjalani hidup penuh kerusakan dan kerentanan. Anugerahkan saya keberanian untuk mengikuti-Mu, sepanjang jalan, apa pun artinya. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Minggu 5
Dengarlah dengan Kehadiran Penuh
Allah menjadi berwujud - mengambil bentuk manusia - dalam Yesus dari Nazaret. Ia menunjukkan kasih-Nya kepada kita dengan mengesampingkan semua kemuliaan dan kuasa keilahian-Nya sehingga Ia dapat sepenuhnya memasuki dunia kita. Tindakan mengambil wujud ini - mengesampingkan hak-hak dan keunggulan-keunggulan sebagai tindakan kasih - adalah tindakan yang Yesus undang untuk kita ikuti. Kita mengikuti-Nya dengan cara ini setiap kali kami meninggalkan zona nyaman kita untuk bertemu orang-orang di mana mereka berada.
Mendengarkan dengan kehadiran penuh adalah untuk memasuki dunia orang lain, pada tingkat hati, dengan empati Kristus, memperhatikan isyarat-isyarat tanpa bicara mereka serta kata-kata mereka. Inilah cara bagaimana kita dapat menunjukkan kasih kita kepada mereka. Kita benar benar mendengarkan apa yang mereka katakan dan merasakan apa yang mereka rasakan. Dan dengan melakukan itu, melalui kasih karunia Allah, mereka mengalami kehadiran Kristus melalui kita.
Hari 1: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Matius 25:34-36, 40
34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan Nya: “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. 35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu mem beri Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; 36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.”…
40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
Renungan
Lahir di tempat yang dulunya adalah Yugoslavia, Bunda Teresa (1910 1997) bergabung dengan Suster-Suster dari Loretto di Irlandia pada umur 17, dan dalam waktu satu tahun dikirim ke Kolkata, India. Disana, ia menyaksikan penderitaan mendalam orang miskin yang hidup dan mati di jalanan. Pada tahun 1950, ia mendirikan Misionaris Charitas, sebuah ordo keagamaan yang didedikasikan untuk melayani orang sakit dan sekarat di daerah-daerah kumuh dalam kota tersebut. Pada tahun 1979, ia memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian untuk karyanya. Pada tahun 2015, ada lebih dari 5600 pekerja yang melayani di 844 komunitas komunitas di seluruh dunia.
Bunda Teresa tidak membedakan antara terbuka kepada hati Kristus dalam doa dan terbuka kepada hati-hati sesama, terutama hati-hati orang miskin. Inilah caranya menggambarkan apa artinya sebenarnya untuk mengasihi sesama dalam nama Yesus: Adalah mudah untuk mengasihi orang-orang dari jauh. Tidak selalu mudah untuk mengasihi mereka yang dekat dengan kita. Lebih mudah untuk memberi secangkir nasi untuk menghilangkan rasa lapar daripada menghilangkan kesepian dan rasa sakit dari seseorang yang tidak dicintai dalam rumah kita sendiri. Bawalah kasih ke dalam rumah anda sendiri karena di situlah kasih kita kepada satu sama lain harus dimulai.
Penyakit terbesar di Barat saat ini bukanlah TBC [Tuberkulosis] atau kusta; penyakit terbesar adalah tidak diinginkan, tidak dikasihi, dan tidak diperhatikan. Kita dapat menyembuhkan penyakit-penyakit fisik dengan obat-obatan, tetapi satu-satunya obat untuk kesepian, kepatahan hati, dan keputusasaan adalah kasih. Ada banyak orang di dunia yang mati demi sepotong roti, tetapi lebih banyak lagi mati demi sedikit kasih.…
Pada akhir hidup kita, kita tidak akan dinilai dari berapa banyak penghargaan yang telah kita terima, berapa banyak uang yang telah kita hasilkan, berapa banyak hal-hal besar yang telah kita lakukan. Kita akan dinilai dengan “Ketika saya lapar, anda memberi saya makan. Ketika saya telanjang, saya memberi saya pakaian. Ketika saya seorang asing, anda memberi saya tumpangan.” Dan Bunda Teresa, dalam mengikuti jalan Kristus dengan mengasihi orang satu demi satu, mengubah dunia.
Pertanyaan Refleksi
Frasa-frasa atau kalimat-kalimat manakah dari ungkapan Bunda Teresa yang paling berbicara kepada anda hari ini?
Doa
Tuhan, ampunilah saya untuk saat-saat dimana saya mengabaikan suara Mu dan menghindari masuk ke dalam rasa sakit atau kesepian yang Engkau tempatkan di sekitar saya, terutama mereka yang paling dekat dengan saya. Tolong saya untuk benar-benar melihat kebutuhan kebutuhan mereka di sekitar saya hari ini - dan kemudian mendengarkan. Maka kiranya kata-kata dan tindakan-tindakan yang mengalir dari saya menggambarkan hati-Mu yang penuh kasih. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 1: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Yesaya 49:14-16
14 Sion berkata: “Tuhan telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku.” 15 Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. 16 Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.
Renungan
Dalam Firman ini, kita diberi dua gambaran indah tentang kasih Allah yang tidak terbatas dan yang Ia miliki untuk kita. Ia menyebut diri-Nya sebagai ibu menyusui yang tidak bisa melupakan kita. Ia kemudian mengatakan bahwa kita selamanya terlukis di telapak tangan-Nya. Pikirkanlah hal tersebut! Kita selalu berada di pikiran Allah, selamanya tertanam dalam diri-Nya. Terlepas dari kekurangan-kekurangan, dosa-dosa, dan kesalahan-kesalahan kita, Allah sangat, sangat mengasihi kita! Sebanyak Ia mengasihi kita, Allah mengetahui bahwa kita juga perlu mengalami kasih-Nya melalui orang lain.
Filsuf Jerman, Josef Pieper (1904-1997), menulis dengan meyakinkan tentang hubungan yang kuat antara kasih Allah dan kasih orang lain: Tidaklah cukup bagi kita untuk hanya hidup; kita dapat melakukannya bagaimanapun caranya. Yang penting bagi kita, di luar keberadaan, adalah pengesahan jelas: Adalah baik bahwa anda hidup; betapa indahnya Anda! Dengan kata lain, yang kita butuhkan yang melebihi dan melampaui keberadaan kita semata-mata adalah: untuk dikasihi oleh orang lain. Ini adalah fakta yang menakjubkan ketika kita mempertimbangkannya dengan cermat. Tampaknya, diciptakan oleh Allah sebenarnya tidak cukup; fakta penciptaan membutuhkan kelanjutan dan kesempurnaan oleh kuasa penciptaan kasih manusia.… Kita mengatakan bahwa seseorang “mekar” ketika mengalami pengalaman dikasihi; bahwa ia menjadi dirinya sendiri sepenuhnya untuk pertama kalinya; bahwa “kehidupan baru” sedang dimulai baginya… Seseorang berhasil dalam berada sepenuhnya dan merasa seperti di rumah dalam dunia hanya ketika ia “disahkan” oleh kasih orang lain. Ketika orang-orang berada bersama Yesus, mereka berkembang pesat, merasakan kata-kata ini dari kehadiran-Nya: “Adalah baik bahwa anda hidup; betapa indahnya Anda!” Izinkanlah diri anda menerima karunia pesan tersebut dari-Nya sekarang.
Pertanyaan Refleksi
Menyadari bahwa “seseorang mekar ketika mengalami pengalaman dikasihi”, siapakah satu orang yang anda dapat bantu untuk mekar minggu ini dengan secara sengaja memberi mereka pengalaman dikasihi?
Doa
Bapa, terima kasih bahwa nama saya selamanya terukir di telapak tangan-Mu dan bahwa Engkau bahkan lebih mengasihi saya dari ibu mengasihi bayinya yang baru lahir. Tolong saya untuk beristirahat dalam kasih yang dalam ini agar mengasihi orang-orang di sekitar saya menjadi naluri pertama dan tanggapan alami saya. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 2: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Lukas 5:12-13
12 Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” 13 Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir”. Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.
Renungan
Hadirat Yesus memiliki dampak penyembuhan dan perubahan kepada orang-orang - secara fisik, rohani, dan emosi. Saat kita menjadi seperti diri-Nya, lebih berakar dan didirikan dalam kasih-Nya, kehadiran kita juga berdampak kepada orang lain.
Martin Buber (1878-1965), seorang filsuf dan penulis Jerman-Yahudi, menjelajahi prinsip mendalam ini dalam buku terbaiknya berjudul I and Thou (Saya dan Anda). Buku tersebut pertama kali diterbitkan pada tahun 1923, hanya 5 tahun setelah akhir Perang Dunia I. Sebelum perang dimulai, Buber menganggap hal-hal “agamawi” sebagai pengalaman - pengalaman gaib yang mengangkatnya keluar dari pengalaman-pengalaman yang duniawi dan biasa dalam kehidupan sehari-hari. Ia lebih mementingkan apa yang abadi daripada yang sementara, lebih memperdulikan kebahagiaan luar biasa daripada kehidupan sehari hari, lebih tertarik kepada apa yang ada di luar dunia daripada dunia itu sendiri. Semua hal ini berubah suatu hari pada tahun 1914, tahun datangnya Perang Dunia I di Eropa, ketika seorang muda datang mengunjungi Buber. Apa yang terjadi tidak lebih dari suatu siang, setelah pagi hari yang penuh semangat “agamawi”, saya mendapat kunjungan dari seorang pemuda yang tidak dikenal, tanpa berada di sana dalam roh. Saya tentu saja tidak gagal untuk membuat pertemuan tersebut ramah.… Saya berbicara dengan penuh perhatian dan terbuka dengannya - hanya, saya tidak menebak pertanyaan-pertanyaan yang tidak ia ajukan. Lalu, tidak lama kemudian, saya mengetahui dari salah satu temannya - ia sendiri sudah tidak hidup lagi - isi penting dari pertanyaan pertanyaan ini; Saya mengetahui bahwa ia tidak datang kepada saya dengan santai, tetapi karena tujuan, bukan untuk mengobrol, tetapi untuk sebuah keputusan. Ia datang kepada saya, ia datang pada jam ini. Pria muda tersebut telah membunuh dirinya. Rasa bersalah yang Buber rasakan bukanlah karena ia entah bagaimana gagal menghilangkan keputusasaan pemuda itu, tetapi karena ia tidak sepenuhnya hadir baginya. Ia begitu disibukkan oleh pengalaman agamawinya pagi itu, sehingga ia gagal untuk memusatkan perhatian penuhnya terhadap percakapan mereka. Ia tidak berpaling kepada pemuda itu dengan seluruh dirinya untuk benar-benar merasa bersama pemuda itu. Daripada benar-benar mendengarkan, ia membawa sisa-sisa, sebuah keterikatan yang sopan tetapi sebagian.
Untuk Buber, pengalaman tersebut terasa seperti penghakiman atas seluruh hidupnya.
Ia menyadari bahwa adalah mungkin untuk memiliki pengalaman-pengalaman rohani yang mendalam dan sebuah “iman yang dapat memindahkan gunung”, tetapi bahwa iman seperti itu tidak ada artinya tanpa kasih yang hadir secara mendalam kepada orang-orang.
Pertanyaan Refleksi
Menurut anda, apakah rintangan atau tantangan terbesar anda untuk hadir sepenuhnya dan terikat dengan sesama?
Doa
Bapa, saya sangat mudah terganggu dan sibuk ketika saya bersama orang-orang, tetapi saya rindu untuk menjadi tipe orang yang benar benar mendengar dan hadir sepenuhnya. Saya meminta-Mu untuk mengubah saya agar saya dapat menjadi kehadiran yang mengubah bagi sesama. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 3: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Yohanes 13:34-35
34 Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. 35 Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.
Renungan
Ahli agama Yahudi, Martin Buber berpendapat bahwa dalam sebagian besar interaksi-interaksi sehari-hari kita, kita cenderung memperlakukan orang-orang sebagai benda atau sarana untuk mencapai tujuan, yang ia gambarkan sebagai hubungan-hubungan “Saya-Itu”. Tetapi, hubungan hubungan yang paling sehat atau paling dewasa di antara manusia adalah mereka yang digambarkan Buber sebagai hubungan-hubungan “Saya Anda”. Hubungan-hubungan sejati ini, kata Buber, hanya dapat ada di antara 2 orang yang ingin terhubung meskipun mereka memiliki perbedaan perbedaan. Allah memenuhi ruang di antara hubungan Saya-Anda. Allah tidak hanya dapat dilihat sekilas dalam percakapan sejati antara 2 orang, tetapi juga menembus ruang di antara mereka, menjadikannya ruang kudus:
Prinsip utama dari pekerjaan hidup Buber adalah bahwa hubungan Saya Anda antara orang-orang secara intim menggambarkan hubungan Saya Anda yang dimiliki manusia dengan Allah. Hubungan sejati dengan Anda siapapun menunjukkan jejak-jejak “Anda sejati”. Hal ini menolong untuk menjelaskan mengapa adalah pengalaman yang kuat ketika kita mendengarkan seseorang secara mendalam. Ketika kasih sejati ditemukan dalam sebuah hubungan, hadirat Allah terlihat. Ruang yang tadinya memisahkan kita menjadi ruang kudus.
Pertanyaan Refleksi
Penyesuaian-penyesuaian apakah yang dapat anda buat untuk memperlakukan setiap orang yang anda temui hari ini sebagai “Anda” daripada sebagai “Itu”?
Doa
Tuhan, tolong saya untuk memperlambat tempo agar saya tidak memperlakukan orang-orang sebagai benda-benda atau rintangan rintangan untuk dilewati. Terima kasih bahwa Engkau selalu memperlakukan saya sebagai Anda. Dengan pertolongan-Mu, saya ingin melakukan hal yang sama kepada orang lain pada hari ini. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)

Hari 4: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Ayub 2:11; 42:7-8
2:11 Ketika ketiga sahabat Ayub mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa dia, maka datanglah mereka dari tempatnya masing-masing, yakni: Elifas, orang Téman, dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama. Mereka bersepakat untuk mengucapkan belasungkawa kepadanya dan menghibur dia.…
42:7 Setelah Tuhan mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman Tuhan kepada Elifas, orang Téman: “Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub. 8 Oleh sebab itu, ambillah tujuh ekor lembu jantan dan tujuh ekor domba jantan dan pergilah kepada hamba-Ku Ayub, lalu persembahkanlah semuanya itu sebagai korban bakaran untuk dirimu, dan baiklah hamba-Ku Ayub meminta doa untuk kamu, karena hanya permintaannya lah yang akan Kuterima, supaya Aku tidak melakukan aniaya terhadap kamu, sebab kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.”
Renungan
Kitab Ayub bukan hanya kitab tentang penderitaan yang tidak selayaknya dialami. Kitab Ayub juga sebuah kitab tentang teman-teman yang tidak mendengarkan. Teman-teman Ayub memulai dengan cukup baik dengan berdiam diri, dan duduk bersama Ayub selama 7 hari. Tetapi lalu mereka mulai banyak berbicara. Dan pada saat itulah mereka mendapat masalah. Faktanya, mereka tidak hanya tidak mendengarkan, tetapi mereka terus mengoceh selama 34 pasal. Mereka memberikan nasihat-nasihat yang buruk, salah mengutip Firman, dan memasukkan kata-kata dalam mulut Allah.
Penulis Eugene Peterson dengan tepat merangkum dampak dari teman-teman yang seperti teman-teman Ayub: Ketika kita menemukan diri kita dalam masalah apapun… orang orang mulai muncul, memberitahu kita apa yang salah dengan kita dan apa yang harus kita lakukan untuk menjadi lebih baik.… Semuanya terdengar begitu penuh harapan. Tetapi kemudian kita mulai bertanya-tanya, “Mengapakah, karena semua belas kasih mereka yang nyata, kita merasa lebih buruk daripada lebih baik ketika mereka telah menyatakan pendapat mereka?” Kitab Ayub tidak hanya sebuah saksi atas martabat penderitaan dan hadirat Allah dalam penderitaan kita, tetapi juga merupakan protes alkitabiah utama kita terhadap agama yang telah dikurangi menjadi penjelasan-penjelasan atau “jawaban-jawaban”.
Lebih sering dari tidak, sebagian besar dari kita berbuat salah dalam tindakan terlalu banyak bicara. Dan saat itulah kita mendapat masalah. Penulis Kitab Pengkhotbah mengingatkan kita, “ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara” (Pengkhotbah 3:7). Kuncinya adalah untuk melihat perbedaan diantaranya.
Pertanyaan Refleksi
Dengan siapakah Allah mungkin sedang mengundang anda untuk menjadi pendengar yang lebih rendah hati dan penuh perhatian hari ini?
Doa
Tuhan, bebaskan saya dari kebutuhan untuk “mengatakan sesuatu”, terutama ketika saya hanya ingin terlihat benar atau bijaksana atau mengesankan. Ajarlah saya untuk nyaman dengan ketidakberdayaan yang seringkali saya rasakan ketika saya mendengar tanpa memberi jawaban. Lindungi saya dari terlalu banyak bicara dengan bodoh, dan tolong saya untuk mengasihi orang lain lebih baik lagi. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 5: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Yohanes 11:32-36, 40
32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” 33 Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata: 34 “Di manakah dia kamu baringkan?” Jawab mereka: “Tuhan, marilah dan lihatlah!” 35 Maka menangislah Yesus. 36 Kata orang-orang Yahudi: “Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!”…
40 Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?”
Renungan
Dalam bagian Firman ini, kita melihat sekilas yang kuat tentang Yesus yang sangat tersentuh, gelisah dalam roh, dan meneteskan air mata. Tanpa menahan apapun, Ia masuk ke dalam rasa sakit Maria dan melihat langsung kerusakan yang disebabkan oleh kematian Lazarus. Dengan menyaksikan Yesus di kuburan, kita mempelajari pelajaran penting tentang mengasihi orang.
