top of page

Berhenti Membaca Pikiran Orang Lain” (Stop Mind Reading) dan “Memperjelas Ekspektasi” (Clarify Expectations).

Aug 30
2 min read

Updated: 3 days ago

Dua Keterampilan Praktis untuk Membangun Hubungan yang Lebih Sehat.



Video ini memperkenalkan dua keterampilan praktis bagi orang Kristen untuk memperbaiki hubungan dan menghilangkan asumsi, yaitu “Berhenti Membaca Pikiran Orang Lain” (Stop Mind Reading) dan “Memperjelas Ekspektasi” (Clarify Expectations).

Kedua keterampilan ini berakar pada Hukum Kesembilan, yaitu:

“Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.”

Ketika kita membuat asumsi tanpa memeriksanya terlebih dahulu, kita sering kali menciptakan cerita yang sebenarnya tidak benar tentang orang lain.


1. Berhenti Membaca Pikiran Orang Lain (Stop Mind Reading)

Keterampilan ini mengajarkan kita untuk meminta izin dan mengonfirmasi asumsi yang kita miliki, daripada langsung menebak apa yang sedang dipikirkan atau dirasakan orang lain.

Prosesnya:

Pertama, sadari sebuah asumsi yang kita miliki tentang seseorang. Kemudian, kita dapat bertanya:

“Bolehkah saya mencoba membaca pikiran Anda?”

Lalu katakan:

“Saya berpikir bahwa Anda berpikir [sebutkan asumsi kita]. Apakah itu benar?”

Dengan cara ini, kita memberikan kesempatan kepada orang tersebut untuk mengonfirmasi atau mengoreksi apa yang kita pikirkan.


Tujuannya:Keterampilan ini membantu kita menghentikan kebiasaan menafsirkan pikiran, perasaan, atau niat orang lain secara negatif tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Kebiasaan tersebut sering kali menimbulkan konflik yang sebenarnya tidak perlu dan bahkan membuat kita terus memikirkannya hingga kehilangan ketenangan dan tidur.


2. Memperjelas Ekspektasi (Clarify Expectations)

Ekspektasi merupakan salah satu penyebab utama munculnya tekanan dan konflik dalam hubungan, baik di tempat kerja, gereja, maupun keluarga.

Ada empat masalah utama yang membuat ekspektasi dapat menjadi sumber konflik:

  1. Tidak disadari (Unconscious) – Kita memiliki ekspektasi tetapi tidak menyadari bahwa kita mengharapkannya.

  2. Tidak realistis (Unrealistic) – Ekspektasi tersebut tidak sesuai dengan kemampuan, keadaan, atau kenyataan yang ada.

  3. Tidak diungkapkan (Unspoken) – Kita berharap orang lain mengetahuinya, tetapi kita tidak pernah menyampaikannya.

  4. Tidak disepakati (Unagreed upon) – Kita menganggap orang lain setuju dengan ekspektasi kita, padahal belum pernah ada kesepakatan.

Agar sebuah ekspektasi dapat dianggap valid, ekspektasi tersebut harus memenuhi empat hal:

  • Conscious – Disadari: Kita mengetahui dan menyadari bahwa kita memiliki ekspektasi tersebut.

  • Realistic – Realistis: Ekspektasi tersebut didukung oleh kemampuan dan keadaan yang nyata.

  • Spoken – Disampaikan: Ekspektasi tersebut dikomunikasikan dengan jelas kepada orang lain.

  • Mutually Agreed – Disepakati bersama: Orang lain mengetahui ekspektasi tersebut dan memberikan persetujuan.

Dengan demikian, kita tidak dapat menganggap orang lain bertanggung jawab memenuhi sesuatu yang tidak pernah kita komunikasikan atau sepakati bersama.


Penerapan dalam Kehidupan

Memang ada beberapa hubungan atau peran yang memiliki ekspektasi tertentu secara otomatis, misalnya orang tua terhadap anak atau karyawan berdasarkan kontrak kerja.

Namun, dalam banyak hubungan lainnya, konflik dapat dikurangi dengan cara memperjelas ekspektasi sejak awal.


Keterampilan ini terutama dapat digunakan untuk menghadapi kekecewaan kecil dan menengah dalam kehidupan sehari-hari. Namun, untuk peristiwa besar dalam hidup, terkadang yang dibutuhkan bukan sekadar memperjelas ekspektasi, tetapi proses berduka (grieving) dan menerima kehilangan.


Jika seseorang tidak mampu memenuhi ekspektasi kita, kita perlu belajar untuk:

Berduka atas kehilangan ekspektasi tersebut, kemudian mengubah ekspektasi menjadi harapan.

Ekspektasi berkata:

“Kamu harus melakukan ini.”

Sedangkan harapan berkata:

“Saya berharap ini terjadi, tetapi saya menyerahkan hasilnya.”

Perubahan dari ekspektasi menjadi harapan membantu kita melepaskan kebutuhan untuk mengendalikan orang lain.


Bagaimana dengan Tuhan?

Dalam hubungan kita dengan Tuhan, kita juga perlu belajar menyerahkan keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu. Rencana Tuhan sering kali jauh melampaui apa yang dapat kita pahami. Karena itu, kita dipanggil untuk mempercayai Tuhan dan menyerahkan rencana pribadi kita kepada-Nya, sekalipun kita tidak selalu mengerti apa yang sedang Dia kerjakan.


 
 
 

Recent Posts

See All
Why We Need Emotionally Healthy Christians

Apakah Kehidupan Kita Sudah Utuh? Apa yang terlihat dalam kehidupan kita belum tentu menggambarkan seluruh kehidupan kita. Seperti sebuah gunung es, hanya sekitar 10% yang terlihat di permukaan, semen

 
 
 

Comments


Contact Us
Gereja Generasi Apostolik
The Kuningan Place
Jln. Kuningan Utama 
Menteng Atas, Setiabudi
Jakarta Selatan, 12960
Whatsapp     : 0815 8670 1146
Email             : Contact@apostolicgeneration.org
Connect with us
  • Instagram
  • Spotify
  • Facebook
  • YouTube
bottom of page