top of page
EHR Day by Day

Emotionally Healthy Relationships

Day by Day - (Devotional)

Dalam kehidupan jemaat, relasi yang sehat bukan hanya soal komunikasi yang baik, tetapi juga cerminan kedewasaan rohani kita di dalam Kristus. Banyak orang beriman yang rajin melayani, berdoa, dan membaca Firman, tetapi masih bergumul dengan luka, konflik, atau pola hubungan yang tidak sehat. Emotionally Healthy Relationships hadir untuk menolong kita mengalami pemulihan yang nyata—belajar mendengar dengan empati, berbicara dengan jujur tanpa melukai, dan membangun kedekatan yang lahir dari kasih Tuhan yang memerdekakan.

Sebagai gereja Generasi Apostolik, kita dipanggil bukan hanya untuk berakar dalam kebenaran Firman, tetapi juga untuk mewujudkannya dalam hubungan sehari-hari. Dengan mempraktikkan keterampilan rohani dan emosional yang diajarkan dalam Emotionally Healthy Relationships, setiap jemaat diperlengkapi untuk membangun keluarga, komunitas, dan pelayanan yang kokoh. Inilah jalan menuju pertumbuhan yang utuh—di mana kedewasaan rohani berjalan seiring dengan kedewasaan emosional, sehingga Kristus nyata melalui cara kita mengasihi satu sama lain.

Minggu 1

Mengukur Temperatur Komunitas Anda 

Salah satu tindakan kasih yang paling nyata dan memuliakan Allah di dalam hubungan-hubungan kita adalah berbicara dengan cara yang sehat dan mengasihi. Faktanya, sebagian dari mengapa Allah memberi kita karunia berkata-kata adalah untuk mengekspresikan diri kita dan untuk memelihara hubungan-hubungan yang memberi kehidupan. Namun demikian, hubungan-hubungan kita seringkali stagnasi atau menderita karena kita tidak yakin bagaimana cara memelihara hubungan dengan benar. 

 

Ketika kita memakai keahlian untuk Melakukan Pengukuran Komunitas Anda, kita dengan sengaja memakai kata-kata untuk mengekspresikan diri kita dan memelihara hubungan-hubungan dengan cara yang praktis, seperti menyampaikan apresiasi, membagi harapan dan impian, dan menyatakan keluhan secara dewasa. Inilah caranya bagaimana kita mengambil langkah-langkah pertama dalam mempersatukan/integrasi kasih yang bertumbuh bagi Allah dengan kasih yang semakin bertumbuh kepada sesama dan diri kita sendiri.

Berdiam, tenang dan memusatkan diri kepada Allah (2 menit)

 

Pembacaan Firman: Yohanes 15:4-5, 8-9, 12 

 

4 Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. 5 Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. 8 Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku. 9 Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. 12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. 

 

Renungan 

Mengasihi dengan baik adalah inti (esensi) dari kerohanian sejati. Hal ini membutuhkan pengalaman berhubungan dengan Allah, dengan sesama, dan dengan diri sendiri. Namun, hal ini dimulai dengan tanggapan kita terhadap undangan Allah untuk mempraktikkan hidup dalam hadirat-Nya dalam kehidupan sehari-hari kita. Kemudian, Allah mengundang kita untuk “mempraktikkan hadiratnya sesama” di dalam kesadaran akan hadirat-Nya. Tetapi belajar untuk mempraktikkan hadirat-Nya bukanlah tugas kecil. Mungkin tidak ada guru yang lebih hebat untuk memberi kita pewahyuan tentang cara mempraktikkan hadirat Allah selain Brother Lawrence, seorang biarawan Karmelit dari Paris yang kurang dikenal dari abad ke-16. Ia memutuskan untuk hidup dalam kesadaran terus menerus akan hadirat Allah, untuk tidak pernah melupakan-Nya setiap saat. Bahkan, ia menjelaskan bahwa doa memperkuat kesadaran akan hadirat Allah. Kata-kata ini dari Brother Lawrence telah melayani saya dengan baik selama bertahun-tahun, menolong saya untuk tetap berada di dalam Yesus ketika pikiran saya teralihkan. Waktu kesibukan… tidaklah berbeda dari waktu berdoa; dan dalam kebisingan dan keramaian di dapur, selagi beberapa orang memanggil saya untuk hal-hal yang berbeda pada saat yang sama, saya memiliki Allah di dalam saya sebagai ketenangan yang luar biasa, seolah-olah saya berlutut.… Apa yang saya buat sebagai kesibukan saya hanyalah untuk tetap di dalam hadirat-Nya yang suci… yang saya dapat sebut sebagai hadirat Allah yang sebenarnya; atau, untuk arti yang lebih baik, sebuah percakapan jiwa yang diam, rahasia, dan terbiasa dengan Allah. Yesus mengatakannya dengan sederhana: Jika kita tetap di dalam-Nya, mengizinkan diri kita untuk dipegang dalam pelukan-Nya, hidup Nya akan meluap dari kita kepada sesama. Jika kita memilih untuk tidak berada di dalam-Nya, kita hanya akan memiliki sedikit, jika memang ada, untuk diberikan kepada sesama. 

 

Pertanyaan Refleksi 

 

Kapankah anda dapat memberi waktu yang tidak terganggu setiap hari untuk mulai memperkuat kesadaran akan hadirat Allah? 

 

Doa 

 

Tuhan, mudah sekali bagi saya untuk menghabiskan keseharian saya tanpa mengingat atau berpikir tentang Engkau. Dan lebih mudah untuk saya untuk mengabaikan keindahan-Mu dalam orang-orang di sekitar saya. Ubahlah cara-cara berhubungan saya yang tidak sehat dan yang berakar sangat dalam di dalam saya. Bentuklah saya menjadi orang yang memberikan kelembutan dan kebaikan-Mu kepada mereka yang saya temui hari ini. Dalam nama Yesus, Amin.

 

Tutup dengan berdiam (2 menit)

Contact Us
Gereja Generasi Apostolik
The Kuningan Place
Jln. Kuningan Utama 
Menteng Atas, Setiabudi
Jakarta Selatan, 12960
Whatsapp     : 0815 8670 1146
Email             : Contact@apostolicgeneration.org
Connect with us
  • Instagram
  • Spotify
  • Facebook
  • YouTube
bottom of page