Henri Nouwen menggambarkannya dengan baik: Tidak ada yang bisa membantu siapapun tanpa terlibat, tanpa memasuki dengan seluruh pribadinya ke dalam keadaan yang menyakitkan, tanpa mengambil risiko tersakiti terluka, atau bahkan dihancurkan dalam proses itu.… Penderitaan martir sejati berarti kesaksian yang dimulai dengan kesediaan untuk menangis bersama mereka yang menangis, tertawa bersama mereka yang tertawa, dan menjadikan pengalaman-pengalaman diri sendiri yang menyakitkan dan menyenangkan sebagai sumber penjelasan dan pemahaman.
Siapakah yang dapat menyelamatkan seorang anak dari rumah yang terbakar tanpa mengambil risiko terluka oleh api? Siapakah yang bisa mendengarkan kisah kesepian dan keputusasaan tanpa mengambil risiko mengalami sakit yang sama di hati sendiri dan bahkan kehilangan kedamaian pikirannya yang berharga? Singkatnya: “Siapakah yang dapat menghilangkan penderitaan tanpa memasukinya?” Ilusi besar kepemimpinan adalah untuk berpikir bahwa manusia dapat dibawa keluar dari gurun oleh seseorang yang tidak pernah pergi ke sana.
Pertanyaan Nouwen adalah pertanyaan yang serius: “Siapakah yang dapat menghilangkan penderitaan tanpa memasukinya?” Namun, seperti yang Yesus ajarkan, hanya saat kita kehilangan nyawa kita bagi sesama, kita akan memperoleh nyawa kita (Markus 8:35).
Pertanyaan Refleksi
Yesus mengakui sebuah janji ketika Ia mengatakan “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” Bagaimanakah janji ini dapat menyemangati anda untuk melampaui ketakutan-ketakutan anda dan mendengarkan rasa sakit sesama hari ini?
Doa
Tuhan, seringkali saya menahan diri dari benar-benar mendengarkan rasa-rasa sakit milik orang-orang lain, takut bahwa masalah-masalah mereka dapat menelan saya. Engkau mencontohkan kemampuan untuk memasuki “kesepian dan keputusasaan” sesama sementara masih terpisah dan terpusat kepada Bapa. Ajar saya untuk memasuki rasa sakit sesama dengan kerelaan yang seperti milik-Mu, mengingat baik keterbatasan-keterbatasan saya dan bahwa Engkaulah Allah, bukan saya. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 2: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Lukas 7:11-17
11 Kemudian Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. 12 Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu me nyertai janda itu. 13 Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: “Jangan menangis!” 14 Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” 15 Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya. 16 Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah melawat umat-Nya.” 17 Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.
Renungan
Kitab-Kitab Injil dipenuhi dengan kisah-kisah pertemuan-pertemuan Yesus dengan orang-orang secara pribadi - Matius, Natanael, seorang pelacur, Nikodemus, seorang yang buta, seorang perempuan Samaria, dan banyak lainnya. Ketika seorang penguasa muda yang kaya datang kepada-Nya, Yesus “memandangnya dan mengasihinya”. Ia mendengar. Ia hadir, tidak pernah tergesa-gesa atau terganggu. Ia memberi orang orang kehormatan untuk mendengarkan cerita-cerita mereka. Kapan terakhir kali anda mendengar seseorang mengatakan seperti ini: “Orang-orang Kristen adalah pendengar-pendengar yang luar biasa! Saya tidak pernah mengenal sekelompok orang-orang yang begitu tertarik kepada dunia saya, begitu pandai bertanya, dan begitu perhatian”? Ketika kita memilih untuk masuk ke dalam dunia orang lain, kita memilih untuk terbuka dan hadir. Yesus tidak mengembalikan anak laki laki Nain kepada ibunya yang janda tanpa terlebih dahulu hadir kepada nya dalam kesedihannya. Dengan melakukan hal tersebut, Ia mencontohkan hubungan perhatian dan kehadiran yang penuh kasih. Inilah bagaimana penulis Henri Nouwen menggambarkan kasih dan perhatian itu:
Dari pengalaman, anda mengetahui bahwa mereka yang peduli kepada anda hadir untuk anda. Ketika mereka mendengarkan, mereka mendengarkan anda. Ketika mereka berbicara, mereka berbicara kepada anda. Dan ketika mereka mengajukan pertanyaan, anda mengetahui bahwa pertanyaan tersebut demi anda dan bukan demi mereka sendiri. Kehadiran mereka adalah kehadiran penyembuhan karena mereka menerima anda sebagai diri anda sendiri, dan mereka mendorong anda untuk menjalani hidup anda dengan sungguh-sungguh. Dalam cara yang sama, Allah mengundang kita untuk bertumbuh dalam sifat kehadiran kita terhadap sesama agar mereka dapat mengalami kasih-Nya melalui kita.
Pertanyaan Refleksi
Dalam cara-cara apakah anda digoda untuk terganggu ketika anda bersama dengan orang-orang daripada untuk hadir, mendengar secara mendalam dan menerima mereka sebagai diri mereka sendiri?
Doa
Tuhan, ajar saya melalui Roh Kudus untuk mendengar secara mendalam kepada orang-orang yang bersama saya hari ini, untuk melihat mereka seperti bagaimana Engkau melihat mereka, dan untuk mengasihi mereka seperti Engkau mengasihi mereka. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 3: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: 1 Korintus 13:1-3
1 Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. 2 Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. 3 Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.
Renungan
Bagian Firman ini membuat pernyataan yang mencengangkan: Adalah mungkin untuk bekerja dalam kuasa Roh Kudus melalui mukjizat-mukjizat dan karunia-karunia rohani dan bukan menjadi seorang Kristen. Anda dapat membangun pelayanan yang besar untuk Allah - melakukan mukjizat-mukjizat, mengorbankan semua yang anda miliki, dan menggunakan karunia-karunia rohani - dan tidak menjadi pengikut Yesus Kristus yang sejati sama sekali.
Faktanya, Rasul Paulus bahkan menyebut tindakan tindakan ini sebagai “bukan apa-apa”. Mungkin yang lebih mencengangkan lagi, tampaknya tingkat kuasa rohani dan karunia-karunia yang bekerja melalui kehidupan orang percaya mungkin hanya memiliki sedikit hubungan dengan kedewasaan rohani. Karunia-karunia rohani dapat bekerja melalui kita bahkan ketika kita tetap menjadi bayi-bayi rohani. Menurut Paulus, satu-satunya tanda Roh Kudus yang bekerja adalah kasih ilahi, bukan karunia-karunia atau bahkan hasil-hasil yang “sukses”. Kasih adalah satu-satunya pencapaian di Bumi yang akan bertahan selamanya. Di surga, kita akan saling mengasihi satu sama lain dengan sempurna, sepenuhnya, dan tanpa batasan apapun. Ketika kita menghidupi kasih agape (tidak bersyarat) ini di Bumi, kita mengalami kerajaan Allah yang otentik. Kita mengecap surga.
Jonathan Edwards (1703-1758), salah satu ahli agama dan pengkhotbah yang paling terkenal di Amerika, memberikan kita gambaran indah tentang seperti apa surga itu: Surga [adalah] dunia penuh kasih; karena Allah adalah sumber kasih, seperti matahari adalah sumber cahaya. Dan karena itu, hadirat Allah yang mulia di surga, memenuhi surga dengan kasih, seperti matahari, ditempatkan di tengah-tengah langit yang terlihat pada hari yang cerah, memenuhi dunia dengan cahaya. Rasul Paulus memberitahu kita bahwa “Allah adalah kasih”; dan karena itu, melihat bahwa Ia tanpa batas, maka Ia adalah sumber kasih tanpa batas.
Oleh karena itu, tujuan dari kehidupan Kristen bukanlah tentang melakukan lebih banyak untuk Allah, “memperbaiki” orang-orang, atau bahkan mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik. Kehidupan Kristen hanyalah tentang mengasihi orang-orang dengan cara yang sama seperti Allah mengasihi kita, agar setiap orang yang kita temui mengecap surga di Bumi.
Pertanyaan Refleksi
Apakah salah satu cara praktis yang dapat anda lakukan untuk memperlambat tempo untuk mengasihi seseorang dalam 24 jam kedepan?
Doa
Tuhan, saya meminta-Mu untuk melakukan pekerjaan kasih karunia ilahi di dalam hati saya agar saya dapat mengasihi orang-orang seperti yang Engkau lakukan. Anugerahkan saya dengan kasih karunia untuk bersabar dan baik hati, tidak iri atau sombong, penuhi saya dengan air yang meluap dari sumber kasih-Mu yang tidak terbatas. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 4: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Ulangan 32:10-11
10 Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya. 11 Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya,
Renungan
Dalam bagian Firman yang indah ini, Allah membandingkan diri-Nya dengan seekor induk rajawali yang menggoyang bangkitkan anak-anaknya untuk meninggalkan sarang mereka untuk terbang. Sama seperti induk rajawali melindungi dan menopang anak-anaknya dengan melayang layang di bawah mereka dengan sayapnya, demikian pula Allah terbang di bawah kita dengan sayap-sayap-Nya yang kuat untuk menangkap dan membawa kita.
Ketika penulis dan pendidik Parker Palmer menggambarkan proses Quaker dalam menciptakan ruang aman bagi orang-orang pribadi untuk mendapatkan “kejelasan” tentang kemana Roh Allah mungkin memimpin mereka, ia membandingkannya dengan memegang orang itu seperti burung kecil di telapak tangan kita. Tetapi, ia mencatat bahwa ada godaan godaan besar bagi kita sebagai pendengar-pendengar. Saya menyarankan, kita memegang jiwa orang yang fokus seolah-olah kita memegang burung kecil di kedua telapak tangan kita. Saat kita melakukan hal tersebut, kemungkinan besar kita akan mengalami 3 godaan-godaan, dan adalah penting bagi kita untuk menolak semuanya:
• Setelah beberapa saat, tangan kita mungkin mulai menutup di sekitar burung tersebut, ingin memisahkan makhluk ini dan mencari tahu apa yang menghidupkannya. Tahanlah godaan ini.…
• Seiring berjalannya waktu, lengan kita mungkin mulai lelah, dan kita mungkin menemukan diri kita tergoda untuk meletakkan burung tersebut: perhatian bimbang, pikiran berkeliaran.… Kita juga harus melawan godaan ini. Burung tersebut ringan, dan jiwa lebih ringan lagi.…
• Menjelang akhir proses… kita dapat menemukan tangan kita yang menangkup membuat gerakan ke atas yang halus, namun terus menerus, mendorong burung tersebut untuk terbang:… “Apakah anda tidak siap untuk terbang, untuk bertindak berdasarkan apa yang anda ketahui sekarang?” Tahanlah godaan ini juga. Burung tersebut akan terbang ketika sudah siap, dan kita tidak mungkin tahu kapan itu akan terjadi.
Saat mendengarkan, kita seringkali merasakan godaan besar untuk mempercepat proses Allah atau mengendalikan hasil-hasil. Kita harus mengingat bahwa Allahlah - bukan kita - yang bertanggung jawab untuk mendorong anak-anaknya keluar dari sarang. Waktu saat hal tersebut terjadi adalah keputusan-Nya. Peran kita adalah untuk mengasihi, untuk mendengar, dan untuk bekerja sama dengan apa yang dilakukan Roh-Nya dalam kehidupan orang yang kita dengarkan.
Pertanyaan Refleksi
Saat anda menanti untuk menghabiskan waktu bersama seseorang hari ini, perbedaan apa yang dapat terbuat dalam kemampuan anda untuk mendengar dengan baik jika anda dapat membayangkan memegang orang itu seperti burung kecil di telapak tangan anda?
Doa
Bapa, terima kasih bahwa Engkau adalah Allah yang selalu mendengarkan saya. Tolong saya untuk mempercayai-Mu saat saya mendengarkan sesama, memegang mereka dengan lembut - tidak bergegas untuk memperbaiki mereka, menyelamatkan mereka, atau mempercepat mereka dalam perjalanan mereka dengan Engkau. Tolong saya untuk mempercayai jadwal-Mu dan pekerjaan-Mu dalam kehidupan mereka. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 5: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Lukas 8:5-8
5 “Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu di injak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. 6 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. 7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. 8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru: “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”
Renungan
Kunci untuk mengerti perumpamaan Yesus tentang Penabur adalah kata kata terakhir-Nya, “Siapa memiliki telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar”. Yesus ingin kita mengetahui bahwa Allah sedang menabur Firman-Nya dalam dunia dan sikap paling penting yang dapat kita miliki dalam kehidupan adalah mendengarkan dengan penuh perhatian. Murid murid yang memiliki tanah yang baik memperhatikannya, menghasilkan buah 100 kali lipat. Orang-orang percaya yang diwakili oleh 3 jenis tanah lainnya - pinggir jalan, tanah yang berbatu, dan di tengah-tengah semak duri - tidak berbuah. Mereka terganggu dan lalai.
Leigton Ford, seorang pemimpin dan penulis Kristen terkenal, meringkas pentingnya mendengar Allah dengan penuh perhatian sebagai berikut:
Perhatian adalah salah satu konsep yang paling sulit untuk dipahami dan salah satu disiplin yang paling sulit untuk dipelajari. Karena kita orang-orang yang sangat mudah terganggu dalam dunia yang sangat mengganggu. Allah ingin kita untuk menjadi orang-orang yang penuh perhatian, karena Ia adalah Allah yang penuh perhatian. Banyak dari Firman Allah dalam Alkitab memanggil umat-Nya untuk “melihat”, “memandang”, “mendengarkan”, dan “memperhatikan”.… Penulis Prancis yang berpengaruh, Simone Weil, percaya bahwa perhatian adalah inti dari doa, dan nenek moyang Prancisnya, Blaise Pascal, juga merasa bahwa kurangnya perhatian adalah musuh terbesar kehidupan rohani.… Perhatian, seperti yang telah saya lihat, adalah yang paling penting bagi kita untuk menemukan jalan menuju kejernihan hati, dan kejernihan adalah jalan menuju melihat Allah, yang merupakan sumber dan akhir dari segala kerinduan kita.
Apakah anda mengerti sekarang mengapa keteralihan dan kurangnya perhatian adalah musuh besar kehidupan rohani? Ketika kita gagal untuk mendengarkan Allah, untuk menyelaraskan hati kita bagi bisikan-Nya yang samar, kita mempertaruhkan tidak lebih dari zat pendiri kehidupan rohani kita serta hubungan-hubungan kita yang paling penting.
Pertanyaan Refleksi
Apakah satu langkah praktis yang dapat anda ambil hari ini untuk mengurangi keteralihan anda dan memberi perhatian yang lebih dalam dan berkelanjutan kepada Allah dan orang-orang di sekitar anda?
Doa
Tuhan, saya menyadari bahwa saya orang yang terganggu. Tolong saya untuk melepaskan kebutuhan saya untuk mengikuti semua yang terjadi di sekitar saya, dan untuk mempercayai Engkau dengan dunia. Tolong kuatkan kemampuan saya untuk memberi perhatian kepada Mu dan kepada orang-orang di sekitar saya agar saya dapat mengasihi mereka seperti Engkau mengasihi mereka. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Minggu 6
Naiki Tangga Integritas
Memikirkan kembali nilai-nilai kita, perasaan perasaan kita, dan pikiran-pikiran kita, terutama dalam hadirat Allah, adalah pekerjaan suci. Hal tersebut juga pekerjaan yang sulit. Tetapi saat kita melakukannya, dengan penuh doa menyaring gerakan-gerakan batin kita dengan Roh Kudus, kita mengerti dengan lebih jelas apa yang dari Allah dan apa yang bukan. Lalu, daripada membela diri atau menyalahkan orang lain, kita menanggapi diri kita yang diberikan Allah dengan penuh kasih.
Tangga Integritas adalah proses langkah demi langkah untuk membantu kita untuk melakukan hal tersebut - untuk memperjelas nilai-nilai kita dan untuk jujur dan jelas tentang apa yang sedang terjadi di dalam kita. Ketika kita melakukan ini, kita memiliki integritas - apa yang penting bagi kita di dalam menentukan bagaimana kita hidup di luar. Kita lalu dapat memberi kepada dunia kasih Yesus tanpa halangan.
Hari 1: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Matius 16:21-23
21 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. 22 Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; 23 jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.
Renungan
Banyak dari kita merasa bersalah mengatakan tidak. Kita ingin disukai dan tidak mengecewakan orang, dan kita mungkin membayangkan bahwa mengatakan tidak entah bagaimana membuat kita menjadi kurang seperti Kristus. Tetapi pikirkanlah contoh Yesus dan apakah Ia mengecewakan orang atau tidak dengan terkadang mengatakan tidak.
-
Ia mengatakan tidak kepada orang banyak yang ingin menjadikan-Nya raja (Yohanes 6:14-16).
-
Ia mengatakan tidak kepada Petrus yang menginginkan-Nya untuk menghindari salib (Matius 16:21-23).
-
Ia mengatakan tidak kepada pemimpin-pemimpin agama yang menginginkan-Nya untuk berhenti mengaku diri-Nya Mesias (Yohanes 5:16-18).
-
Ia mengatakan tidak kepada keluarga-Nya yang menginginkan Nya untuk kembali ke rumah (Markus 3:31-34).
-
Ia mengatakan tidak kepada orang-orang yang menginginkan Nya untuk turun dari salib untuk membuktikan bahwa Ia Anak Allah (Lukas 23:35-39)
Jika Yesus menolak untuk mengatakan tidak karena takut mengecewakan orang, Ia tidak akan memenuhi tugas dan tujuan yang Allah berikan kepada-Nya. Ia akan memenuhi harapan-harapan orang lain daripada harapan-Nya sendiri. Dan hal yang sama berlaku kepada kita. Melatih mengatakan tidak dengan sehat adalah sangat penting jika kita ingin memenuhi tujuan Bapa untuk kehidupan kita.
Adalah penting untuk memahami bahwa baik ya dan tidak adalah kata-kata kasih. Ingatlah, ketika saya berkata tidak, hal itu bukan untuk melawan anda, tetapi untuk saya. Dan sementara kata tidak saya mungkin membuat anda sedih, hal tersebut tidak membuat saya orang yang buruk. Yang paling penting, jika saya mengatakan ya ketika yang sebenarnya saya ingin katakan adalah tidak, saya mengikis integritas saya dan menyakiti kedua belah pihak. Kita harus bisa untuk mengatakan tidak jika kita ingin mengatakan ya yang sehat.
Pertanyaan Refleksi
Dalam keadaan apakah, atau kepada siapakah, anda merasa sulit untuk mengatakan tidak? Mengapa?
Doa
Tuhan, saya membutuhkan kekuatan dan kebijaksanaan untuk hidup dengan berani dan untuk mengatakan ya atau tidak yang kuat dan sehat pada saat yang tepat. Bebaskan saya dari ketakutan mengecewakan orang lain sehingga saya dapat menjalani kehidupan yang memiliki tujuan dan integritas yang telah Engkau tentukan untuk saya hidupi. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 1: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Yohanes 1:19-23
19 Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: “Siapakah engkau?” 20 Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: “Aku bukan Mesias.” 21 Lalu mereka bertanya kepadanya: “Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?” Dan ia menjawab: “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Dan ia menjawab: “Bukan!” 22 Maka kata mereka kepadanya: “Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?” 23 Jawabnya: “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya.”
Renungan
Yohanes Pembaptis dengan jelas mengetahui siapa dirinya. Kejelasan yang ia miliki tentang identitas dan peranannya menempatkannya untuk memberi kesaksian yang luar biasa tentang Yesus dan kerajaan-Nya. Ketika Yohanes Pembaptis menyatakan 3 kali bahwa ia bukan Mesias, bukan berarti ia menganggap dirinya bukan siapa-siapa. Ia dengan jujur percaya, dan secara terbuka menegaskan, bahwa ialah yang disebut “sebuah suara” yang diramalkan oleh Yesaya untuk mempersiapkan Jalan Tuhan. Pengajar Alkitab, Frederick Dale Bruner menulis, “Tampaknya hampir seperti ia berkata, ‘saya tidak tahu banyak hal tentang diri saya dan panggilan saya, tetapi saya mengetahui satu hal: saya dikirim ke dalam sejarah untuk membawa orang-orang ke tempat dimana mereka rela dicelupkan ke dalam air untuk menunjukkan pertobatan sejati mereka.’”
Seperti Yohanes Pembaptis sudah jelas akan hal ini, sangat penting bagi kita untuk menguji dan memastikan “saya” dan “bukan saya” dari identitas kita sendiri. Hal ini memberi kita pemahaman yang sehat dan jelas tentang karunia-karunia dan keterbatasan-keterbatasan kita.
Pikirkanlah kontribusi penulis Fredrick Buechner kepada proses pengertian ini untuk mendapat kejelasan yang lebih besar tentang diri kita sendiri seiring berjalannya waktu: Ada berbagai jenis suara memanggil anda kepada berbagai jenis pekerjaan yang berbeda, dan masalahnya adalah menemukan mana yang merupakan suara Allah selain suara masyarakat.
Secara umum, sebuah aturan baik untuk menemukan ini adalah sebagai berikut:
Pekerjaan Allah biasanya memanggil anda pada jenis pekerjaan
(a) yang paling harus anda lakukan dan
(b) yang paling harus dunia selesaikan
Tempat dimana Allah memanggil anda adalah tempat dimana kegembiraan mendalam anda dan rasa lapar mendalam dunia bertemu. Lalu, sebagai hasil mendengar suara Allah dengan lebih jelas, kita dapat masuk ke dalam dunia dengan lebih beriman untuk memberi saksi tentang Yesus dan kerajaan-Nya.
Pertanyaan Refleksi
Apa yang terpikirkan ketika anda memikirkan dimana “kegembiraan mendalam” anda bertemu dengan “rasa lapar mendalam” dunia?
Doa
Bapa, begitu banyak orang-orang dan suara-suara yang menarik saya kepada arah-arah yang berbeda sehingga sulit membayangkan untuk menikmati jenis kejelasan yang Yohanes Pembaptis miliki tentang hidupnya. Ajarlah saya untuk lebih terbiasa kepada suara-Mu. Dan pimpinlah saya terus-menerus di jalan unik yang telah Engkau tetap kan untuk saya. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 2: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Yohanes 3:25-29a
25 Maka timbullah perbantahan antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang pentahiran.
26 Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: “Rabi, Dia, yang bersama-sama dengan engkau di seberang Sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah bersaksi, membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya.”
27 Jawab Yohanes: “Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga.
28 Kamu sendiri dapat bersaksi, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya.
29a Yang mempunyai mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; …
Renungan
Yohanes Pembaptis menunjukkan keberanian dan integritas yang besar dalam memeluk tujuannya yang diberikan Allah meskipun ada tekanan di sekitarnya. Ia mengetahui dengan jelas bahwa “Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga” (Yohanes 3:27). Allah mengundang kita untuk hidup dengan integritas yang sama, bahkan ketika kita membayar harga untuk melakukannya. Pelopor hak-hak sipil, Rosa Parks, memberikan contoh yang menakjubkan akan hal ini.
Rosa Parks adalah seorang wanita Afrika-Amerika yang tinggal di Selatan yang terpisah dari masyarakat umum pada tahun 1950 an. Ia lelah berpura-pura bahwa segala hal baik-baik saja padahal tidak. Penulis Parker Palmer menggambarkan apa yang menjadi momen yang mengubah sejarah - baik baginya dan bagi pergerakan hak-hak sipil:
Pada tanggal 1 Desember 1955, di Montgomery, Alabama, Rosa Parks melakukan sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan: ia duduk di bagian depan sebuah bus di salah satu kursi yang disediakan untuk orang kulit putih - tindakan yang berbahaya, berani, dan (provokatif) menimbulkan amarah dalam masyarakat rasis.… [Ketika] ditanya, “Mengapa anda duduk di bagian depan bus pada hari itu?” Rosa Parks tidak mengatakan bahwa ia duduk untuk melancarkan gerakan hak-hak sipil.… Ia berkata, “Saya duduk karena saya lelah/capek”. Tetapi, yang ia maksud bukanlah kakinya yang lelah. Maksudnya adalah bahwa jiwanya lelah, hatinya lelah, seluruh dirinya lelah menaati peraturan-peraturan rasis, lelah menyangkal tuntutan jiwanya untuk menjadi diri sendiri.
Rosa Parks membuat keputusan pada hari itu untuk tidak lagi hidup terpisah/terbelah-belah. Ia tidak akan lagi tunduk di luar kepada hukum-hukum dan kepada budaya yang berlawanan dengan kebenaran akan integritasnya di dalam. Allah juga mengundang kita untuk tidak hidup terpisah-pisah/ terbelah-belah. Ketika kita melakukannya, kita - dan akhirnya semua orang di sekitar kita - mengalami kebebasan baru.
Pertanyaan Refleksi
Berikut adalah beberapa tanda-tanda bahwa kita menjalani kehidupan yang terpisah/terbelah, sebuah kehidupan tanpa integritas:
-
Kita terlalu peduli kepada apa yang dipikirkan orang lain.
-
Kita memutarbalikkan kebenaran, melebih-lebihkan, atau berbohong untuk membuat diri kita tampak lebih baik.
-
Kita menyalahkan orang lain daripada bertanggung jawab atas kata-kata dan tindakan-tindakan kita.
-
Kita menghindari konfrontasi.
-
Kita mengatakan ya, padahal kita lebih memilih untuk mengatakan tidak
Manakah dari ciri-ciri di atas, jika ada, yang mungkin berlaku kepada anda? Apa yang membuat anda sulit untuk hidup dengan integritas pada bagian kehidupan ini?
Doa
Bapa, saya ingin hidup dari diri saya yang sebenarnya, hidup tanpa terbagi. Saya meminta Engkau untuk memenuhi saya dengan kekuatan ilahi yang sama yang membangkitkan Yesus dari kematian agar saya dapat membuat keputusan “Rosa Parks” kecil hari ini - sebuah keputusan untuk tidak berpura-pura bahwa segala hal baik-baik saja, padahal tidak. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 3: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Lukas 22:39-44
39 Lalu pergilah Yesus ke luar kota dan sebagaimana biasa Ia menuju Bukit Zaitun. Murid-murid-Nya juga mengikuti Dia. 40 Setelah tiba di tempat itu Ia berkata kepada mereka: “Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.” 41 Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya: 42 “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan ke hendak-Mulah yang terjadi.” 43 Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada Nya. 44 Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.
Renungan
Sampai saat ini dalam kehidupan duniawi-Nya, Yesus telah meramalkan bahwa panggilan-Nya adalah untuk menderita penghakiman Allah atas dosa-dosa umat manusia melalui kematian yang mengerikan di kayu salib. Tetapi di Getsemani, Ia berjuang dengan ketakutan meminum cawan penderitaan ini. Ia berdoa, Ia bergumul, dan kemudian tunduk kepada kehendak Bapa-Nya untuk hidup-Nya.
Dalam melakukan hal ini, Yesus mencontohkan penyerahan mendalam yang diperlukan dari setiap orang percaya.
Allah memiliki cawan penderitaan untuk setiap dari kita minum - tujuan kita yang unik dan diberikan Allah. Hal ini melibatkan batasan batasan, kemunduran-kemunduran, dan keputusan-keputusan sulit. Henri Nouwen merangkum pengalaman ini dengan baik:
Tidak ada 2 kehidupan yang sama. Kita seringkali membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain, mencoba untuk memutuskan apakah kita lebih baik atau lebih buruk, tetapi perbandingan seperti itu tidak banyak membantu kita. Kita harus menjalani kehidupan kita sendiri, bukan kehidupan orang lain. Kita harus memegang cawan kita sendiri. Kita harus berani mengatakan: “Ini adalah hidup saya, hidup yang diberikan kepada saya. Dan hidup inilah yang harus saya jalani, sebaik mungkin. Hidup saya unik. Tidak akan ada orang lain yang menjalaninya. Saya memiliki sejarah saya sendiri, keluarga saya sendiri, tubuh saya sendiri, karakter saya sendiri, teman-teman saya sendiri, cara berpikir, berbicara, dan bertindak saya sendiri - ya, saya memiliki hidup saya sendiri untuk dijalani. Tidak ada orang lain yang memiliki tantangan yang sama. Saya sendiri, karena saya unik. Banyak orang dapat membantu saya menjalani hidup saya, tetapi setelah semua dikatakan dan dilakukan, saya harus membuat keputusan-keputusan saya sendiri tentang bagaimana untuk menjalani hidup.
Sebagian besar dari kita tidak memiliki masalah dalam melakukan kehendak Allah - selama tidak melibatkan terlalu banyak rasa sakit. Tetapi kenyataannya adalah bahwa kita semua memiliki perjuangan-perjuangan dan kerentanan-kerentanan yang menggoda kita untuk menyimpang dari pusat kehendak Allah.
Pertanyaan Refleksi
Bagaimanakah hari ini mungkin berbeda jika, daripada membandingkan hidup anda dengan orang lain atau mencoba menghindari “cawan” anda, anda berserah kepadanya?
Doa
Tuhan, terima kasih karena telah menciptakan kehidupan yang unik dan tidak dapat diulang untuk saya jalani. Ampuni saya untuk seberapa sering saya menyimpang dari jalan itu dan membandingkan kehidupan saya dengan kehidupan orang lain. Penuhi saya dengan Roh Kudus, dan anugerahkan saya dengan kebijaksanaan, kekuatan, dan keberanian untuk mengikuti-Mu - bahkan ketika saya tidak yakin ke mana atau bagaimana Engkau memimpin saya. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 4: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Kejadian 3:4-7
4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, 5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” 6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya. 7 Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.
Renungan
Setelah Adam dan Hawa berpaling dari Allah. Mereka menggunakan daun ara untuk menutupi dan menyembunyikan rasa malu mereka. Daun ara ini sering disebut oleh penulis-penulis rohani sebagai manusia palsu atau diidealkan yang kita gambarkan di dunia untuk menutupi dan menyembunyikan rasa malu yang kita rasakan tentang diri sejati kita. Kita secara efektif mengenakan daun ara setiap kali kita mengikat identitas kita dengan apapun kecuali kasih Allah yang dalam dan kehendak-Nya bagi hidup kita. Ahli agama Robert Mulholland menyebutkan beberapa ciri-ciri yang sulit dipahami dari manusia palsu tersebut:
Ketika kita hidup sebagai manusia palsu, kita takut bahwa kekurangan kita akan pusat sejati dari identitas kita akan terungkap dan kelemahan itu dimanfaatkan oleh orang lain. Salah satu cara manusia palsu kita mencoba untuk mengimbanginya adalah untuk menemukan identitas kita dalam prestasi. “Saya adalah apa yang saya lakukan” adalah salah satu cara pandang utama dari manusia palsu.… manusia palsu kita adalah ahli memanipulasi, selalu berusaha untuk memanfaatkan dunianya dan segala hal di dalamnya dengan cara yang paling menguntungkan bagi keamanan, martabat, dan terutama, agenda diri sendiri.… manusia palsu kita selalu mempromosikan kita dan agenda kita diatas segala yang lain.… Bentuk terburuk dari manusia palsu adalah ketika mengerti agama, ketika manusia palsu tersebut menjadi agamawi.… [Diri itu] berkembang dengan sangat bertahap selama bertahun-tahun dalam hidup kita - hal ini secara halus tertanam di dalam kita oleh budaya kita - sehingga kita seringkali bahkan tidak menyadari kehadirannya.
Semua hubungan-hubungan kita terdampak secara negatif ketika kita hidup dari manusia palsu, ketika kita memilih untuk menggambarkan dan melindungi gambaran yang diidealkan. Mereka juga terdampak secara positif ketika kita hidup dari diri sejati yang tertanam dan didasarkan pada Allah. Allah mengundang kita untuk mempercayai-Nya saat kita pergi ke dunia, memperhatikan dengan siapakah kita mungkin memakai manusia palsu, dan percaya bahwa Ia akan menjaga kita jika kita hidup dengan jujur dan asli.
Pertanyaan Refleksi
Saat anda mempertimbangkan untuk melepaskan “daun ara” yang anda mungkin sedang pakai, bagaimanakah anda mendengar janji Allah, “Jangan takut. Aku mengasihimu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu”?
Doa
Tuhan, anugerahkan saya dengan keberanian untuk melihat dimana saya bersembunyi di belakang daun-daun ara manusia palsu yang takut untuk terungkap. Tolong saya untuk mempercayai kasih-Mu dan untuk mengizinkannya memenuhi setiap bagian diri saya. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 5: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Lukas 4:16-19, 28-30
16 Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. 17 Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: 18 “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku 19 untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”…
28 Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. 29 Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. 30 Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.
Renungan
Tampaknya hampir setiap orang memiliki harapan-harapan untuk diterapkan dalam kehidupan Yesus. Ia mengecewakan banyak orang, sehingga mereka bahkan ingin melemparkan-Nya dari tebing! Namun, Ia aman dalam kasih Bapa-Nya dan tetap setia kepada identitas dan tujuan Nya yang diberikan Allah. Meskipun kita mungkin tidak secara rutin berada dalam bahaya terlempar dari tebing, kita juga terkadang harus menghadapi tekanan tekanan dan harapan-harapan yang ingin dipaksakan orang lain kepada kita. Salah satu cara yang sangat membantu untuk memperjelas tantangan ini adalah dengan memahami konsep yang disebut diferensiasi. Diferensiasi mengacu kepada kemampuan seseorang untuk menentukan tujuan-tujuan dan nilai-nilai kehidupannya sendiri terlepas dari tekanan-tekanan dari orang-orang di sekitar mereka. Seseorang yang mampu melakukan diferensiasi memiliki kemampuan untuk berpikir dengan jernih dan hati-hati, untuk menetapkan keutamaan-keutamaan dan membuat keputusan-keputusan.
Diferensiasi berarti anda mengetahui bagaimana caranya untuk mempertahankan siapa diri anda dan siapa anda bukan terlepas dari keadaan-keadaan anda. Tingkat diferensiasi anda ditentukan oleh seberapa baik anda mampu menguatkan nilai-nilai dan tujuan-tujuan anda terlepas dari tekanan-tekanan di sekitar anda (keterpisahan), sambil tetap dekat dengan orang-orang yang penting bagi anda (kebersamaan). Keyakinan-keyakinan, tujuan-tujuan, dan nilai-nilai anda tidak berubah, bahkan di bawah tekanan. Anda dapat membuat keputusan-keputusan yang sehat, di hadapan Allah, tanpa dikendalikan oleh penerimaan atau ketidaksetujuan orang lain.
Diferensiasi terkadang tidak nyaman, tetapi menahan ketidaknyamanan adalah dasar dari pendewasaan dan pertumbuhan. Kabar baiknya adalah, setiap langkah kecil diferensiasi yang kita ambil sebenarnya merupakan langkah besar menuju menjadikan hidup kita sebagai karunia bagi dunia.
Pertanyaan Refleksi
Dalam hubungan manakah dimana Allah mungkin sedang mengundang anda untuk melakukan diferensiasi, untuk menahan ketidaknyamanan sementara demi pertumbuhan jangka panjang - di dalam diri anda dan orang-orang di sekitar anda?
Doa
Bapa, saya mengakui bahwa ketakutan dan kecemasan saya terkadang membuat saya mengatakan dan melakukan hal-hal yang saya sesali. Ketika nilai-nilai saya dilanggar atau saya merasa tertekan untuk membuat keputusan yang tidak ingin saya buat, tolong saya untuk berbicara atau meneguhkan pendirian saya. Anugerahkan saya dengan keberanian untuk mengambil langkah-langkah hari ini untuk melakukan diferensiasi dalam cara-cara yang akan memimpin saya, dan orang lain, kepada kedewasaan yang lebih besar. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 2: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Keluaran 3:1-5
1 Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. 2 Lalu Malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. 3 Musa berkata: “Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?” 4 Ketika dilihat Tuhan, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: “Musa, Musa!” dan ia menjawab: “Ya, Allah.” 5 Lalu Ia berfiman: “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.”
Renungan
Pada umur 80, Musa mendengar suara Allah di tempat yang sangat tidak terduga, dan pengalaman ini mengubah tujuan hidupnya. Sebelumnya, ia adalah penggembala padang pasir yang tidak dikenal. Setelah pengalamannya, Allah mengundangnya untuk melewati rintangan-rintangan besar (segala sesuatu dari kegagalan-kegagalan masa lalunya sampai Firaun yang mahakuasa) untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan selama 400 tahun.
Suara Allah seringkali datang kepada kita dengan cara-cara yang sama. Dalam kejadian-kejadian dan keadaan-keadaan yang tidak terduga, Ia memanggil kita untuk mendengarkan-Nya, mengizinkan-Nya untuk menyela kehidupan kita, dan memimpin kita ke tempat-tempat baru. Hal ini adalah pengalaman yang tidak nyaman bagi Musa, dan tidak akan lebih nyaman bagi kita. Rasanya hampir selalu seperti ini ketika kita mengambil risiko untuk mengikuti Allah ke tempat yang tidak diketahui. Ini adalah pengalaman yang tidak jauh berbeda dari apa yang dihadapi oleh pilot uji coba, Chuck Yeager, manusia pertama yang pernah menembus hambatan suara.
Saat itu tahun 1947, dan tidak ada yang pernah melampaui kecepatan suara - 760 mph (atau sekitar 1223 kmh) di permukaan laut - karena kepercayaan yang dipegang secara luas akan adanya “hambatan suara”, dinding udara tidak kasat mata yang menghancurkan pesawat terbang yang mencoba untuk menembusnya.
Ketika Chuck Yeager diundang untuk menjadi pilot uji coba, bosnya memberitahunya, “Tidak ada yang tahu pasti apa yang akan terjadi sampai seseorang tiba di sana. Chuck, anda akan terbang ke tempat yang tidak diketahui”. Baik Angkatan Udara maupun sang kolonel tidak bisa menjamin hasilnya. Tidak seorangpun pernah kesana sebelumnya.
Setelah 9 percobaan, pada tanggal 14 Oktober 1947, Yeager akhirnya memecahkan hambatan suara. Ia kemudian menulis tentang pengalamannya, “Saya tercengang. Setelah semua kecemasan, memecahkan hambatan suara ternyata menjadi jalan cepat beraspal yang sempurna.… Setelah semua penantian, hal ini benar-benar mengecewakan. Tempat ‘tidak diketahui’ ternyata hanya seperti menusuk Jell-O”.
Anda mungkin bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika anda menganggap serius tujuan Allah untuk anda dan mengizinkan-Nya untuk memimpin anda ke tempat-tempat yang baru. Ya, hidup anda, seperti pesawat Yeager, akan bergoncang dalam proses pendewasaan anda menjadi orang yang Allah kehendaki. Tetapi jika anda bergerak maju, anda akan menemukan bahwa Allah menyertai anda dan berada di belakang anda. Dan tempat tidak diketahui yang menakutkan di depan mungkin ternyata tidak lebih menakutkan daripada “menusuk Jell-O”.
Pertanyaan Refleksi
Bagaimanakah Allah telah berusaha mendapatkan perhatian anda akhir akhir ini? Hal apakah yang setara dengan “semak terbakar” bagi anda - masalah yang menyala tetapi tidak akan mati?
Doa
Tuhan Yesus, bebaskan saya untuk menjadi orang yang telah anda ciptakan, dan untuk melakukan apa yang telah anda panggil saya untuk lakukan. Seperti Musa, saya meminta Engkau untuk membantu saya meninggalkan pengalaman-pengalaman negatif dan kegagalan kegagalan masa lalu agar saya dapat mengikuti Engkau ke masa depan yang Engkau miliki bagi saya. Tolong saya untuk menyadari tangan Mu yang bekerja di dalam dan melalui setiap keadaan dan musim dalam hidup saya. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 3: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Daniel 1:3-5, 8
3 Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan, 4 yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim. 5 Dan raja menetapkan bagi mereka pelabur setiap hari dari santapan raja dan dari anggur yang biasa diminumnya. Mereka harus dididik selama tiga tahun, dan sesudah itu mereka harus bekerja pada raja.…
8 Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.
Renungan
Nebukadnezar dan pasukan-pasukan Babel, dengan dewa-dewa mereka, menaklukkan Yerusalem dan membawa sebagian besar penduduk penduduk kota sebagai budak. Salah satunya adalah seorang remaja muda bernama Daniel. Dipisahkan dari keluarga, guru-guru, teman-teman, makanan, budaya, dan bahasanya, Daniel dibawa ke istana Babel dan dikirim ke universitas terbaik di negara itu. Di sana, ia dipaksa untuk mempelajari cara pandang kafir terhadap dunia - termasuk mitos-mitos, ilmu perbintangan, ilmu hitam, dan sihir, yang semuanya dilarang di Israel. Dalam upaya untuk membaurkan Daniel, orang-orang Babel bahkan merubah namanya. Ia sekarang dipanggil Beltsazar. Raja Babel memiliki satu tujuan sederhana: menghilangkan kekhasan Daniel sebagai pengikut Allah dan menyerapnya ke dalam nilai-nilai budaya mereka. Namun, Daniel melawan kekuatan besar Babel. Ia tetap merenung dan berdoa, tidak meninggalkan masalah kehidupan batinnya.atau integritasnya kepada nasib.
Meskipun kita hanya mengetahui sedikit dari detail-detailnya, terlihat jelas bahwa Daniel memusatkan seluruh hidupnya kepada mengasihi Allah. Ia menolak aktivitas-aktivitas tertentu, seperti memakan makanan raja, dan melakukan aktivitas-aktivitas lain seperti berdoa setiap hari. Terlepas dari lingkungan yang tidak bersahabat di mana ia menemukan dirinya, Daniel tidak hanya memberi makan dirinya secara rohani, tetapi ia menjaga integritasnya dan berkembang menjadi hamba Allah yang luar biasa.
Pertanyaan Refleksi
Dalam area-area apa saja dalam hidup anda (nilai-nilai, sikap-sikap, aktivitas-aktivitas, gaya hidup, pilihan-pilihan, dan lain lain) dimana Allah mungkin sedang memanggil anda untuk mengikuti Daniel - untuk menahan nilai-nilai budaya? Doa Tuhan, saya membutuhkan penglihatan dan keberanian untuk mendekati hubungan-hubungan saya seperti Daniel, terutama saat di tempat kerja dan di rumah. Daripada hanya dengan pasrah mengikuti orang banyak, tolong saya untuk menghidupi apa yang saya percayai - untuk berbicara dan bertindak dengan integritas. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 4: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Bilangan 11:10-12, 14-15, 17-18, 20-23
10 Ketika Musa mendengar bangsa itu, yaitu orang-orang dari setiap kaum, menangis di depan pintu kemahnya, bangkitlah murka Tuhan dengan sangat, dan hal itu dipandang jahat oleh Musa. 11 Lalu berkatalah Musa kepada Tuhan: “Mengapa Kau perlakukan hamba-Mu ini dengan buruk dan mengapa aku tidak mendapat kasih karunia di mata-Mu, sehingga Engkau membebankan kepadaku tanggung jawab atas seluruh bangsa ini? 12 Akukah yang mengandung seluruh bangsa ini atau akukah yang melahirkannya, sehingga Engkau berkata kepadaku: Pangkulah dia seperti pak pengasuh memangku anak yang menyusu, berjalan ke tanah yang Kau janjikan dengan bersumpah kepada nenek moyangnya?…
14 Aku seorang diri tidak dapat memikul tanggung jawab atas seluruh bangsa ini, sebab terlalu berat bagiku. 15 Jika Engkau berlaku demikian kepadaku, sebaiknya Engkau membunuh aku saja, jika aku mendapat kasih karunia di mata-Mu, supaya aku tidak harus melihat celakaku.”… 17 “Maka Aku akan turun dan berbicara dengan engkau di sana, lalu sebagian dari Roh yang hinggap padamu itu akan Kuambil dan Kutaruh atas mereka, maka mereka bersama-sama dengan engkau akan memikul tanggung jawab atas bangsa itu, jadi tidak usah lagi engkau seorang diri memikulnya. 18 Tetapi kepada bangsa itu haruslah kaukatakan: Kuduskanlah dirimu untuk besok, maka kamu akan makan daging; sebab kamu telah menangis di hadapan Tuhan dengan berkata: Siapakah yang akan memberi kami makan daging? Begitu baik keadaan kita di Mesir, bukan? – Tuhan akan memberi kamu daging untuk dimakan.…
20 Tetapi genap sebulan lamanya, sampai keluar dari dalam hidung mu dan sampai kamu muak – karena kamu telah menolak Tuhan yang ada di tengah-tengah kamu dan menangis di hadapan-Nya dengan berkata: Untuk apakah kita keluar dari Mesir?” 21 Tetapi kata Musa: “Bangsa yang ada bersama aku ini berjumlah enam ratus ribu orang berjalan kaki, namun Engkau berfirman: Daging akan Kuberikan kepada mereka, dan genap sebulan lamanya mereka akan memakannya! 22 Dapatkah sekian banyak kambing domba dan lembu sapi disembelih bagi mereka, sehingga mereka mendapat cukup? Atau dapatkah ditangkap segala ikan di laut bagi mereka, sehingga mereka mendapat cukup?” 23 Tetapi Tuhan menjawab Musa: “Masakan kuasa Tuhan akan kurang untuk melakukan itu? Sekarang engkau akan melihat apakah firman-Ku terjadi kepadamu atau tidak!”
Renungan
Orang-orang Israel berteriak-teriak meminta daging dan menyalahkan Musa atas ketidaknyamanan mereka dan terbatasnya persediaan makanan. Daripada meminta dan mempercayai Allah untuk penyediaan-Nya, mereka menuntut Musa untuk menyelamatkan mereka dari kesulitan mereka. Musa segera menanggapi, melompat untuk menyelamatkan mereka. Faktanya, Musa bekerja berlebihan dengan melakukan bagi mereka apa yang mereka dapat dan seharusnya lakukan bagi diri mereka sendiri. Bekerja berlebihan sangat sulit untuk dikenal dan diperbaiki karena kita seringkali mendapatkan imbalan untuk hal ini, terutama di gereja. Tetapi, hal ini merusak persahabatan, pernikahan, gereja, tempat kerja, dan keluarga. Sebagai akibatnya, kita menjadi kesal (seperti Musa); kita mengabadikan ketidakdewasaan orang lain (seperti orang-orang Israel yang mengeluh); kita merusak komunitas; dan kita menyimpang dari apa yang telah Allah rencanakan bagi kita. Mungkin yang paling penting, kita tidak harus menghadapi ketakutan-ketakutan yang mendorong sifat bekerja berlebihan kita sejak awal.
Ketika kita bekerja berlebihan, kita akhirnya percaya bahwa kita sangat diperlukan - bahwa segala hal akan hancur berantakan jika kita berhenti. Sebenarnya, yang benar adalah sebaliknya. Jika kita melepaskan cara-cara kita dalam bekerja berlebihan, maka pekerjaan Allah akan berhasil dalam diri kita dan, pada akhirnya, di dalam mereka yang kita ingin layani. Ketika Musa berhenti dan berseru kepada Allah, bahkan dalam kekecewaannya, Allah bekerja.
Pertanyaan Refleksi
Di area apa dalam kehidupan anda terkadang anda merasa sangat diperlukan / tidak tergantikan ? (sebagai contoh, di rumah, di pekerjaan, di gereja, dalam pertemanan, dengan keluarga besar lainnya). Bagaimana cara anda mengundang anda untuk melepaskan hal ini.
Doa
Bapa, tolong saya untuk mempercayaiMu bahwa Engkau benar - benar ada di tahta, bahwa tanganMu tidak terlalu pendek untuk memperhatikan orang dan situasi-situasi yang saya pedulikan. Anugerahkan kepadaku kepekaan yang sehat dalam hubungan-hubungan saat saya mengerjakan untuk orang lain hal-hal yang sebenarnya bisa dan seharusnya mereka lakukan sendiri. Dan biarlah saya beristirahat dalam kemerdekaan yang datang dari keberadaan yang berakar dalam kasihMu. Dalan nama Yesus. Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 5: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Yohanes 9:18-23
18 Tetapi orang-orang Yahudi itu tidak percaya, bahwa tadinya ia buta dan baru dapat melihat lagi, sampai mereka memanggil orang tuanya 19 dan bertanya kepada mereka: “Inikah anakmu, yang kamu katakan bahwa ia lahir buta? Kalau begitu bagaimanakah ia sekarang dapat melihat?” 20 Jawab orang tua itu: “Yang kami tahu ialah, bahwa dia ini anak kami dan bahwa ia lahir buta, 21 tetapi bagaimana ia sekarang dapat melihat, kami tidak tahu, dan siapa yang memelekkan matanya, kami tidak tahu juga. Tanyakanlah kepadanya sendiri, ia sudah dewasa, ia dapat berkata-kata untuk dirinya sendiri.” 22 Orang tuanya berkata demikian, karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi, sebab orang-orang Yahudi itu telah sepakat bahwa setiap orang yang mengaku Dia sebagai Mesias, akan dikucilkan. 23 Itulah sebabnya maka orang tuanya berkata: “Ia telah dewasa, tanyakanlah kepadanya sendiri.”
Renungan
Berbeda dengan anaknya yang tidak takut dan berbicara jujur, orangtua dalam kisah ini takut dengan pemimpin-pemimpin agama. Mengapa? Dikeluarkan dari sinagoga berarti menjadi sesuatu yang bukan orang dalam masyarakat Yahudi abad pertama. Namun kita mempelajari kebenaran yang penting dari orangtua pria buta itu: Ketika kita bukan orang yang sama di batin kita seperti yang terlihat di luar, akan ada akibat akibat yang menyakitkan. Parker Palmer mencatat beberapa dari akibat akibat ini untuk kita:
-
Kita kehilangan hubungan dengan jiwa kita dan menghilang ke dalam peranan kita.…
-
Kita merasa bahwa ada sesuatu yang hilang dalam hidup kita dan mencari dunia untuk hal tersebut, tidak mengerti bahwa hal yang hilang itu adalah diri kita sendiri.
-
Kita merasa seperti penipu, bahkan tidak terlihat, karena tidak berada di dunia seperti kita sebenarnya.
-
Ketidakaslian dan gambaran-gambaran kita membuat hubungan-hubungan nyata tidak memungkinkan, menyebabkan kesepian.
-
Kontribusi-kontribusi kita kepada dunia - terutama melalui pekerjaan yang kita lakukan - dinodai dengan kepalsuan.
Hidup yang terpisah adalah hidup yang tersakiti, dan jiwa terus-menerus memanggil kita untuk menyembuhkan luka itu. Jika kita mengabaikan panggilan itu, kita akan menemukan diri kita mencoba mematikan rasa sakit kita dengan obat bius pilihan, baik itu penyalahgunaan zat, bekerja berlebihan, konsumerisme, atau kebisingan media yang tidak masuk akal. Obat-obat seperti itu mudah didapat di dalam masyarakat yang ingin membuat kita terpisah dan tidak menyadari rasa sakit kita. … Tetapi tidak ada penderitaan yang lebih besar daripada menghidupi kebohongan seumur hidup.
Orangtua dari orang buta yang disembuhkan memilih untuk tidak membuat perubahan yang dibutuhkan untuk mengikuti Yesus. Ketakutan mereka akan diusir dari sinagoga dan tanggapan negatif dari pemimpin pemimpin agama Yahudi terlalu besar. Mereka tidak menghargai bahwa Yesus berada bersama mereka, dan bahwa Ia dapat memberi mereka lebih dari cukup kasih karunia dan kuasa untuk membawa mereka ke masa depan yang baru.
Pertanyaan Refleksi
Pikirkanlah tentang interaksi-interaksi anda selama 24 jam terakhir. Dalam cara-cara apakah, jika ada, anda memilih tindakan-tindakan atau kata-kata tertentu baik untuk mendapatkan penerimaan atau untuk menghindari ketidaksetujuan?
Doa
Tuhan, anugerahkan saya kasih karunia untuk bebas dari ketakutan akan apa yang dipikirkan orang lain. Tunjukkan kepada saya di mana dan bagaimana saya membuat keputusan-keputusan untuk mendapat penerimaan dari mereka di sekitar saya (atau untuk menghindari ketidaksetujuan mereka). Bebaskan saya dari kehidupan yang terpisah agar saya dapat menjadi orang yang sama di batin dengan bagaimana saya terlihat di luar. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Minggu 7
Berselisih dengan Bersih
Tidak ada 2 orang yang sama. Allah menciptakan kita masing-masing berbeda - dengan pilihan-pilihan, keinginan-keinginan, nilai-nilai, dan mimpi-mimpi yang unik. Ketika kita tidak mengetahui bagaimana cara merunding kan perbedaan-perbedaan ini dengan orang lain, kita dapat merasa terancam dan menanggapinya dengan cara cara yang tidak dewasa, terutama ketika sedang stres. Sebagai murid Yesus, kita dipanggil untuk mengendalikan perbedaan-perbedaan kita dan menyelesaikan konflik dengan cara-cara yang menghormati Allah. Ketika kita Berselisih dengan Bersih, kita memakai alat hubungan yang sehat secara emosi yang dirancang untuk membantu kita menyelesaikan konflik-konflik sebagai pengikut pengikut Kristus yang dewasa. Tetapi, untuk menerapkan kemampuan ini, diperlukan pembaruan dan perubahan secara berkelanjutan, sesuatu yang dilakukan dengan bantuan Ibadah Harian dengan secara rutin menempatkan diri kita dalam hadirat Allah. Dalam kuasa Roh Kudus, kita menerima keberanian untuk berhenti menyalahkan orang lain dan bertanggung jawab untuk meminta apa yang kita inginkan atau perlukan. Ketika kita terus-menerus dalam hadirat Allah, Ia melembutkan kita untuk menjadi lebih murah hati. Dan yang terpenting, kita menerima kasih Allah sedemikian rupa sehingga kita mampu memberikannya kepada orang-orang di sekitar kita.
Hari 1: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Matius 10:34-36
34 “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. 35 Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, 36 dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.
Renungan
Mungkin salah satu ajaran yang paling disalahgunakan dalam Perjanjian Baru adalah pernyataan Yesus: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9). Terlalu banyak orang berpikir bahwa Yesus memanggil kita dalam ayat ini untuk menjadi semacam lapisan kepasifan dan ketenangan palsu untuk memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang akan marah.
Kita lupa bahwa konflik dan masalah hampir terus terjadi dalam kehidupan dan pelayanan Yesus. Ia mengganggu kedamaian palsu yang diinginkan semua orang di sekitarnya, termasuk murid-murid-Nya, orang banyak, pemimpin-pemimpin agama, orang-orang Romawi, mereka yang menjual dan membeli di Bait Allah - bahkan keluarga-Nya sendiri, Yesus menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang Kristen yang sehat tidak menghindari konflik yang sah.
Ketika kita menghindari konflik dan menenangkan orang-orang dari ketakutan, kita adalah pembawa damai palsu. Yesus menunjukkan kita bahwa kedamaian sejati tidak akan pernah datang dengan mencoba berpura-pura bahwa apa yang salah adalah benar. Pembawa damai sejati mengasihi Allah, sesama, dan diri mereka sendiri secara cukup untuk mengganggu kedamaian palsu ketika dibutuhkan. Meskipun demikian, konflik yang tidak terselesaikan tetap menjadi salah satu ketegangan terbesar dalam kehidupan orang Kristen saat ini.
Kita tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan masalah-masalah sulit ini sehingga kita mengabaikan mereka, berharap melawan pengharapan bahwa mereka entah bagaimana akan hilang. Mereka tidak akan hilang. Dan kita semua mempelajari, cepat atau lambat, bahwa kita tidak dapat membangun kerajaan Kristus dengan kedamaian palsu dan berpura-pura. Hanya kebenaran yang dapat melakukan hal itu.
Pertanyaan Refleksi
Dalam keadaan-keadaan apakah, atau dengan siapakah, anda secara rutin tergoda untuk menghindari konflik dan menerima kedamaian palsu?
Doa
Tuhan, ampuni saya karena berpura-pura bahwa segala hal baik-baik saja padahal sebenarnya tidak. Saya seringkali mengabaikan persoalan-persoalan dan masalah-masalah yang sulit karena saya ingin menghindari konflik dan kekacauan. Tolong saya, saya berdoa, untuk mengikuti jalan Yesus, untuk menjadi pembawa damai sejati dalam semua hubungan-hubungan saya, sehingga kerajaan Allah dapat menjadi nyata dalam hidup saya seperti di surga. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 1: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Yesaya 58:9-11
9 Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan Tuhan akan menjawab,engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, 10 apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kau inginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. 11 Tuhan akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.
Renungan
Pada zaman Yesaya (sekitar 700 SM), umat Allah sangat taat - mereka berdoa, berpuasa, dan menghafal Firman. Tetapi, mereka juga memiliki masalah dengan “jari yang menunjuk dan pembicaraan jahat”. Hubungan hubungan mereka ditandai dengan ketidaksabaran, roh yang menghakimi, dan kejengkelan. Mungkin kerohanian mereka yang terputus terdengar seperti ini: Saya tidak tahan dengan anda, tetapi setidaknya saya berdoa dan membaca Firman pagi ini! Mereka gagal untuk melihat bahwa tidak mungkin untuk memikirkan kehidupan rohani terlepas dari mengasihi sesama kita.
Ajaran Yesus tentang kasih adalah radikal. Ia bahkan mengatakan bahwa sejauh mana kita mengasihi “musuh-musuh” kita - mereka yang menyakiti kita, membuat kita kesal, membuat kita gila - adalah tanda sebenarnya dari kedewasaan rohani kita. Cara lain untuk memikirkan ini adalah bahwa musuh-musuh kita adalah “pembuat suci”, cara yang Allah pakai untuk merubah kita secara mendalam dan kuat. Dalam pengertian ini, musuh-musuh bukanlah gangguan-gangguan atau rintangan rintangan, tetapi karunia yang menyamar dari Allah.
Yesus berulang kali mengajar bahwa mengasihi Allah dan mengasihi sesama tidak dapat dipisahkan. Mengapa? Ia mengetahui betapa mudahnya untuk memisahkan pikiran-pikiran dan kepercayaan kepercayaan kita dari tindakan-tindakan kita, bahwa kita dapat berdoa dan bahkan mempraktikkan disiplin-disiplin rohani dan masih gagal untuk mengasihi orang-orang yang tinggal bersama kita.
Pertanyaan Refleksi
Jika memang benar bahwa musuh-musuh dapat menjadi karunia yang menyamar dari Allah, siapakah dalam hidup anda yang mungkin adalah “pembuat suci”? Dalam cara-cara apakah Allah mungkin sedang menggunakan orang ini untuk mengubah anda?
Doa
Tuhan, penuhi saya dengan kasih-Mu hari ini bagi pembuat suci saya, ___________ (Sebutkan nama “musuh” anda). Tolong saya untuk melihat orang ini bukan sebagai musuh, tetapi sebagai karunia yang menyamar, cara yang anda pakai untuk menolong saya untuk menjadi lebih seperti Yesus. Saya membuka pintu hati saya bagi-Mu dan meminta bahwa Engkau akan menolong saya untuk melihat pembuat suci saya melalui mata-Mu, dan untuk mengasihi mereka seperti Engkau mengasihi mereka. Dalam nama Yesus, Amin.
Simpulkan dengan Berdiam (2 Menit)
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 2: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Mazmur 56:2-5, 9
2 Kasihanilah aku, ya Allah, sebab orang-orang menginjak-injak aku, sepanjang hari orang memerangi dan mengimpit aku! 3 Seteru-seteruku menginjak-injak aku sepanjang hari, bahkan banyak orang yang memerangi aku dengan sombong. 4 Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu; 5 kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? …
9 Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kau taruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?
Renungan
Konflik-konflik penuh dengan stres dan rasa sakit. Paling buruknya, mereka bahkan dapat menjadi ganas dan merusak. Namun mereka juga memiliki kemungkinan untuk membawa kita ke dalam pertemuan pertemuan rohani yang hebat dan kuat. Mereka lebih dari sekadar gangguan dalam kehidupan kita yang damai tanpa mereka. Mengapa? Karena mereka membawa kita ke dalam ketidakpastian, kehilangan kendali, dan kebingungan mendalam. Dan hal-hal tersebut dapat menjadi bagus!
Halaman-halaman Alkitab menggambarkan Daud sebagai orang yang berkenan di hati Allah. Tetapi, hal yang hanya sedikit orang sadari adalah betapa dekatnya sifat ini terhubung dengan cara ia menangani kehilangan, kekecewaan-kekecewaan, dan konflik-konflik, bahkan ketika hidupnya terancam, Daud seringkali berbicara dan bernyanyi tentang penderitaan-penderitaan dan hubungan-hubungannya yang sulit. Baginya, mereka adalah kendaraan pengungkapan Allah.
Kita dapat melihat ini di kitab Mazmur - yang mencakup banyak doa doa dan nyanyian-nyanyian yang ditulis oleh Daud - dan tetap menjadi salah satu kitab yang paling disukai dalam Alkitab. Lebih dari setengah dari 150 pasal mazmur adalah ratapan yang menyuarakan bagian-bagian hidup yang susah dan sulit. Pakar Alkitab Walter Brueggemann dengan tepat mencatat bahwa rasa sakit dan penderitaan berada di pusat dari pola tiga bagian yang kita lihat dalam kitab Mazmur:
-
Keteraturan, dimana kehidupan masuk akal dan kita menikmati Allah
-
Ketidakteraturan, dimana kita terluka, menderita, dan bertanya tanya di manakah Allah berada.
-
Keteraturan baru, dimana Allah menerobos masuk dan kita bertemu dengan-Nya dengan cara yang baru.
Allah menyakinkan kita akan kasih dan hasrat-Nya bagi kita. Ia berkomitmen untuk membawa kita masing-masing ke dalam keteraturan baru - sebuah tempat baru bersama-Nya - agar Ia dapat melakukan sebuah hal baru di dalam kita dan untuk kita. Tetapi untuk sampai ke sana, kita harus rela untuk melalui ketidakteraturan.
Pertanyaan Refleksi
Kapan terakhir kali Allah membawa anda ke dalam musim ketidakteraturan yang akhirnya menghasilkan keteraturan baru dengan wawasan dan pertumbuhan yang baru?
Doa
Tuhan, saya lebih mungkin mencoba menghindari rasa sakit dan konflik daripada masuk ke dalam mereka. Anugerahkan saya dengan kasih karunia dan kepercayaan yang saya butuhkan untuk menantikan Engkau, terutama dalam masa-masa sulit, kesedihan-kesedihan, dan stres dalam hubungan. Tolong saya untuk tetap berada bersama-Mu melalui ketidakteraturan saya agar saya dapat menerima hal-hal baru yang Engkau ingin lakukan di dalam dan melalui saya. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 3: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Kejadian 32:22-31
22 Pada malam itu Yakub bangun dan ia membawa kedua isterinya, kedua budaknya perempuan dan kesebelas anaknya, dan menyeberang di tempat penyeberangan sungai Yabok. 23 Sesudah ia menyeberangkan mereka, ia menyeberangkan juga segala miliknya. 24 Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing. 25 Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu. 26 Lalu kata orang itu: “Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing.” Sahut Yakub: “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.” 27 Bertanyalah orang itu kepadanya: “Siapakah namamu?” Sahutnya: ”Yakub.” 28 Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.” 29 Bertanyalah Yakub: “Katakanlah juga namamu.” Tetapi sahutnya: “Mengapa engkau menanyakan namaku?” Lalu diberkatinyalah Yakub di situ. 30 Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya: “Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!” 31 Lalu tampaklah kepadanya matahari terbit, ketika ia telah melewati Pniel; dan Yakub pincang karena pangkal pahanya.
Renungan
Ketika Yakub masih muda, ia menggunakan tipu daya dan kebohongan untuk mencuri hak kesulungan dan berkat yang seharusnya menjadi milik kakak laki-lakinya, Esau. Akibatnya, ia harus melarikan diri dari murka kakaknya. Setelah 25 tahun berlalu - bertahun-tahun dimana mereka tidak berhubungan - Yakub memulai perjalanannya kembali pulang. Ia akan menghadapi konflik secara langsung dan berdamai dengan Esau jika ia mampu. Allah berkata kepadanya, “Aku akan menyertai engkau” (Kejadian 31:3).
Di tengah-tengah ketidakpastian tentang apa yang mungkin terjadi, seorang pria (diyakini oleh beberapa orang sebagai wujud awal Kristus) bergulat dengan Yakub di malam hari dan mematahkan pangkal pahanya. Tidak lama setelah itu, Yakub dan Esau bertemu dan berdamai. Berikut adalah bagaimana penulis John Paul Lederach menggambarkan apa yang dapat kita pelajari dari saudara-saudara kuno ini tentang hadirat Allah dalam konflik kita:
Panggilan yang [Yakub] terima [adalah] untuk berbalik menuju semua yang ia takuti dan berjalan kembali ke saudaranya, tidak tahu apa yang akan terjadi. Dan janji Allah bukanlah bahwa semuanya akan baik-baik saja, atau bahwa semua akan ditangani dengan baik sebelum kedatangan Yakub. Janji-Nya sederhana, “Aku akan menyertai engkau”.…
Pada akhirnya, perdamaian adalah perjalanan menuju dan melalui konflik. Dalam contoh ini, Allah tidak berjanji untuk melakukan pekerjaan bagi Yakub. Allah tidak berjanji bahwa Ia akan mengatasi semuanya dan meratakan jalan bagi Yakub. Allah berjanji untuk menyertainya, untuk hadir.…
Kita akan menemukan bahwa Allah hadir di sepanjang perjalanan menuju perdamaian di kedalaman ketakutan, dalam keputusasaan kekelaman malam, dalam tangisan perhubungan.… Jalan melalui konflik menuju perdamaian dipenuhi perjumpaan dengan Allah, jika kita memiliki mata yang melihat, dan hati yang merasakan.… Konflik membuka jalan, jalan suci, menuju pengungkapan dan perdamaian.
Konflik memberikan kepada kita pengungkapan dan kemungkinan perdamaian, tetapi konflik juga dapat membuat kita pincang - jika kita mengizinkan Allah melakukan pekerjaan itu di dalam kita. Hal ini menjadi kesempatan yang dapat digunakan Allah untuk mematahkan kesombongan kita dan mengajar kita untuk lebih bergantung kepada Nya.
Pertanyaan Refleksi
Dalam cara-cara apakah janji Allah yang sederhana, “Aku akan menyertai engkau,” memberi anda keberanian untuk menghadapi ketakutan anda dan menuju perdamaian dengan seseorang yang sedang dalam konflik dengan anda?
Doa
Tuhan, saya rindu akan keberanian Yakub - untuk menghadapi daripada menjauh dari mereka yang sedang dalam konflik dengan saya. Ketidakpastian itu membuat saya takut. Tetapi saya juga percaya dan meminta janji bahwa Engkau akan menyertai saya. Saya meminta agar perjalanan perdamaian ini akan menjadi jalan pengungkapan - tempat dimana saya bertemu dengan Engkau dengan cara yang baru. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 4: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Matius 5:1-7
1 Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. 2 Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: 3 “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena mereka lah yang empunya Kerajaan Sorga. 4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. 5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. 6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. 7 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.”
Renungan
Dorothy Day (1897-1980) adalah salah satu pendiri Catholic Worker Movement (Gerakan Pekerja Katolik). Terkenal karena perwujudan Injil nya yang radikal melalui memberi makan kepada yang lapar dan rumah kepada tunawisma, ia juga terlibat dalam pasifisme radikal sebagai saksi untuk mengasihi semua orang. Kehidupan dan tulisan-tulisannya terus menjadi tanda bagi dunia akan belas kasih Allah dalam dunia yang kejam. Kisah ini memberi kita sekilas wawasannya yang mendalam tentang Yesus dan kerajaan-Nya:
Hari itu… hampir 35 tahun yang lalu pertama kali saya bertemu Dorothy Day. Ia sedang duduk di meja, berbicara dengan seorang wanita yang, saya segera sadari, cukup mabuk, namun bertekad untuk melanjutkan percakapan.… Wanita itu… memiliki tanda lahir besar berwarna ungu- kemerahan di sepanjang sisi kanan dahinya. Ia terus menyentuhnya saat ia mengucapkan pernyataan seruan satu demi satu, tidak ada sedikitpun reaksi yang muncul dari orang yang duduk di seberangnya.
Saya menemukan diri saya semakin bingung dengan apa yang tampaknya merupakan pertukaran yang tidak berkesudahan dan pada dasarnya tidak masuk akal antara 2 wanita paruh baya. Kapan ini akan berakhir - ocehan alkoholik dan anggukan tanpa suara, terkadang disela oleh pertanyaan singkat, yang hanya, dengan menjengkelkan, menyemangati orang yang sudah terlalu banyak bicara daripada menghentikannya? Akhirnya keheningan melanda ruangan itu. Dorothy Day bertanya kepada wanita itu apakah ia keberatan jika di ganggu. Ia berdiri dan datang kepada saya. Ia berkata, “Apakah anda menunggu untuk berbicara dengan salah satu dari kami?”
Salah satu dari kami: dengan 3 kata itu ia telah memotong lapisan kepentingan diri sendiri, hak istimewa borjuis seumur hidup, dan menggores tulang kebanggaan yang keras: “Kesia-siaan belaka; segala sesuatu adalah sia-sia”. Dengan 3 kata tersebut, diucapkan dengan sangat pelan dan sopan, ia secara tidak langsung memberitahu saya apa itu Catholic Worker Movement dan seperti apa sifatnya sendiri.
Dorothy Day mengerti bahwa hubungan yang sejati dengan Yesus menghasilkan belas kasihan yang membuat kita lebih lembut terhadap orang lain, bukan akhlak yang membuat kita lebih keras dan lebih tinggi martabatnya.
Yesus membalikkan nilai-nilai dunia. Ia memberitahukan bahwa kera jaan-Nya, milik mereka yang “miskin dalam roh”, mereka yang di bawah, mereka yang merasa hancur, dan sepenuhnya bergantung kepada orang lain. Ia menjelaskan bahwa bukan orang yang selalu mementingkan diri sendiri atau orang yang berprestasi yang akan mewarisi Bumi, tetapi orang-orang yang tidak berdaya, berdukacita, lemah lembut, mereka yang dianggap gagal oleh dunia. Yang ditinggikan akan direndahkan, dan yang direndahkan akan ditinggikan.
Seiring kita bertumbuh dalam kasih karunia untuk melihat orang orang seperti yang Yesus lakukan, kita menemukan bahwa pertahanan pertahanan kita berkurang dan hati kita menjadi lebih lembut, terutama ketika kita berada dalam ketegangan atau konflik dengan orang-orang di sekitar kita.
Pertanyaan Refleksi
Yesus mengatakan, “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan” (Matius 9:13). Apakah satu cara nyata yang anda dapat gunakan untuk menunjukkan belas kasihan kepada seseorang hari ini?
Doa
DOA SANTO FURSEY (Abad ke-7, Irlandia)
Lengan Tuhan ada di pundakku,
sentuhan Roh Kudus atas kepalaku,
tanda salib Kristus di dahiku,
suara Roh Kudus di telingaku,
keharuman Roh Kudus di hidungku,
penglihatan penyertaan surga di mataku,
percakapan penyertaan surga di bibirku,
pekerjaan gereja Tuhan dengan tanganku,
pelayanan Tuhan dan sesamaku di kakiku,
rumah bagi Tuhan di hatiku,
dan kepada Allah, Bapa dari semua, seluruh keberadaan saya.
Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 5: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Yohanes 18:2-4, 10-11
2 Yudas, yang mengkhianati Yesus, tahu juga tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya. 3 Maka datanglah Yudas juga ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata. 4 Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dan berkata kepada mereka: “Siapakah yang kamu cari?”…
10 Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus. 11 Kata Yesus kepada Petrus: “Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?”
Renungan
Tidak sulit untuk berhubungan dengan amarah Petrus atas ketidakadilan penangkapan Yesus. Dalam amarahnya, ia menyerang dengan kekerasan fisik. Bayangkan keadaannya, darahnya, kekacauannya. Dan ia melakukannya untuk Yesus. Tetapi, ia juga gagal untuk mendengar kepada suara Yesus dan ditegur oleh-Nya. Ia berpikir bahwa ia membuktikan kasihnya, membela Yesus dengan tindakan kebenaran, tetapi dalam prosesnya, ia melanggar kenyataan kasih dimana Yesus hidup dan mati untuk hal ini. Ketika kita tidak memperhatikan apa yang Yesus lakukan dan katakan - ketika kita salah memahami apa yang dibutuhkan kasih - kehancuran dan kekacauan dalam hubungan pasti mengikuti.
Penulis Henri Nouwen menulis dengan jelas perjuangan yang banyak dari kita miliki dalam hal mengasihi orang lain. Ia menggambarkan 2 suara di batin kita. Salah satu suaranya terus mendorongnya untuk sukses dan berprestasi. Nouwen berkata bahwa suara inilah yang ia ikuti selama sebagian besar hidupnya. Mengikuti suara ini memimpinnya untuk mengajar di universitas-universitas bergengsi seperti Notre Dame, Harvard, dan Yale. Suara ini menekannya untuk menulis lebih banyak dari satu buku setiap tahun. Tetapi tuntutan-tuntutan yang berasal dari mengikuti suara ini terus menerus ditempatkan pada jadwal khotbah dan pelayanannya mengancam untuk mencekik kehidupan rohaninya. Ia berdoa dengan buruk dan hidup terpisah dari orang lain.
Suara yang lain di dalam batinnya adalah suara Allah. Suara ini menyakinkannya bahwa ia dikasihi tanpa syarat. Ia tidak memiliki apa-apa untuk dibuktikan. Suara ini memberitahunya bahwa tujuan pelayanan adalah untuk mengenal suara Tuhan, wajah-Nya, dan sentuhan-Nya pada setiap orang yang ia temui.
Hanya dalam 10 tahun terakhir hidupnya, Nouwen mengatakan, bahwa ia benar-benar mendengarkan suara yang kedua itu. Perubahan terjadi saat ia mengundurkan diri dari jabatan profesor di Harvard untuk menerima posisi sebagai pendeta di Komunitas L’Arche orang-orang cacat mental dekat Toronto, Ontario, Kanada. Dan dari orang-orang inilah ia belajar tentang kasih dan komunitas.
Dengan berbagai tuntutan-tuntutan dan tekanan terus menerus dalam hidup kita, mungkin sulit untuk memperhatikan suara Allah. Jika tidak, kita dengan mudah mengikuti cara Petrus dan menghunus pedang kita ketika orang-orang tampaknya mengancam apa yang kita kasihi atau bagaimana kita berpikir segala hal harus terjadi. Di sisi lain, Yesus memberikan kita contoh lain - kasih yang ditunjukkan melalui penyerahan kepada Bapa dan kerendahan hati dalam hubungan-hubungan kita.
Pertanyaan Refleksi
Dalam keadaan apa, dan dengan siapa, anda tergoda untuk “memutuskan telinga seseorang”, untuk membela diri anda, atau sesuatu yang anda kasihi, dengan bertindak dalam cara-cara yang tidak benar-benar mengasihi?
Doa
Bapa, saya dapat berhubungan dengan Petrus lebih dari yang ingin saya akui. Ampunilah saya atas ketidaksabaran dan kemauan diri saya untuk selalu menguasai diri sendiri dan orang lain. Saya seringkali gagal mengenali suara-Mu dalam orang-orang yang saya temui. Bebaskan saya dari kekuatan di luar dan di dalam yang menghalangi saya dari mendengarkan suara kasih-Mu dan dari mengasihi orang orang di sekitar saya. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 2: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Yohanes 21:18-19
18 “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” 19 Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: “Ikutlah Aku.”
Renungan
Yesus memiliki pandangan berbeda tentang kedewasaan rohani: yaitu adalah kemampuan dan kerelaan untuk dibawa ke tempat yang tidak anda kehendaki. Kedewasaan rohani adalah menyadari bahwa adalah bodoh untuk mencoba untuk tetap mengendalikan hidup. Sebaliknya, Ia menawarkan kepada Petrus, dan kepada kita, kebenaran bahwa mengikuti-Nya terkadang membutuhkan dituntun ke tempat-tempat yang tidak diketahui dan sulit, beberapa diantaranya melibatkan konflik-konflik dengan orang lain.
Penulis David Benner mengatakannya dengan baik: Jalan kenaikan adalah jalan pengendalian, keinginan, penggenggaman, dan pencengkraman. Jalan penurunan adalah jalan penyerahan, kerelaan, dan pelepasan. Tidak ada yang gagal kita berikan yang akan benar-benar menjadi milik kita. Hanya yang telah mati yang dapat dibangkitkan dari kematian. Kerohanian Kristen adalah jalan penurunan, bukan kenaikan.… Daripada kerohanian perbaikan diri… Kerohanian Kristen adalah kerohanian mengikuti Yesus dalam perjalanan kematian terhadap manusia palsu kita sehingga kita dapat menemukan identitas kita yang sejati dan lebih besar di dalam Kristus.…
Kehidupan memberi kita aliran kesempatan-kesempatan yang tetap untuk mempraktikkan memilih penyerahan. Peristiwa-peristiwa yang tidak akan pernah kita pilih memasuki hidup kita secara teratur - terkadang sebagai gangguan-gangguan kecil terhadap rencana kita untuk hari itu, dan di lain waktu sebagai krisis-krisis yang merubah hidup kita selamanya. Terlepas dari besarnya, peristiwa-peristiwa ini berfungsi sebagai pengingat bahwa, terlepas dari upaya-upaya dan keinginan-keinginan kita, kita tidak memegang kendali.
Tetapi, kabar baiknya adalah bahwa kita menemukan cara penurunan Yesus menyerah dan melepaskan, kita juga menemukan kekayaan dan keindahan dalam hidup yang Allah maksudkan.
Pertanyaan Refleksi
Dalam hari-hari terakhir ini, “gangguan-gangguan kecil” apakah yang telah datang ke dalam hidup anda yang memberikan kesempatan untuk mempraktikkan memilih penyerahan?
Doa
Abba, Bapa, Engkau baik, dan kasih-Mu kekal selama-lamanya. Saya membuka tangan saya untuk berserah kepada-Mu. Ungkapkanlah keterikatan-keterikatan yang tidak sehat di dalam saya dan tolong saya untuk mempercayai Engkau dalam segala hal. Tolong saya untuk melepaskan ilusi bahwa saya membutuhkan kendali, penerimaan, atau keamanan duniawi untuk bersukacita. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 3: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Matius 5:43-48
43 “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. 44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. 45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. 46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? 47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? 48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”
Renungan
Mari kita jujur. Adalah sulit, jika tidak mustahil, untuk mengasihi tanpa syarat, terutama kepada musuh-musuh kita. Itulah sebabnya kita harus berdoa. Sebuah mukjizat diperlukan untuk hal ini terjadi, tetapi Allah ahli membuat mukjizat. Bukan kebetulan bahwa Yesus memulai Khotbah-Nya di Bukit (Matius 5-7) dengan, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” (Matius 5:3a). Hanya mereka yang tahu bahwa mereka benar benar tidak berdaya tanpa pertolongan ilahi dari Allah yang dapat mengasihi dengan cara ini.
Margaret Guenther, seorang penulis terkenal tentang kehidupan rohani, memberikan penerapan ini untuk mengasihi musuh-musuh kita: Standar pengampunan [Yesus] bersifat radikal, menakjubkan, dan tampaknya mustahil. Saya tidak yakin saya siap untuk tantangan tersebut. Tetapi setidaknya saya bisa mencoba.
Sementara itu, adalah ide yang baik untuk memikirkan musuh musuh dari waktu ke waktu.… Siapakah yang mungkin melihat saya sebagai musuh? Untuk pertanyaan ini, saya biasanya menjawab, “Saya? Siapakah yang mungkin melihat saya, pekerja keras dan umumnya bermaksud baik, saya sebagai musuh?” Ini bisa menjadi latihan yang menyakitkan dalam pemeriksaan diri untuk merenungkan siapa yang mungkin telah kita sakiti, kecilkan, atau abaikan, dengan sengaja atau dengan tidak peduli. Dan kemudian untuk merenungkan apa yang akan saya lakukan tentangnya? Dan siapa musuh-musuh saya? Apa yang bisa saya pelajari dari mereka? Adil atau tidak adil, mereka yang ingin menyakiti kita dapat mengajar kita banyak hal tentang diri kita sendiri. Apakah saya merendahkan ketika saya berpikir bahwa saya ramah? Berbicara kasar dan menyakitkan ketika saya berpikir saya membantu mengarahkan? Berhati dingin ketika saya mengabaikan kebutuhan saudara laki-laki atau perempuan? Sombong ketika saya menganggap bahwa cara saya… adalah yang terbaik dan satu-satunya cara? Jika kita memperhatikan dan mau melihat diri kita sendiri dengan jujur, musuh kita bisa mengajari kita banyak hal.
Pertanyaannya, tentu saja, apakah kita benar-benar ingin mempelajari sebanyak itu? Apakah kita ingin belajar dari mereka yang telah kita sakiti? Jawabannya adalah baik ya dan tidak. Tetapi jika kita berdoa untuk mukjizat keberanian dan kerendahan hati untuk melakukannya, “kita dapat yakin bahwa musuh-musuh kita akan mengajar kita banyak hal”.
Pertanyaan Refleksi
Siapa seseorang yang anda duga telah anda “sakiti, kecilkan, atau abaikan, dengan sengaja atau dengan tidak peduli”? Apakah undangan Allah ketika anda memikirkan pertanyaan, “Apa yang akan saya lakukan mengenai itu?”
Doa
Tuhan, bergumul dengan pertanyaan tentang bagaimana saya mungkin telah menyakiti orang lain adalah sulit dan menyakitkan. Saya dapat dengan mudah menyebutkan bagaimana orang lain telah menyakiti saya dan memperlakukan saya dengan buruk. Tetapi untuk belajar dari mereka yang menganggap saya musuh? Itu jauh lebih sulit. Melalui Roh Kudus-Mu, anugerahkan saya dengan rahmat untuk melihat kekurangan-kekurangan dalam karakter saya dan untuk mengambil langkah-langkah apapun yang mungkin Engkau miliki untuk saya hari ini. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 4: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Lukas 18:9-14
9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”
Renungan
Salah satu ucapan favorit saya berasal dari sebuah kisah di buku The Desert Fathers (Bapa-Bapa Gurun) tentang seorang biarawan abad ke-4 bernama Yohanes sang Pendek. Seorang biarawan yang cemburu pernah mendekati Yohanes ketika ia sedang mengajar di depan gereja. [Biarawan itu] berkata, “Yohanes, cawan anda penuh dengan racun”. Yohanes menjawab, “Ya… benar. Tetapi anda mengatakan itu ketika anda hanya melihat bagian luarnya; saya ingin tahu apakah yang akan anda katakan jika anda melihat bagian dalamnya”.
Yohanes sang Pendek tidak bersifat membela diri dalam tanggapannya. Ia tidak menyerang biarawan itu atau melontarkan lelucon untuk mengalihkan pembicaraan dari dirinya sendiri. Ia dengan berani mengakui kerentanannya dan apa yang ia ketahui adalah benar tentang dirinya sendiri. Seperti Rasul Paulus, ia menegaskan, “Aku [adalah] orang yang paling berdosa” (1 Timotius 1:16). Yohanes sang Pendek tidak mundur ke dalam cangkang perlindungan diri dan berhenti melayani orang lain. Sebaliknya, ia tetap terbuka dan rentan terhadap orang yang mengkritiknya.
Jika keinginan kita adalah untuk memimpin dan melayani orang lain, kita harus memahami fakta yang jelas dan sulit ini: sejauh mana kita mengabaikan bagian-bagian diri kita yang berdosa dan buruk adalah sejauh mana kemampuan kita untuk mengasihi dan memimpin orang lain terbatas dan terganggu.
Pertanyaan Refleksi
Apakah jadinya jika anda menanggapi kritik dengan cara yang tidak membela diri dan rendah hati seperti yang Yohanes sang Pendek lakukan?
Doa
Bapa, ketika saya merasa diserang, yang saya ingin lakukan hanyalah untuk membela diri saya dan menyerang kembali. Saya meminta Engkau untuk memenuhi saya dengan kesadaran yang mendalam akan kasih-Mu hari ini. Dan untuk melakukan pekerjaan dalam diri saya untuk merubah pembelaan diri saya menjadi kerendahan hati, agar kelembutan dan kasih-Mu dapat mengalir melalui saya. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 5: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Efesus 4:30-32
30 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. 31 Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. 32 Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.
Renungan
Kita ingin mematuhi perintah-perintah Firman untuk menghilangkan semua kepahitan dan saling memaafkan satu sama lain. Pertanyaan adalah, bagaimana?
Beberapa tahun yang lalu, William Meninger, seorang biarawan Trapis yang mengabdikan hidupnya untuk berdoa selama lebih dari 50 tahun, mengunjungi gereja kami di New York City untuk mengajari kami beberapa dari apa yang ia pelajari. Salah satu hal yang ia bagikan adalah “Compassion Meditation Prayer (Doa Meditasi Belas Kasihan)”, yang tujuannya adalah untuk membantu kita mengampuni dan melepaskan kepahitan.
Versi doa tersebut yang diadaptasi dan dipersingkat tertera di bawah. Doa ini dimaksudkan untuk didoakan untuk seseorang yang mungkin anda anggap sebagai musuh atau seseorang yang sedang dalam konflik dengan anda. Bahkan mungkin seseorang dari masa lalu anda, hidup atau sudah meninggal, yang untuk mereka pengampunan masih mungkin dan terlambat.
Kiranya anda bahagia, kiranya anda bebas. Kiranya anda mengasihi, kiranya anda dikasihi. Kiranya anda mengetahui penggenapan dari apa yang telah Tuhan rencanakan bagi Anda. Kiranya Anda mengalami kasih Allah yang besar dan mendalam bagi Anda. Kiranya Yesus Kristus terbentuk di dalam anda. Kiranya anda mengetahui damai sejahtera-Nya yang melampaui segala akal. Kiranya semua hal baik menjadi milik anda. Kiranya sukacita Yesus ada di dalam anda dan kiranya sukacita itu lengkap. Kiranya anda mengenal Tuhan dalam segala kebaikan dan belas kasihan-Nya. Kiranya anda dilindungi dari si jahat di tengah setiap godaan yang datang kepada Anda. Kiranya Roh Kudus memenuhi dan meresap dalam keseluruhan diri Anda. Kiranya Anda melihat kemuliaan-Nya. Kiranya anda diampuni dari segala dosa. Saya mengampuni anda (atau "akan mencoba mengampuni anda") dari setiap luka dan rasa sakit dengan sepenuh hati saya. Kiranya kebaikan dan belas kasihan Tuhan mengikuti Anda sepanjang hari-hari hidup Anda.
Mendoakan ini untuk seseorang yang telah melukai kita bukanlah hal kecil, tetapi adalah langkah kemajuan yang besar. Izinkan saya mengundang anda untuk mendoakan ini berulang kali, bahkan jika anda tidak merasakannya. Anda dapat mempercayai bahwa Allah akan menyembuhkan luka-luka anda seiring berjalannya waktu dan melakukan pekerjaan di dalam anda, melalui Roh Kudus, yang tidak dapat anda lakukan dalam diri anda sendiri.
Pertanyaan Refleksi
Saat anda memikirkan orang yang telah menyakiti anda, kata-kata atau frasa-frasa apakah dari Doa Belas Kasihan yang paling berbicara kepada anda?
Doa
Yesus, terima kasih karena telah mengasihi saya dengan jenis belas kasihan yang diungkapkan dalam doa ini. Saya rindu untuk menjadi orang yang tulus mendengarkan dan berdoa seperti ini - terutama bagi mereka yang menyakiti saya. Tetapi saya jauh dari itu sekarang. Saya meminta agar Engkau melakukan pekerjaan mendalam di diri saya agar saya dapat benar-benar mengasihi seperti Engkau. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Minggu 8
Mengembangkan “Aturan Hidup” untuk Menerapkan Kemampuan Sehat secara Emosi
Yesus dengan tegas mengajarkan bahwa kunci untuk menjadi murid-Nya adalah untuk tidak hanya mendengar kan kata-kata-Nya tetapi juga mempraktikkannya (Matius 7:24-27). Hal ini tidak lebih penting daripada menerapkan 2 perintah utama yaitu mengasihi Allah dan mengasihi sesama kita. Hal ini bukanlah sesuatu yang bisa kita tinggalkan secara kebetulan. Kita membutuhkan rencana yang telah dipertimbangkan dan direncanakan secara sengaja.
Aturan Hidup bukanlah aturan dalam arti yang sama dengan kata yang biasanya digunakan saat ini. Akar kata tersebut menelusuri kembali ke kata Yunani kuno untuk trellis. Kata ini mengacu kepada struktur, seperti yang dirancang untuk membantu tanaman anggur tumbuh ke atas, menjadi lebih berbuah dan produktif. Aturan Hidup memiliki fungsi dan tujuan yang sama. Hal ini adalah struktur pendukung yang membantu kita untuk bertumbuh dalam Kristus. Hal ini adalah rencana disengaja yang berpusat di sekitar praktik rohani yang memungkinkan kita untuk memperhatikan Allah dan menjaga-Nya di pusat semua hubungan kita.
Hari 1: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: 1 Yohanes 4:19-21
19 Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. 20 Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. 21 Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.
Renungan
Beberapa kebenaran dalam Alkitab memaksa kita untuk melihat lebih sungguh dan lebih dalam ke hati kita seperti yang dikatakan di bagian Firman dari 1 Yohanes: Tidak mungkin mengasihi Allah tanpa mengasihi satu sama lain. Dalam novelnya, The Brothers Karamazov (Karamazov Bersaudara), Fyodor Dostoevsky menggambarkan pentingnya membuat pilihan yang sulit dan disengaja jika kita ingin mematuhi perintah ini.
Ia menceritakan kisah tentang seorang wanita kaya yang bertanya kepada seorang biarawan tua bagaimana ia dapat mengetahui jika Allah itu ada. Biarawan itu mengatakan kepadanya bahwa tidak ada penjelasan atau argumen yang dapat mencapai ini, hanya mempraktikkan “kasih aktif”. Biarawan itu berbicara dengan penuh semangat tentang kasih kepada Allah, yang datang sebagai hasil dari kasih kepada orang lain.
Wanita kaya itu kemudian mengaku bahwa ia terkadang bermimpi tentang kehidupan pelayanan yang penuh kasih kepada orang lain. Pada saat seperti itu, ia berpikir mungkin ia akan menjadi Suster Belas Kasih, hidup dalam kemiskinan suci, dan melayani orang miskin dengan cara yang paling rendah hati. Tetapi kemudian terlintas di pikirannya betapa tidak tahu berterima kasihnya beberapa orang yang akan ia layani. Mereka mungkin akan mengeluh bahwa sup yang disajikannya tidak cukup panas atau rotinya tidak cukup segar atau tempat tidurnya terlalu keras. Ia mengakui bahwa ia tidak tahan dengan rasa tidak berterima kasih seperti itu - dan mimpinya tentang melayani orang lain lenyap, dan sekali lagi ia menemukan dirinya bertanya-tanya apakah Allah benar-benar ada. Tentang hal ini, biarawan yang bijak itu menjawab, “Kasih dalam praktiknya adalah sesuatu yang kejam dan mengerikan dibandingkan dengan kasih dalam mimpi”.
Mengasihi dengan baik adalah tujuan dari kehidupan Kristen. Dan seperti yang diketahui oleh biarawan bijak itu, hal ini lebih mudah dalam mimpi kita daripada praktiknya. Hal ini dibutuhkan bahwa kita bertumbuh menjadi orang yang dewasa secara rohani dan emosi dalam Kristus, upah dari hal ini berlimpah di luar perkiraan.
Pertanyaan Refleksi
Secara singkat renungkan hubungan-hubungan anda dengan beberapa orang-orang yang secara rutin berinteraksi dengan anda. Apa “hal-hal yang kejam dan mengerikan” yang mungkin dibutuhkan kasih dari anda dalam hubungan-hubungan ini?
Doa
Tuhan, saya dapat berhubungan dengan perspektif wanita yang kaya itu lebih dari yang saya ingin akui. Anugerahkan saya dengan rahmat kesabaran untuk bertekun dalam mengasihi sesama, bahkan ketika membutuhkan “hal-hal kejam dan mengerikan” dari saya. Kiranya kasih-Mu memenuhi saya agar mempraktikkan mengasihi menjadi tanggapan yang naluri dan alami. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 1: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Bilangan 20:7-12
7 Tuhan berfirman kepada Musa: 8 “Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya.” 9 Lalu Musa mengambil tongkat itu dari hadapan Tuhan, seperti yang diperintahkan-Nya kepadanya. 10 Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: “Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?” 11 Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum. 12 Tetapi Tuhan berfirman kepada Musa dan Harun: “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.”
Renungan
Musa bekerja dan menanti selama hampir 40 tahun untuk memasuki Tanah Perjanjian. Dimulai dengan 603,550 pria - tidak termasuk semua wanita dan anak-anak - kesabarannya berulang kali diuji hingga batasnya oleh rangkaian keluhan-keluhan dan perselisihan-perselisihan yang tampaknya tidak berkesudahan. Ketika orang-orang mengeluh karena kekurangan makanan dan air dan menuduh Musa membawa mereka ke padang gurun untuk mati, Musa sangat marah. Pada saat itu, ia juga kelelahan dan hanya memiliki sedikit kemampuan untuk mengendalikan amarah dan kebenciannya. Jadi ia mengamuk dan menegur orang-orang, menyebut mereka “pemberontak - pemberontak”. Daripada menghormati dan menaati Allah, ia mengandalkan strategi lama untuk memukul batu karena, hei, mengapa tidak, hal itu berhasil sebelumnya (Keluaran 17:6).
Dalam kekecewaannya terhadap orang banyak, Musa dengan sengaja mengabaikan perintah Allah untuk berbicara kepada batu itu dan malah memukulnya 2 kali. Seorang pelajar Alkitab menyarankan bahwa, dengan memukul batu, Musa sebenarnya menyerang Allah:
Ada unsur penistaan dalam memukul batu itu, karena batu tersebut melambangkan Allah. Allah seringkali disamakan dengan batu (misalnya di Mazmur 18:2; 31:3; 42:9). Rasul Paulus, [ketika menulis tentang tahun-tahun padang gurun], mengatakan, ‘Mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus’ (1 Korintus 10:4).
Pertanyaan Refleksi
Musa melakukan tindakan pemberontakan ketika ia mengabaikan perintah-perintah Allah. Ia tetap melakukan pekerjaan Allah, tetapi dari tempat kekecewaan dan dengan caranya sendiri. Dalam cara-cara apa, jika ada, anda mengenali pola ini dalam hidup anda sendiri?
Doa
Bapa, terkadang ketika hal-hal tidak berjalan sesuai rencana saya, saya menanggapinya seperti Musa dengan melampiaskan kekecewaan-kekecewaan saya kepada orang lain atau mengambil tindakan sendiri. Tolong saya untuk memperlambat tempo dan berpaling kepada Engkau. Penuhilah saya dengan Roh Kudus sehingga dalam saat-saat sulit, saya tetap bisa melakukan kehendak-Mu dan memperlakukan sesama dengan kelembutan, kesabaran, dan kebaikan. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 2: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Matius 26:26-28
26 Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: “Ambillah, makanlah, inilah tubuh Ku.” 27 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. 28 Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.”
Renungan
Pada saat perjamuan terakhir dengan murid-murid-Nya, Yesus memecahkan roti sebagai simbol dari bagaimana Ia menyamakan diri-Nya dengan roti, mengorbankan hidup-Nya untuk kasih. Henri Nouwen meringkas proses bagaimana kita juga dapat mengasihi - dan menjadi roti bagi dunia - dengan menguraikan 4 hal yang Yesus lakukan ketika Ia memecahkan roti. Roti itu diambil, diberkati, dipecahkan, dan diberikan:
Saya harus memberitahu anda bahwa 4 kata-kata ini telah menjadi kata-kata yang paling penting dalam hidup saya.… Langkah pertama dalam kehidupan rohani adalah untuk mengakui dengan seluruh diri kita bahwa kita telah diambil, atau dipilih.… Ketika saya menulis itu kepada anda, maksud saya adalah bahwa kita telah dipandang oleh Allah dari segala kekekalan dan dilihat sebagai makhluk-makhluk yang unik, istimewa, dan berharga.…
[Kemudian], sebagai anak-anak Allah yang terkasih, kita diberkati. Bagi saya secara pribadi, berdoa semakin menjadi cara untuk mendengarkan berkat.…
Dipecahkan. Cara saya dipecahkan memberitahu anda sesuatu tentang diri saya. Cara anda dipecahkan memberitahu saya sesuatu tentang diri anda. Seberapa banyak kita pecah sama uniknya dengan seberapa banyak kita dipilih dan seberapa banyak kita diberkati.…
Kita dipilih, diberkati, dan dipecahkan untuk diberikan. Dalam tahap pemberian, alasan mengapa kita dipilih, diberkati, dan dipecahkan menjadi jelas, tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri, tetapi agar semua yang kita hidupi menemukan makna terakhirnya dalam penghidupan untuk orang lain.
Yesus mengambil, memberkati, memecahkan, dan memberikan roti ke hidupan-Nya kepada murid-murid-Nya, dan kepada dunia. Dalam cara yang sama, Ia mengundang kita untuk menjadi roti agar kita juga dapat mengasihi orang-orang di sekitar kita.
Pertanyaan Refleksi
Bagaimanakah anda menanggapi kebenaran bahwa kehidupan anda di ambil, diberkati, dipecahkan, dan diberikan? Kata manakah dari kata-kata tersebut paling berbicara kepada anda hari ini?
Doa
Bapa, saya tidak keberatan untuk diberkati, tetapi tidak selalu mudah untuk mengizinkan diri saya untuk diambil, dipecahkan, dan diberikan. Tetapi saya ingin bertumbuh dalam kasih, dan saya mempersembahkan diri saya kepada Engkau agar saya dapat diberikan, oleh Engkau, sebagai karunia bagi orang lain hari ini. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan tenang (2 menit)
Hari 3: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Kolose 3:22-25
22 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. 23 Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. 24 Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya. 25 Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang.
Renungan
Sepanjang sejarah, panggilan seseorang seringkali diartikan secara sempit sebagai pekerjaan (karir), status kehidupan (lajang atau menikah), atau sebagai duniawi atau rohani (orang awam atau pendeta ahli Kristen). Sebagai akibat, kita seringkali berpikir: “Apapun panggilan saya, saya pikir saya telah melewatkannya”. Atau, “Saya tidak terlatih. Saya hanya orang biasa”. Atau, “Saya hanya bekerja, menunggu panggilan sejati saya mengungkapkan dirinya sendiri”.
Tetapi, Firman mengajar bahwa setiap orang Kristen dipanggil Allah saat bertobat. Dan bahwa panggilan meliputi seluruh hidup kita. Memulihkan kebenaran ini mengembangkan cara kita memahami peran kita - dalam tempat kerja dan dalam dunia - sebagai pria dan wanita yang dikirim oleh Yesus untuk mewujudkan kasih-Nya.
Dalam Kerajaan Romawi, budak-budak dianggap sebagai properti dan menempati tempat terendah dalam susunan masyarakat - yang berarti tugas-tugas terburuk dan paling merendahkan jatuh ke tangan mereka. Namun, Rasul Paulus menawarkan sebuah perspektif baru yang revolusioner kepada status dan peranan mereka . Ia mengingatkan mereka bahwa Kristuslah yang mereka layani, tidak peduli betapa rendahnya tugas itu. Maka mereka ditugaskan oleh Allah untuk menjadi teladan kasih Yesus dalam pekerjaan sehari-hari mereka.
Prinsip yang sama berlaku kepada kita. Kristuslah yang kita layani. Dan kita semua memiliki kemampuan untuk secara kreatif dan proaktif membangun hubungan dan komunitas yang sehat secara emosi dalam nama-Nya - sebagai guru-guru, petugas-petugas kebersihan, petugas petugas kesehatan, pengacara-pengacara, tenaga-tenaga penjualan, manajer-manajer, sukarelawan-sukarelawan, juru-juru masak, pemilik pemilik usaha kecil, aktor-aktor, siswa-siswi, dan administrator administrator. Dimanapun kita bekerja, terlepas dari siapa yang memberi gaji kita (atau bahkan jika kita menerima gaji), kita adalah pengikut Kristus yang pertama, dipanggil untuk bergabung dengan-Nya dalam memulihkan dunia seperti yang semula Allah kehendaki.
Pertanyaan Refleksi
Apakah satu cara kecil yang dapat anda lakukan hari ini untuk melayani Kristus dengan mengasihi mereka di sekitar anda?
Doa
Tuhan, tolong saya untuk mempercayai bahwa Engkau telah memilih saya dan mengirim saya kepada dunia. Saya membutuhkan keberanian untuk secara proaktif dan terus menerus mencontoh kasih Yesus dalam hubungan-hubungan saya. Anugerahkan saya dengan kesempatan-kesempatan untuk mewujudkan dan mencerminkan kasih-Mu kepada semua orang yang saya temui hari ini. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 4: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: 1 Yohanes 4:7-8, 16b, 19-20
7 Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. 8 Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.…
16b Barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.…
19 Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. 20 Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.
Renungan
Dalam buku klasiknya, Spiritual Friendship (Persahabatan Rohani), biarawan Sistersien, Aelred dari Rievaulx, dari abad ke-12 menulis bahwa persahabatan, terutama antara orang-orang percaya, adalah jalan langsung menuju Allah, bukan pengalihan darinya. Mengutip sebagian dari Firman di 1 Yohanes, ia menulis, “Allah adalah persahabatan, dan barangsiapa tinggal dalam persahabatan tinggal dalam Allah.” Wawasan berpengaruh Aelred tentang kasih Allah telah dipelajari oleh ahli-ahli agama selama berabad-abad. Mengapa? Karena ketika ia mengganti kata kasih dengan persahabatan, ia menyoroti aspek unik dari kasih Yesus - khususnya, ketika Ia menyebut kita sebagai sahabat (Yohanes 15:14).
Saat kita bergerak menuju orang-orang untuk memberikan kasih Yesus, kita juga memberikan kepada mereka persahabatan rohani sejati yang berbeda dari persahabatan duniawi. Ini adalah persahabatan yang mencerminkan persahabatan Yesus kepada kita. Berikut adalah bagaimana Aelred menggambarkan bagaimana rasanya untuk mengasihi sebagai sahabat rohani sejati:
Tetapi betapa bahagianya, betapa amannya, betapa sukacitanya memiliki seseorang yang dengannya anda berani berbicara tentang kesetaraan dengan orang lain; seseorang yang dengannya anda tidak perlu takut untuk mengakui kegagalan-kegagalan anda; seseorang yang dengannya anda dapat tanpa malu mengungkapkan kemajuan apa yang telah anda capai dalam kehidupan rohani; seseorang yang kepadanya anda dapat mempercayakan semua rahasia-rahasia hati anda dan kepadanya anda dapat menempatkan semua rencana rencana anda!
Dengan kata lain, ketika kasih Allah hadir dalam persahabatan, kita berhenti memperlakukan orang-orang sebagai cara untuk mencapai tujuan.
Kita mengesampingkan segala keinginan untuk “mendapat sesuatu”. Kita menegaskan dan menghargai keunikan mereka. Dan kita mengakui kerusakan dan kelemahan kita bersama. Dalam dunia media sosial dimana begitu banyak waktu dihabiskan untuk mengelola “merek pribadi” seseorang dan terus menerus tampak bahagia, jenis persahabatan ini adalah karunia yang langka.
Pertanyaan Refleksi
Bagaimanakah anda bisa menjadi sahabat rohani sejati kepada seseorang dalam hidup anda minggu ini?
Doa
Yesus, terima kasih telah memanggil saya sahabat. Hampir terlalu banyak untuk diterima! Ajarlah saya untuk menjadi sahabat sejati - kepada-Mu dan kepada sesama. Anugerahkan saya dengan keinginan dan kekuatan untuk mendengarkan dengan seluruh hati saya, melepaskan agenda saya sendiri, dan menghargai keunikan setiap orang yang saya temui hari ini. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 5: Pagi/Siang
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Mazmur 139:13-16
13 Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. 14 Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kau buat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. 15 Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; 16 mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya.
Renungan
Allah menciptakan kita menurut gambar-Nya, merajut kita dalam rahim ibu kita dengan sangat hati-hati, dan memilih kita untuk tujuan yang spesial di Bumi. Yesus menempatkan kita di jalan menuju tujuan ini dengan ringkasan Firman ini: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu… [Dan] kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:37 40).
Saat anda mencapai akhir renungan ini, pikirkanlah dengan penuh doa cara-cara tertentu yang Allah gunakan untuk mengundang anda untuk mengasihi sesama dengan baik. Pikirkanlah kata-kata bijak ini dari istri saya, Geri, tentang pentingnya memahami rencana-rencana Allah yang spesifik bagi kita masing-masing. Salah satu cara kita memahami kehidupan kita yang khas adalah dari perspektif menemukan “perintah-perintah tersembunyi” dari Allah. Perintah-perintah tersembunyi, dalam sejarah, mengacu kepada perintah-perintah tertulis tertentu yang diberikan, sebagai contoh,
kepada kapten kapal mengenai tujuan atau misinya. Mereka tidak boleh dibuka sampai pada waktu atau tempat yang tertentu. Seolah olah Allah telah memberi kita masing-masing perintah-perintah tersembunyi untuk hidup kita.… Penulis Sheila Linn dengan sederhana dan mendalam menggambarkan proses ini: “Ketika saya berhubungan dengan tujuan spesial dalam hidup saya dalam melaksanakan perintah-perintah tersembunyi, saya memiliki perasaan penghiburan atau kebenaran yang mendalam dan seluruh tubuh saya tenang. Saya mempercayai rasa kebenaran mengungkapkan dirinya secara fisiologi karena tujuan hidup kita dibangun ke dalam sel-sel tubuh kita.
“Perintah-perintah tersembunyi” ini, tujuan spesial yang Allah miliki untuk kita masing-masing, melibatkan memberi perhatian kepada-Nya (bahkan melalui tubuh kita) dan memberi perhatian kepada Roh Kudus di dalam kita. Kasih kita kepada sesama berakar dan berdasar dalam keramahan Allah kepada kita dalam Kristus. Kenyataan ini memberi kita keberanian untuk mengambil risiko dalam iman untuk menunjukkan ke baikan kepada orang lain, baik kepada mereka yang secara rutin dipinggirkan oleh masyarakat (pengungsi, orang miskin, orang cacat, orang asing) atau mereka yang dekat dengan kita yang merasa tidak dikasihi, terluka, atau tertolak. Kebutuhan-kebutuhan di sekitar kita sangat besar. Tetapi kita bisa bersyukur bahwa Allah berkuasa atas dunia. Kita hanya perlu memahami perintah-perintah tersembunyi kita.
Pertanyaan Refleksi
Berbicaralah kepada Allah tentang kerelaan anda - atau ketidakrelaan - untuk mematuhi perintah-perintah tersembunyi milik-Nya, kemanapun mereka memimpin anda. Sukacita-sukacita atau ketakutan-ketakutan apakah yang anda sadari?
Doa
Tuhan, saya ingin menemukan “perintah-perintah tersembunyi” yang Engkau miliki bagi saya, tujuan unik yang Engkau miliki untuk saya - hari ini dan setiap hari. Saya di dalam tangan-Mu, Tuhan. Saya mengasihi-Mu. Tolong saya untuk mempercayai-Mu saat saya memberikan hidup saya sebagai hadiah bagi orang lain - hari ini, besok, dan sepanjang hidup saya. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 2: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Markus 7:1-2, 14-15, 20-23
1 Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. 2 Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh.…
14 Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka: “Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah. 15 Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.”
20 Kata-Nya lagi: “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, 21 sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, 22 perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesom bongan, kebebalan. 23 Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”
Renungan
Para pemimpin-pemimpin agama dalam masa Yesus sangat memperhatikan tanda-tanda kekudusan eksternal, seperti mematuhi aturan aturan ketat tentang segala sesuatu dari memakan makanan dengan tangan yang telah dicuci dengan benar hingga pemeliharaan Sabat yang benar. Sebaliknya, Yesus sangat memperhatikan tanda-tanda kekudusan internal, khususnya hati manusia. Ia mengetahui bahwa perkataan “saya akan menjadi baik” tidaklah cukup. Setiap dari kita membutuhkan campur tangan langsung dari Allah untuk memberikan kita hati yang baru, sifat yang baru, dan Roh yang baru. Tetapi pertobatan bukanlah peristiwa rohani yang hanya terjadi satu kali. Allah ingin agar setiap hari menjadi awal yang baru di mana kita dengan rendah hati mengundang nafas Roh Kudus untuk membentuk kita lebih dalam menjadi orang-orang yang mengasihi-Nya dan orang lain seperti yang Ia lakukan.
C.S. Lewis menangkap kebutuhan akan perubahan berkelanjutan ini dalam kisahnya tentang Eustace, seorang anak laki-laki, yang menjadi naga besar dan jelek sebagai akibat bersikap egois, keras kepala, dan tidak percaya. Setelah memenuhi keinginan diri naganya sepenuhnya, ia merasa sakit dan tidak ingin apa-apa selain kembali menjadi anak kecil lagi. Tetapi ia tidak dapat melakukannya sendiri.
Akhirnya, singa besar Aslan (melambangkan Yesus) muncul di hadapannya dan membawanya ke sumur yang indah untuk mandi. Tetapi karena ia adalah naga, ia tidak mampu memasuki sumur tersebut. Kemudian Aslan menyuruhnya untuk menelanjangkan dirinya, Eustace mengelupas sendiri sebuah lapisan kulit naga, menjatuhkannya ke tanah. Ia merasa lebih baik, tetapi saat ia mendekat ke kolam tersebut, ia menyadari bahwa masih ada lapisan yang keras, kasar, dan bersisik ada padanya. Kecewa, merasa sakit, dan berkeinginan untuk memasuki pemandian yang indah itu, ia bertanya kepada dirinya sendiri, “Berapa banyak lapisan-lapisan kulit yang harus aku tanggalkan?”
Setelah 3 lapisan, Eustace putus asa dan menyerah. Aslan kemudian berkata, “Kamu harus mengizinkan aku menelanjangimu”. Inilah bagaimana Eustace kemudian menggambarkan kepada teman temannya apa yang terjadi selanjutnya:
Saya dapat mengatakan, saya takut dengan cakarnya, tetapi saya hampir putus asa sekarang. Jadi saya hanya berbaring dan membiarkan ia melakukannya. Robekan pertama yang ia buat begitu dalam sehingga saya berpikir robekan tersebut langsung masuk ke dalam hati saya. Dan ketika ia mulai menarik lapisan kulit itu, rasanya lebih sakit dari semua yang saya pernah rasakan.… Yah, ia mengupas hal-hal mengerikan tersebut - sama seperti yang saya pikir telah saya lakukan sendiri 3 kali, hanya saja mereka tidak sakit - dan berada di sana tergeletak di rumput: hanya terlihat jauh lebih tebal, dan gelap, dan lebih bertonjol daripada lapisan-lapisan sebelumnya. Dan saya menjadi lebih halus dan lembut setelah dikupas dan saya menjadi lebih kecil dari sebelumnya. Lalu ia menangkap saya… dan melemparkan saya ke dalam air. Ini terasa sakit, tetapi hanya sementara. Setelah itu menjadi sangat nyaman dan saat saya mulai berenang dan bermain air, saya menemukan bahwa semua rasa sakit telah hilang dari lengan saya. Dan kemudian saya melihat mengapa. Saya berubah menjadi anak laki-laki lagi.…Setelah beberapa saat, singa itu membawa saya keluar dan mengenakan saya [dengan cakarnya]... dengan pakaian baru.
Upaya diri sendiri yang keras tidak dapat membawa kita begitu jauh dalam proses perubahan. Kita masing-masing membawa kecacatan kecacatan karakter mendalam yang akan diubah hanya ketika kita berserah kepada operasi ilahi Allah.
Pertanyaan Refleksi
Pola tidak sehat atau “kulit naga” apakah yang anda paling ingin agar Allah membebaskan anda darinya pada saat ini?
Doa
Tuhan, ada pola-pola hubungan yang tidak sehat dan kecacatan kecacatan karakter tersembunyi di dalam saya. Saya tahu bahwa saya tidak dapat merubah diri saya sendiri; ini adalah pekerjaan-Mu. Tetapi saya tahu bahwa saya harus menginginkannya dan untuk menyerahkan diri saya kepadanya. Saya membuka pintu hati saya kepada Mu, mengundang Engkau untuk menanggalkan segala hal yang menghalangi saya dari menjadi orang yang lembut, mudah didekati, dan penuh kasih. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan tenang, berdiam (2 menit)
Hari 3: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Ratapan 3:21-26
21 Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: 22 Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat Nya, 23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! 24 “Tuhan adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. 25 Tuhan adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. 26 Adalah baik menanti dengan diam pertolongan Tuhan.
Renungan
Kunci untuk mengasihi orang lain, terutama dalam saat-saat sulit, membutuhkan pengungkapan mendalam dan pengalaman akan kasih Allah dalam kehidupan kita sendiri. Yeremia, penulis kitab Ratapan, mengetahui hal ini; jadi kita juga harus mengetahuinya. Salah satu penulis yang paling berdampak dalam sejarah gereja untuk menjelaskan kasih Allah ini adalah seorang wanita yang kurang dikenal bernama Julian.
Julian dari Norwich (1342-1416) tinggal di Inggris selama masa kehebohan politik, sosial, dan ekonomi yang sangat besar. Ia melihat awal dari Perang Seratus Tahun antara Inggris dan prancis. Ia bertahan hidup melalui wabah pes, yang menewaskan lebih dari sepertiga dari penduduk Eropa. Dan ia melihat sebuah gereja terpecah dan ternodai secara moral oleh penguasa-penguasa pemerintahan. Julian memilih untuk hidup sebagai pembawa berita, menarik diri dari masyarakat untuk tinggal di sebuah ruangan kecil yang bersebelahan dengan sebuah gereja di jantung kota Norwich. Begitu ia memasuki sel nya, ia tidak pernah kembali ke dunia luar. Walaupun keadaan fisik tempat tinggalnya sangat sempit, keadaan batin jiwanya luas dan dipenuhi dengan pengalaman-pengalaman yang melampaui akal dengan Allah.
Pada sekitar usia 30 tahun, Julian menerima 16 “pertunjukan pertunjukan” atau penglihatan-penglihatan akan kasih Allah, yang ia renungkan selama 20 tahun sebelum menuliskannya dalam bukunya, The Revelations of Divine Love (Pengungkapan Kasih Ilahi). Allah menunjukkan kepadanya bahwa kasih-Nya dan kehendak ilahi-Nya bekerja dalam segala hal. Ia menulis:
Semua akan baik-baik saja, dan segalanya akan baik-baik saja, dan semua hal akan baik-baik saja.… Saya melihat yang tersembunyi di dalam Allah, sebuah misteri yang mulia dan menakjubkan, yang akan Ia jelaskan dan kita akan mengetahuinya di surga. Dalam pengetahuan ini, kita akan benar benar melihat alasan mengapa Ia membiarkan dosa datang, dan dalam perspektif ini kita seharusnya bersukacita selamanya.… Pengertian lainnya adalah ini: bahwa ada banyak perbuatan perbuatan yang dilakukan dengan begitu jahat dan menyebabkan kerusakan yang begitu besar sehingga bagi kita tampaknya tidak mungkin ada hasil baik yang bisa datang dari mereka… seperti malaikat malaikat yang diusir dari surga karena kesombongan… dan banyak… yang menjalani kehidupan-kehidupan non-Kristen dan meninggal diluar kasih Allah. Dan dengan semua ini, bagi saya tampaknya tidak mungkin bahwa setiap hal akan baik-baik saja, seperti yang Tuhan kita ungkapkan pada saat ini. Dan untuk ini saya tidak memiliki jawaban lain sebagai pengungkapan dari Tuhan kita selain ini: Apa yang tidak mungkin bagimu, mungkin bagi-Ku. Aku akan menepati janji-janji-Ku dalam segala hal, dan Aku akan membuat segala sesuatu baik-baik saja.
Mengasihi orang lain dalam nama Yesus adalah kerja keras yang lambat. Terkadang, buah muncul dengan perlahan - sangat perlahan. Tetapi kasih Allah, yang berjanji kepada kita “segala sesuatu akan baik-baik saja,” memberi kita kekuatan, makanan, dan perspektif jangka panjang yang kita perlukan untuk tetap setia.
Pertanyaan Refleksi
Allah berkata kepada Julian, “Semua akan baik-baik saja, dan segalanya akan baik-baik saja, dan semua hal akan baik-baik saja”. Dalam hubungan atau keadaan apakah dalam hidup anda sendiri yang anda paling butuh kan untuk menerima janji ini dari Allah?
Doa
Bapa, sejak awal waktu berjalan, Engkau tidak pernah berhenti meluapkan kasih-Mu kepada dunia. Dan Engkau terus memenuhi kita masing-masing kasih-Mu setiap hari. Tolong saya untuk secara mendalam menerima kasih-Mu hari ini, dan untuk mempercayai bahwa Engkau akan membuat segala hal baik-baik saja, dalam dunia ini dan dalam dunia yang akan datang. Tolong saya untuk memberikan kasih Mu kepada orang-orang disekitar saya hari ini. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 4: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Mazmur 46:2-7, 11a
2 Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. 3 Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; 4 sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. 5 Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai. 6 Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi. 7 Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang, Ia memperdengarkan suara-Nya, dan bumi pun hancur.…
11a “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!”
Renungan
Berdiam di tempat sunyi mungkin merupakan disiplin rohani yang paling menantang dan paling sedikit dipraktekkan di antara orang-orang Kristen saat ini. Kita tinggal dalam dunia yang penuh kebisingan dan gangguan gangguan. Sebagian besar dari kita takut akan kesunyian. Namun ketika kita melihat kehidupan Yesus, kita dapat melihat-Nya secara teratur mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa (Lukas 5:16). Kita menemukan tokoh-tokoh besar dalam Alkitab seperti Musa, Elia, dan Yohanes Pembaptis yang menghabiskan berpuluh-puluh tahun berada sendiri bersama Allah sebelum memulai pelayanan publik mereka. Dari manakah mereka mendapatkan kekuatan untuk mengasihi ketika dunia di sekitar mereka berantakan? Bagaimanakah mereka mampu mengasihi orang-orang yang menentang mereka dan tidak ingin mendengarkan, dan selama bertahun-tahun! Kita dapat yakin bahwa hal-hal ini lahir dan dipelihara dari hubungan yang mendalam dengan Allah yang mencakup waktu yang disengaja untuk mendengarkan dan berkomunikasi dalam ketenangan dan berdiam.
Menghabiskan waktu dalam berdiam dan tenang dengan Allah adalah penyeimbang yang penting dan berharga untuk kata-kata berlebihan dan kurang dipikirkan yang secara rutin dipaparkan kepada kita di dunia. Melangkah keluar dari kebisingan kehidupan melalui praktik berdiam sehari hari sebenarnya adalah tindakan yang radikal dan bersifat nabi. Kita juga dalam bahaya kehilangan hal ini. Penulis Gunilla Norris mengatakannya dengan baik:
Berdiam mengungkapkan. Berdiam menyembuhkan. Berdiam adalah tempat Allah tinggal. Kita rindu berada di sana.… [Namun] dalam budaya kita sekarang, berdiam adalah spesies yang terancam punah… sebuah tindakan dasar yang terancam. Kita sangat membutuhkannya.
Allah memberikan kita sebuah sumur air kehidupan yang tidak habis habisnya di dalam Yesus untuk mengasihi orang-orang sepanjang hidup kita. Tetapi, untuk minum dari sumur itu, kita harus belajar untuk membuat berdiam dan tenang sebagai disiplin rohani dasar dalam hidup kita.
Pertanyaan Refleksi
Bagaimanakah anda dapat membuat ruang tambahan dalam hidup anda untuk berdiam hari ini?
Doa
Tuhan, tolong saya untuk tenang dan menanti Engkau dengan sabar dalam berdiam hari ini. Saya mengetahui bahwa Engkau selalu hadir bersama saya dan bahwa Engkau senang menghabiskan waktu bersama saya. Dari saya berdiam dan beristirahat dalam kasih-Mu, saya meminta agar Engkau memampukan saya untuk melihat orang-orang di sekitar saya seperti Engkau melihat mereka - sebagai seseorang yang tidak dapat diulang dan berharga. Dalam nama Yesus, Amin.
Tutup dengan berdiam (2 menit)
Hari 5: Siang/Malam
Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)
Pembacaan Firman: Matius 13:31-32
31 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. 32 Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”
Renungan
Jalan dunia sangatlah besar dan cepat. Raja Herodes mendirikan gedung-gedung besar. Roma membangun kerajaan yang kuat. Athena membual tentang kepintarannya yang luar biasa. Sebaliknya, jalan Yesus lambat dan kecil. Sama seperti biji sesawi yang mulai dari sesuatu yang kecil, kerajaan Allah berakar dalam ruang hati manusia yang kecil, tetapi perlahan-lahan bertumbuh menjadi pohon kehidupan - yang terhubung dengan Allah dan orang lain untuk menutupi seluruh Bumi.
Yesus ingin kita tahu bahwa jika kita ingin menjadi dewasa sebagai pengikut-pengikut Kristus, kita perlu memahami kebenaran penting ini. Kita harus rela dan sabar untuk mengizinkan-Nya menumbuhkan kita secara perlahan.
Alan Kreider, seorang sejarawan gereja, mencatat bahwa salah satu alasan utama gereja bertumbuh dalam 300 tahun pertamanya - melalui penganiayaan, penindasan, dan kesulitan-kesulitan - adalah bahwa orang-orang Kristen berkomitmen untuk bersabar dan bertekun. Baik dalam urusan bisnis, moralitas seksual, menghargai perempuan dan anak-anak, merawat orang miskin, atau menolak untuk terlibat dalam kekerasan, mereka menciptakan “budaya kesabaran” yang mudah dimengerti. Faktanya, menurutnya, para bapa gereja mula-mula menulis lebih banyak tentang kebajikan kesabaran Kristen daripada tentang penginjilan.
Ia menulis: Allah, dalam merawat Israel selama berabad-abad, tidak pernah tergesa-gesa.… Orang-orang menolak dan membunuh Yesus, tetapi mereka tidak menggagalkan tujuan Allah. Misi Allah tidak terburu buru dan tidak dapat dihentikan. [Nyatanya,] “kesabaran adalah sifat yang sangat alami dari Allah.”… Kejatuhan Adam dan Hawa ditandai dengan ketidaksabaran manusia, yang merupakan “dosa asal di mata Allah”.… Kesabaran adalah tanda khas orang Kristen; hal ini memampukan orang-orang percaya untuk hidup “dalam jalan Kristus” di tengah tengah krisis-krisis kehidupan mereka.
Orang-orang yang melihat dari luar tertarik kepada gaya hidup gereja mula-mula yang tidak cemas dan tidak terpaksa. Banyak dari kita kesulitan untuk mengikuti sifat biji sesawi yang lambat dari cara Yesus bekerja, terutama jika ini berhubungan dengan pertumbuhan dan perubahan pribadi. Tetapi Ia berjanji bahwa jika kita tetap setia kepada-Nya, kita juga akan menemukan bahwa biji sesawi dari apa yang Allah kerjakan di dalam kita akan bertumbuh dengan luar biasa dan kuat. “Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya” (Revelation 11:15). Dan bahwa perubahan akan mencakup kita juga - jika kita dengan sabar bertekun bersama-Nya.
Pertanyaan Refleksi
Dalam satu area apakah dalam hidup anda dimana Allah sedang mengundang anda untuk dengan sabar mempercayai-Nya hari ini?
Doa
Masuklah, O Terangku, dan terangi kegelapanku; Masuklah, O Hidupku, dan hidupkan kembali kematianku; Masuklah, O Dokterku, dan sembuhkan luka-lukaku; Masuklah, O Api Ilahi, dan bakarlah duri-duri dosaku; Nyalakan bagian dalam dan hatiku dengan nyala kasih-Mu; Masuklah, O Rajaku, dan hancurkan di dalamku kerajaan dosa; Duduklah di takhta hatiku dan berkuasalah di dalam diriku sendiri, O Engkau, Raja dan Tuhanku.
-Dimitri dari Rostov, uskup Rusia dari abad ke-17
Tutup dengan berdiam (2 menit)